Bunga Rumpun Liar di Tanah yang Terlantar

22 Agustus 2008 at 2:43 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani, Cerita Hati) (, , , , , , , , , , )


Suatu sore, NASHA ku parkir tepat di depan pintu gerbang Gedung Agung.  Gedung yang berfungsi sebagai Wisma Negara dan tempat menerima tamu-tamu agung yang berkunjung ke Jogja ini, terletak tepat di depan benteng Vredenburgh dan  merupakan tempat mangkal favoriteku.

Di bawah beringin, aku duduk di bangku taman.  Ada keasyikan tersendiri duduk di bangku ini, memperhatikan lalu lalang pejalan kaki, atau kendaraan yang melintas dari arah Malioboro.  Terkadang, aku suka senyam-senyum sendiri melihat ulah kocak anak-anak jalanan yang juga biasa mangkal di “atas”.  Istilah “atas” ini, aku ketahui dari sahabat-sahabatku anak-anak jalanan basecamp Alun-alun Utara, untuk sekedar menyebut lokasi yang memang letaknya lebih tinggi dari Alun-alun Utara.

Pada waktu-waktu tertentu, memang sengaja NASHA aku parkir di tempat itu.  Maksudku, agar pesan yang terpampang dalam papan di atas bak NASHA, terbaca oleh banyak orang.  Sedikit advokasi sih, tapi itu juga sangat berkaitan erat dengan misiku: “Mensosialisasikan Gerakan Membangun Sinergitas untuk Petani Indonesia yang kusingkat Gema SuPI.  Dan, siapa tahu terbawa pulang para wisatawan yang datang dan kebetulan membacanya.  Syukur-syukur, jadi bahan renungan serta memberikan inspirasi padanya.

Pada salah satu sisi papan itu tertulis : BERSATU UNTUK KESEJAHTERAAN PETANI INDONESIA, dengan kombinasi warna merah dan putih, serta latar belakang desain grafis areal persawahan dan beberapa komoditas pertanian.  Di bawah tulisan itu, tertulis : Saatnya membangun sinergitas yang selaras untuk menjadikan kesejahteraan petani sebagai jembatan emas bagi terciptanya bangsa Indonesia yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur, dengan warna huruf hitam dan latar berwarna kuning.

Sedang pada sisi lainnya, terdapat tulisan: Terima Kasih Bapak & Ibu Tani, Atas Pengabdian Tanpa Henti Untuk NEGERI AGRARIS INDONESIA.

Pada bagian atap yang menutup bak, terdapat fotoku dengan pakaian hitam-hitam mengenakan caping dan desain grafis komoditas pertanian, tepat di bawah fotoku itu tertulis Kembara Tani.  Pada bagian tengah atap terdapat tulisan: “Disscusion Tour Jawa Dwipa”, lalu dibawah tulisan ini tertulis juga: Perjalanan Keliling Pulau Jawa, serta tulisan: Merasakan apa yang Petani Katakan dan Mengatakan Apa yang Petani Rasakan.  Pada bagian bawahnya, tertulis organisasiku dan nomor kontaknya.

Aku sering membiarkan orang-orang yang melewati NASHA berhenti dan membaca tulisan-tulisan itu.  Biasanya, mereka tungak-tengok kiri kanan, melongok ke dalam bak NASHA yang berisi ransel dan tas bajuku, buku-buku serta perlengkapan perjalanan lainnya.  Kemudian mengitari NASHA, lalu jongkok memperhatikan mesin dan struktur rangka NASHA yang memang tampak kokoh dan gagah.  Kadang kala aku menghampiri mereka sekedar untuk berbincang ringan tentang topik petani dan sektor pertanian.  Tapi, seringkali juga malah merembet ke hal-hal berat, keluar dari bingkai petani dan sektor pertanian itu sendiri. Baca entri selengkapnya »

Permalink 3 Komentar

3. Menanti si Kelik Kembali

22 Agustus 2008 at 2:39 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (, , , , , , , )

Bagian Kedua, Memahat Asa di Jantung Kota

3. Menanti si Kelik Kembali

Meskipun lebih dari separuh luas wilayah DIY digunakan untuk lahan pertanian, tapi kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hanya menduduki peringkat ketiga setelah sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa.  Kontribusi sektor pertanian pada tahun 2003 tercatat sebesar 3,12 Trilyun dari total nilai PDRB DIY sebesar 18,84 Trilyun atau sebesar 16,54 % nya.  Sementara sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa, masing-masing memberikan kontribusi yang lebih besar yakni, 19,31 % dan 17,47 % dari total PDRB DIY.

Bahkan, sektor perdagangan, hotel dan restoran yang pada tahun 1993 berada di bawah peringkat sektor pertanian, dalam waktu sepuluh tahun telah berhasil melejit meninggalkan sektor pertanian dan menduduki urutan pertama Struktur Ekonomi DIY.

Kondisi seperti itu tidak lepas dari upaya Pemprop. DIY yang mencoba mengukuhkan dan memperkuat image DIY sebagai Kota Pendidikan, Kota Budaya dan Kota Wisata.  Bahkan, brand image baru yang dicoba disandangnya, melesat melampaui batas negara, Jogja Never Ending Asia.  Upaya Jogja dalam menggambarkan dirinya sebagai Asia yang tak pernah berakhir, sangat mempengaruhi orientasi ekonomi yang cenderung berkembang ke sektor sekunder dan tersier.  Perkembangan industri yang makin meningkat, serta perkembangan sektor jasa-jasa serta pendidikan dan pariwisata, mendorong lebih tingginya pertumbuhan sektor-sektor ekonomi selain sektor pertanian.

Arah perkembangan ekonomi seperti itu, memiliki dampak yang cukup besar terhadap kemampuan penyerapan tenaga kerjanya.  Kemampuan sektor pertanian menyerap tenaga kerja, telah menurun sebesar 8,23 % dalam kurun waktu sepuluh tahun.  Dari 45,80 % pada tahun 1993 menjadi 37,57 % pada tahun 2003.  Sementara sektor lainnya, di luar sektor pertanian, justru menunjukan peningkatan kemampuan (kecuali sektor bangunan yang juga turun sebesar 0,24 %).  Bahkan, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, melambung lebih dari 4 kali lipatnya.  Dari semula 0,46 % di tahun 1993 menjadi 2,15 % pada tahun 2003.

Walau pun demikian, sektor pertanian masih tetap menjadi sektor utama dalam menyerap tenaga kerja saat ini.  Tapi yang memprihatinkan, faktor utama yang menjadi penyebabnya adalah relatif rendahnya keterampilan yang dibutuhkan sektor pertanian dibanding sektor lainnya.  Kecenderungan ini menyebabkan pekerja di sektor pertanian didominasi oleh pekerja tidak terampil dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah.

Namun di balik keprihatinan itu, secercah harapan masih terbentang luas.  Potensi lahan yang masih memungkinkan dikembangkannya sektor pertanian, menyediakan peluang penyerapan yang cukup besar.  Gunung Kidul dan Kulonprogo, memiliki wilayah pedesaan yang relatif luas serta kawasan perkotaan dengan konsentrasi pertanian.  Hanya saja, kedua kawasan itu cenderung makin lengang seiring beralihnya tenaga kerja ke sektor lainya di jantung-jantung kota. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

2. Anak Petani tidak boleh jadi Petani

22 Agustus 2008 at 2:34 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (, , , , , , , , )

Bagian Kedua, Memahat Asa di Jantung Kota

2. Anak Petani tidak boleh jadi Petani

SMA I Karangmojo, berdiri megah di tepi jalan Karangmojo – Semin Gunung Kidul.  Salah satu Kawah Cadradimukanya anak-anak petani itu, tampak senyap tatkala NASHA melaju perlahan memasuki pintu gerbangnya.  Seorang Satpam memandangku keheranan, membaca tulisan “Bersatu untuk Petani Indonesia” dengan kombinasi warna putih dan merah yang terpampang jelas di atas bak NASHA.  Sambil mengisi buku tamu, kubiarkan dirinya memeriksa kelengkapan surat-suratku.  Selembar surat dukungan yang ditandatangani Ketua MPR RI, DR. Hidayat Nur Wahid, MA dan Sekretariat DPR RI, dibolak balik serta dibacanya berulang-ulang.  Suratku yang ditujukan kepada Insan Peduli Petani Indonesia pun disimaknya dengan seksama.  Barangkali dibenaknya terlintas pertanyaan, ada apa gerangan orang berpakaian khas petani, baju lengan panjang hitam dan celana komprang hitam, datang ke sekolah yang dijaganya.

Tidak lama menunggu di ruang tamu, dua orang wanita menemuiku.  Mereka, Dra. Emi Gunarti, bagian Humas dan Fadmiyati, SPd, bagian Kesiswaan, sejenak menemaniku berbincang tentang sekolah tempatnya mengajar, tentang anak-anak petani dan kehidupan orangtuanya dan tentu saja tentang maksud dan tujuan perjalananku dan mengapa singgah di sekolahnya ini.  Dua Kartini muda yang tampak anggun dengan kerudung di kepalanya itu, kemudian pamit meninggalkanku.  Beberapa saat setelah itu, suara lembut terdengar di speaker sekolah.  ” Semua ketua kelas diharap berkumpul di Joglo setelah pelajaran usai.  Sekali lagi, pada saat istirahat, semua ketua kelas harap berkumpul di Joglo” tutur suara lembut itu menyeru.

Pada saat bel istirahat berbunyi, Fadmiyati mengantarku ke Joglo melewati siswa siswi yang tengah bergerombol.  Beberapa diantaranya mengolok ibu guru yang cantik ini.  “Begitulah Mas, mungkin karena saya di kesiswaan mereka jadi pada dekat.  Malah, banyak yang sering curhat ” jelasnya.  Aku pun tersenyum seraya berujar, kalau saja aku pun punya guru kesiswaan sepertinya, tentulah senang berbincang dan curhat padanya.  Kulihat ibu guru muda itu tersipu.  Rona merah menjalari wajahnya. Baca entri selengkapnya »

Permalink 3 Komentar

2. Kesejahteraan Berbatas Alam

22 Agustus 2008 at 2:08 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , )

Bagian Pertama, Merajut Benang Harapan

2. Kesejahteraan Berbatas Alam

Kondisi Fisiografis dan iklim DIY, menyebabkan lahan untuk pertanian yang diusahakan petani tidak merata di masing-masing kabupaten dan kotanya.  Bahkan, variasi usahatani ini terkesan memiliki perbedaan yang mencolok.  Gunung Kidul dengan Sleman misalnya.  Dua kabupaten yang berbatasan ini memiliki dominasi komoditas yang berbeda, khususnya untuk padi dan palawija.

Dengan kondisi lahan kering yang mencapai 45,29 % dari luas lahannya, produksi areal pertanian Gunung Kidul (2004), didominasi oleh komoditas Ubi kayu (699.290,45 ton), Jagung (146.532,14 ton), Padi Gogo (131.769,63 ton), Padi Sawah (51.033,11 ton), Kacang tanah (47.081,97 ton) dan Kedelai (25.460,84 ton).  Sementara itu, Sleman memiliki iklim dan kondisi tanah yang sangat baik untuk pertanian lahan basah.  Kesuburan tanahnya memungkinkan tanaman tumbuh dengan sempurna.  Dengan kondisi demikian produksi areal pertanian (2004), didominasi oleh komoditas Padi Sawah (252.518 ton), buah-buahan (121.603 ton), Sayuran (29.004,9 ton), Ubi kayu (28.200 ton) dan Jagung (22.564 ton).

Gunung Kidul dengan luas wilayah 148.536 hektar atau 45,68 % luas wilayah DIY dengan garis pantai sepanjang 70 km, hanya memiliki sawah seluas 5,20 % dari luas wilayahnya.  Sedangkan Sleman dengan luas wilayah 57.482 hektar atau 18 % luas wilayah DIY, memiliki areal pesawahan seluas 40,64 % dari luas wilayahnya.  Hampir separuh luas wilayah Gunung Kidul adalah lahan kering dan hampir separuh luas wilayah Sleman adalah areal pesawahan dengan irigasi yang cukup.

Sementara itu, Bantul dan Kulon Progo memiliki perpaduan dari perbedaan kedua wilayah kabupaten itu. Baca entri selengkapnya »

Permalink 2 Komentar

1. Semburat Warna Coklat

22 Agustus 2008 at 2:04 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (, , , , , )

Bagian Pertama, Merajut Benang Harapan

1. Semburat Warna Coklat

Udara panas dan kering menerpaku tatkala memasuki pintu gerbang Wonosari, Ibu Kota Kabupaten Gunung Kidul.  Semburat warna coklat lebih mendominasi lahan-lahan pertanian yang kulewati.  Sisa tanaman jagung dan ranting yang kering, jerami mati mencuat dari tanah yang retak, dan gunung berbatu hitam keabu-abuan, hampir selalu kutemui di sisi kiri dan kanan jalan.  Semburat warna coklat di akhir musim kemarau, menemani pengembaraanku di kabupaten yang memiliki luas hampir separuh luas propinsinya itu.

Setidaknya, itulah kesan yang kutangkap dalam rute perjalanan yang ku tempuh. Rute Pertama membelah wilayah, dari Jogja (brandname baru yang dipakai untuk menyebut Yogyakarta) menuju Wonosari melalui Pathuk dan berakhir di Desa Dadapayu Semanu.  Rute kedua melingkari wilayah, kembali ke arah Pathuk dan berbelok dari Desa Bunder ke arah Gedangsari, lalu berturut-turut singgah di Nglipar, Ngawen, Semin, Karangmojo, Ponjong, dan Rongkop.  Kemudian menyusuri pesisir selatan menuju Tepus, melalui Pantai Sundak, Krakal, Kukup dan Baron, menuju Saptosari dan berakhir di Panggang, kemudian masuk ke Bantul melalui Imogiri.

Kesan itu semakin kental terasa tatkala memasuki Pegunungan Sewu di Selatan.  Jalan berbelok tajam penuh dengan tanjakan terjal dan turunan menukik.  NASHA meluncur membelah jalan aspal hitam terbakar panas terik matahari.  Tanah yang retak telanjang menengadah mengharap hujan.  Semak kering di tepi-tepi tebing, membalut batu hitam keabuan.  Hijau berkelompok, tersebar dan tampak malu-malu ditengah dominasi semburat coklat, merah, hitam dan debu yang bertebaran. Pegunungan seluas 1.656,25 km2 dengan ketinggian 150 – 700 m dpl dan kemiringan antara 15 % sampai 40 % itu, menutup sepertiga luas wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).  Pegunungan Sewu tampak berbaring lesu dan kehausan dalam kelengangan udara panas akhir musim kemarau.

Semburat warna coklat, sempat tergantikan gradasi warna ijo royo-royo yang menyejukkan tatkala memasuki Ponjong.  Di wilayah kecamatan yang memiliki kombinasi tipe tanah grumosol hitam, litosol, kompleks litosol dan mediteran merah itu terhampar luas areal persawahan di sisi kiri dan kanan jalan.  Tanaman Jagung tampak tegak memagari petakan-petakan kecil tanaman padi.  Gemericik air di saluran pembagi, mengiringi tingkah beberapa petani yang hilir mudik mengawal aliran air ke sawahnya.  Kadang terdengar teriakan atau tepukan tangan, sebagai tanda peringatan agar jangan ada yang mengambil atau membelokan air yang menjadi jatahnya.  Angin semilir menggerakan ranting dan daun, mengalunkan musik alam yang mengundang kantuk. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.