1. Dari Candi ke seberang Negeri
22 Agustus 2008 at 2:40 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (Batu Alam, Catatan Perjalanan, Kerajinan Batu Hias, Ornamen, Semin, Yogyakarta)
Bagian Ketiga, Mutiara yang Terpendam
1. Dari Candi ke seberang Negeri
Di jalan Semin Karangmojo, NASHA melaju perlahan dan berhenti tepat di bawah pohon mangga yang tengah berbuah lebat di halaman sebuah rumah. Relief dedaunan lengkap dengan batangnya, tampak indah tertempel di dinding depan rumah itu. Dinding samping pintu, dihiasi dengan relief batang-batang kecil dengan dedaunannya. Kesan tiga dimensi sangat kental terasa pada kedua relief itu. Sementara permukaan dinding lainnya dipenuhi batu ornamen berwarna putih kecoklatan dengan motif cacah. Alami, asri, megah dan mewah, adalah kesan spontan yang melintas dalam benakku.
Di samping kanan rumah itu, berdiri sebuah bangunan pada bagian permukaan tanah yang lebih tinggi. Bangunan ini menaungi beragam hiasan ukiran dengan motif yang lembut, khas kelembutan seorang wanita. Beberapa pot berukur sedang yang sekelilingnya berukir motif daun, anyaman dan sulur-sulur yang menjalar, berpadu dengan lampion-lampion dengan atap kerucut dan dindingnya berlubang membentuk belah ketupat, tampak megah dan mewah. Ornamen dengan beragam motif daun dan bunga yang lembut, berjejer diantara tiang-tiang bulat dan kokoh yang juga berukir di sekelilingnya. Relief naga, rerimbunan daun, sampai kaligrafi, bersandar di dinding bangunan itu. Semua berbahan batu berwarna putih dan coklat muda. Aku menduga, bangunan ini adalah sebuah show room, lebih tepatnya gallery terbuka bagi hasil-hasil karya para pengrajin setempat.
Sementara di sebelah kiri rumah itu, sebuah bangunan beratap rumbia menempel dan terletak pada hamparan tanah yang lebih rendah. Di bagian belakang bangunan ini, terletak sebuah mesin dengan piringan besi bundar bergerigi. Bertenger dengan kokohnya di atas dipan kayu berongga yang juga kokoh. Serbuk dan bongkahan kecil batu berwarna putih bercampur coklat muda terhampar di bawahnya, sebagian teronggok di bagian depan. Beberapa alat pahat dan ukiran dari besi, berserak di atas meja-meja kayu. Kertas karton tebal dengan lubang yang mengikuti gambar motif bunga, daun dan banyak motif lainnya, tergantung pada paku di tiang-tiang penyangga bangunan itu. Bongkahan batu-batu besar yang juga berwarna putih dan coklat muda, tampak berserakan di depan bangunan itu. Lagi-lagi aku menduga, bangunan ini tentunya adalah bengkel ukir tempat para pengrajin itu menghasilkan karya-karyanya.
Kembali ke Gallery terbuka tadi, di dinding bagian atasnya tertera sebuah tulisan UM. BATU ALAM SEJATI. Belakangan kuketahui arti UM itu adalah Usaha Mandiri. Sebuah usaha produksi kerajinan berbahan batu alam yang dikelola oleh calon ibu muda bernama Martia Ratna Pratiwi. Bersama suaminya yang juga masih muda, Jarwanto, ibu muda yang tengah hamil 5 bulan itu, menemaniku berbincang seputar perusahaan yang diwariskan ayahnya. Baca entri selengkapnya »
2. Anak Petani tidak boleh jadi Petani
22 Agustus 2008 at 2:34 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (Generasi Muda, Gersang, Kurang air, Lahan Kering, Pertanian, Semin, SMA 1 Karangmojo, Tandus, Yogyakarta)
Bagian Kedua, Memahat Asa di Jantung Kota
2. Anak Petani tidak boleh jadi Petani
SMA I Karangmojo, berdiri megah di tepi jalan Karangmojo – Semin Gunung Kidul. Salah satu Kawah Cadradimukanya anak-anak petani itu, tampak senyap tatkala NASHA melaju perlahan memasuki pintu gerbangnya. Seorang Satpam memandangku keheranan, membaca tulisan “Bersatu untuk Petani Indonesia” dengan kombinasi warna putih dan merah yang terpampang jelas di atas bak NASHA. Sambil mengisi buku tamu, kubiarkan dirinya memeriksa kelengkapan surat-suratku. Selembar surat dukungan yang ditandatangani Ketua MPR RI, DR. Hidayat Nur Wahid, MA dan Sekretariat DPR RI, dibolak balik serta dibacanya berulang-ulang. Suratku yang ditujukan kepada Insan Peduli Petani Indonesia pun disimaknya dengan seksama. Barangkali dibenaknya terlintas pertanyaan, ada apa gerangan orang berpakaian khas petani, baju lengan panjang hitam dan celana komprang hitam, datang ke sekolah yang dijaganya.
Tidak lama menunggu di ruang tamu, dua orang wanita menemuiku. Mereka, Dra. Emi Gunarti, bagian Humas dan Fadmiyati, SPd, bagian Kesiswaan, sejenak menemaniku berbincang tentang sekolah tempatnya mengajar, tentang anak-anak petani dan kehidupan orangtuanya dan tentu saja tentang maksud dan tujuan perjalananku dan mengapa singgah di sekolahnya ini. Dua Kartini muda yang tampak anggun dengan kerudung di kepalanya itu, kemudian pamit meninggalkanku. Beberapa saat setelah itu, suara lembut terdengar di speaker sekolah. ” Semua ketua kelas diharap berkumpul di Joglo setelah pelajaran usai. Sekali lagi, pada saat istirahat, semua ketua kelas harap berkumpul di Joglo” tutur suara lembut itu menyeru.
Pada saat bel istirahat berbunyi, Fadmiyati mengantarku ke Joglo melewati siswa siswi yang tengah bergerombol. Beberapa diantaranya mengolok ibu guru yang cantik ini. “Begitulah Mas, mungkin karena saya di kesiswaan mereka jadi pada dekat. Malah, banyak yang sering curhat ” jelasnya. Aku pun tersenyum seraya berujar, kalau saja aku pun punya guru kesiswaan sepertinya, tentulah senang berbincang dan curhat padanya. Kulihat ibu guru muda itu tersipu. Rona merah menjalari wajahnya. Baca entri selengkapnya »


