2. Peluang untuk Kembali
22 Agustus 2008 at 2:42 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (ekspor, kerajinan batu alam, Pertanian lahan kering, Petani, Yogyakarta)
Bagian Ketiga, Mutiara yang Terpendam
2. Peluang untuk Kembali
Apa yang diungkapkan Ratna dan Juwarno, perihal peluang batu putih sebagai penarik para pemuda tani untuk kembali ke desanya, benar-benar terjadi pada Hari Haryono, pemuda asal Desa Ngijo, Semin Gunung Kidul. Selama 3 tahun, Hari menghabiskan waktunya untuk memahat harapan di Jantung Kota, menjadi buruh serabutan di Kawasan Berikat Nusantara. Pernah pula menjadi security di pusat perbelanjaan Blok M, Jakarta. Belakangan, Hari memilih untuk kembali ke desanya. Alasannya, walau pun di Jakarta pendapatan Hari lumayan besar, tapi biaya hidup yang tinggi menyebabkan sisa penghasilannya tetap menjadi kecil. “Kalau dihitung-hitung, penghasilan di sini malah lebih besar Mas. Saya mendapat upah Rp 25.000 per hari dan dengan biaya hidup di sini, itu cukupan untuk saya dan istri” jelas manten baru ini mantap.
Hari dipercaya Sihanto, pemilik pabrik pembuat batu tempel Paras Jogja Putih, untuk menjalankan usahanya dan mengawasi pekerja-pekerja lainnya. Pengalamannya dengan urusan batu putih ini terbilang sudah cukup lama. Selama 3 tahun ia menggeluti industri pemotongan batu dan 2 tahun menjadi pengrajin batu ukir. Saat ini, Hari mengkhususkan diri untuk memproduksi batu tempel polos sebagai penghias dinding dengan beragam ukuran, mulai dari ukuran 10 cm x 20 cm sampai 60 cm x 60 cm. Pekerja di pabriknya berjumlah 7 orang dengan upah berkisar antara Rp 15.000 sampai Rp 25.000 per hari tergantung spesialisasinya.
Pengguna produknya sebagian besar adalah para suplyer bahan bangunan dan para developer yang mengerjakan proyek-proyek perumahan atau perkantoran. Meski demikian, banyak pula pengguna langsung yang membeli produknya itu untuk membangun atau merenovasi rumahnya sendiri. Selama ini, pasar produknya sebagaian besar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hasil akhir produknya itu dilemparnya ke Jakarta, Surabaya, Bali dan Jogja sendiri. “Pernah sih ekspor, tapi tidak dapat memenuhi. Waktu itu ada permintaan sebanyak 400 m2 per minggu, tapi karena keterbatasan pekerja, saya tidak dapat memenuhi permintaan itu. Baru 9 kontainer terus bubar” ujarnya menyesalkan. Baca entri selengkapnya »
3. Menanti si Kelik Kembali
22 Agustus 2008 at 2:39 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (Gunung Kidul, KTNA, Pertanian, Pertanian lahan kering, Petani, Tandus, Urbanisasi, Yogyakarta)
Bagian Kedua, Memahat Asa di Jantung Kota
3. Menanti si Kelik Kembali
Meskipun lebih dari separuh luas wilayah DIY digunakan untuk lahan pertanian, tapi kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hanya menduduki peringkat ketiga setelah sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa. Kontribusi sektor pertanian pada tahun 2003 tercatat sebesar 3,12 Trilyun dari total nilai PDRB DIY sebesar 18,84 Trilyun atau sebesar 16,54 % nya. Sementara sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa, masing-masing memberikan kontribusi yang lebih besar yakni, 19,31 % dan 17,47 % dari total PDRB DIY.
Bahkan, sektor perdagangan, hotel dan restoran yang pada tahun 1993 berada di bawah peringkat sektor pertanian, dalam waktu sepuluh tahun telah berhasil melejit meninggalkan sektor pertanian dan menduduki urutan pertama Struktur Ekonomi DIY.
Kondisi seperti itu tidak lepas dari upaya Pemprop. DIY yang mencoba mengukuhkan dan memperkuat image DIY sebagai Kota Pendidikan, Kota Budaya dan Kota Wisata. Bahkan, brand image baru yang dicoba disandangnya, melesat melampaui batas negara, Jogja Never Ending Asia. Upaya Jogja dalam menggambarkan dirinya sebagai Asia yang tak pernah berakhir, sangat mempengaruhi orientasi ekonomi yang cenderung berkembang ke sektor sekunder dan tersier. Perkembangan industri yang makin meningkat, serta perkembangan sektor jasa-jasa serta pendidikan dan pariwisata, mendorong lebih tingginya pertumbuhan sektor-sektor ekonomi selain sektor pertanian.
Arah perkembangan ekonomi seperti itu, memiliki dampak yang cukup besar terhadap kemampuan penyerapan tenaga kerjanya. Kemampuan sektor pertanian menyerap tenaga kerja, telah menurun sebesar 8,23 % dalam kurun waktu sepuluh tahun. Dari 45,80 % pada tahun 1993 menjadi 37,57 % pada tahun 2003. Sementara sektor lainnya, di luar sektor pertanian, justru menunjukan peningkatan kemampuan (kecuali sektor bangunan yang juga turun sebesar 0,24 %). Bahkan, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, melambung lebih dari 4 kali lipatnya. Dari semula 0,46 % di tahun 1993 menjadi 2,15 % pada tahun 2003.
Walau pun demikian, sektor pertanian masih tetap menjadi sektor utama dalam menyerap tenaga kerja saat ini. Tapi yang memprihatinkan, faktor utama yang menjadi penyebabnya adalah relatif rendahnya keterampilan yang dibutuhkan sektor pertanian dibanding sektor lainnya. Kecenderungan ini menyebabkan pekerja di sektor pertanian didominasi oleh pekerja tidak terampil dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah.
Namun di balik keprihatinan itu, secercah harapan masih terbentang luas. Potensi lahan yang masih memungkinkan dikembangkannya sektor pertanian, menyediakan peluang penyerapan yang cukup besar. Gunung Kidul dan Kulonprogo, memiliki wilayah pedesaan yang relatif luas serta kawasan perkotaan dengan konsentrasi pertanian. Hanya saja, kedua kawasan itu cenderung makin lengang seiring beralihnya tenaga kerja ke sektor lainya di jantung-jantung kota. Baca entri selengkapnya »
1. Semburat Warna Coklat
22 Agustus 2008 at 2:04 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (Gunung Kidul, Lahan Kering, Pertanian lahan kering, Petani, Tandus, Yogyakarta)
Bagian Pertama, Merajut Benang Harapan
1. Semburat Warna Coklat
Udara panas dan kering menerpaku tatkala memasuki pintu gerbang Wonosari, Ibu Kota Kabupaten Gunung Kidul. Semburat warna coklat lebih mendominasi lahan-lahan pertanian yang kulewati. Sisa tanaman jagung dan ranting yang kering, jerami mati mencuat dari tanah yang retak, dan gunung berbatu hitam keabu-abuan, hampir selalu kutemui di sisi kiri dan kanan jalan. Semburat warna coklat di akhir musim kemarau, menemani pengembaraanku di kabupaten yang memiliki luas hampir separuh luas propinsinya itu.
Setidaknya, itulah kesan yang kutangkap dalam rute perjalanan yang ku tempuh. Rute Pertama membelah wilayah, dari Jogja (brandname baru yang dipakai untuk menyebut Yogyakarta) menuju Wonosari melalui Pathuk dan berakhir di Desa Dadapayu Semanu. Rute kedua melingkari wilayah, kembali ke arah Pathuk dan berbelok dari Desa Bunder ke arah Gedangsari, lalu berturut-turut singgah di Nglipar, Ngawen, Semin, Karangmojo, Ponjong, dan Rongkop. Kemudian menyusuri pesisir selatan menuju Tepus, melalui Pantai Sundak, Krakal, Kukup dan Baron, menuju Saptosari dan berakhir di Panggang, kemudian masuk ke Bantul melalui Imogiri.
Kesan itu semakin kental terasa tatkala memasuki Pegunungan Sewu di Selatan. Jalan berbelok tajam penuh dengan tanjakan terjal dan turunan menukik. NASHA meluncur membelah jalan aspal hitam terbakar panas terik matahari. Tanah yang retak telanjang menengadah mengharap hujan. Semak kering di tepi-tepi tebing, membalut batu hitam keabuan. Hijau berkelompok, tersebar dan tampak malu-malu ditengah dominasi semburat coklat, merah, hitam dan debu yang bertebaran. Pegunungan seluas 1.656,25 km2 dengan ketinggian 150 – 700 m dpl dan kemiringan antara 15 % sampai 40 % itu, menutup sepertiga luas wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pegunungan Sewu tampak berbaring lesu dan kehausan dalam kelengangan udara panas akhir musim kemarau.
Semburat warna coklat, sempat tergantikan gradasi warna ijo royo-royo yang menyejukkan tatkala memasuki Ponjong. Di wilayah kecamatan yang memiliki kombinasi tipe tanah grumosol hitam, litosol, kompleks litosol dan mediteran merah itu terhampar luas areal persawahan di sisi kiri dan kanan jalan. Tanaman Jagung tampak tegak memagari petakan-petakan kecil tanaman padi. Gemericik air di saluran pembagi, mengiringi tingkah beberapa petani yang hilir mudik mengawal aliran air ke sawahnya. Kadang terdengar teriakan atau tepukan tangan, sebagai tanda peringatan agar jangan ada yang mengambil atau membelokan air yang menjadi jatahnya. Angin semilir menggerakan ranting dan daun, mengalunkan musik alam yang mengundang kantuk. Baca entri selengkapnya »


