Perubahan Iklim dan Nasib Petani (3)
9 Mei 2011 at 11:16 am (Catatan Kembara Tani, Perubahan Iklim) (kembaratani, pemanasan global, Pertanian, perubahan iklim, Petani)
Kerentanan sektor pertanian terhadap bahaya kekeringan
Tingkat kerentanan lahan pertanian terhadap kekeringan cukup bervariasi antar-wilayah dan hal ini menunjukkan bahwa lahan sawah di beberapa wilayah di Sumatera dan Jawa rentan terhadap bahaya kekeringan (Tabel 3.1). Dari 5,14 juta ha lahan sawah yang dievaluasi, 74 ribu ha di antaranya sangat rentan dan sekitar satu juta ha rentan terhadap kekeringan (Wahyunto, 2005).
Dalam periode 1991-2006, luas tanaman padi yang dilanda kekeringan berkisar antara 28.580-867.930 ha per tahun dan puso 4.614-192.331 ha (Direktorat Perlindungan Tanaman, 2007). Kekeringan yang lebih luas terjadi pada tahun-tahun El Nino. Baca entri selengkapnya »
Perubahan Iklim dan Nasib Petani (2)
9 Mei 2011 at 11:07 am (Catatan Kembara Tani, Perubahan Iklim) (kembaratani, pemanasan global, Pertanian, perubahan iklim, Petani)
Sektor pertanian berperan penting dalam kehidupan dan perekonomian nasional, terutama sebagai penghasil utama bahan pangan, bahan baku industri dan bioenergi. Sektor pertanian juga mengasilkan jasa lingkungan dan berbagai fungsi lainnya seperti penyedia lapangan kerja bagi sekitar 40% angkatan kerja Indonesia, penyumbang pertumbuhan ekonomi, menjaga ketahanan pangan, memberikan kesegaran dan keindahan di pedesaan (rural amenity), dan menjaga tata air daerah aliran sungai (Yoshida, 2001; OECD, 2001; EOM dan KANG, 2001; Chen, 2001; Agus et al., 2006).
Multifungsi lahan sawah di DAS Citarum, Jawa Barat, diperkirakan bernilai 51% dari nilai gabah yang dihasilkan di DAS tersebut (Agus et al., 2003). Perubahan iklim dapat mempengaruhi sektor pertanian, baik sebagai penghasil barang yang dapat dipasarkan maupun sebagai penghasil berbagai jasa. (Bappenas, 2010)
Seanjutnya disebutkan, dalam lima tahun terakhir sektor pertanian berhasil meningkatkan produksi padi dari 54,1 juta ton GKG pada tahun 2004 menjadi 60,3 juta ton GKG pada 2008 atau meningkat rata-rata 2,8% per tahun, bahkan laju peningkatan produksi padi dalam tiga tahun terakhir (2006-2008) mencapai 5,2% per tahun. Kenaikan produksi ini menjadikan Indonesia kembali berswasembada beras pada tahun 2008.
Selain padi, produksi jagung dan kedelai juga mengalami peningkatan masing-masing sebesar 9,5% dan 3,14% per tahun (Ditjen Tanaman Pangan, 2009; Apryantono, et al. 2009). Namun tanaman pangan pada umumnya paling rentan terhadap hampir semua komponen perubahan iklim, sehingga upaya adaptasi sangat diperlukan. Baca entri selengkapnya »
Perubahan Iklim dan Nasib Petani (1)
9 Mei 2011 at 9:37 am (Catatan Kembara Tani, Perubahan Iklim) (kembaratani, pemanasan global, Pertanian, perubahan iklim, Petani)
Pemanasan Global telah nyata-nyata mempengaruhi ekosistem dunia. Naiknya suhu Bumi itu telah mengakibatkan mencairnya es di kutub, mendorong naiknya permukaan air laut dan menstimulir terjadinya perubahan iklim global. Hal tersebut mempengaruhi kehidupan populasi dunia dan cenderung menghancurkan hasil-hasil pembangunan yang telah dicapainya.
Oleh sebab itu pula, saat ini perubahan iklim telah menjadi isu kritis paling utama yang mendapat perhatian serius dari para pembuat kebijakan di seluruh dunia. Pada saat ekonomi dunia sedang dalam tahap pemulihan dan negara-negara berkembang sedang berupaya keras memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, dampak perubahan iklim telah ikut serta dalam memperburuk kondisi kehidupan masyarakat dunia. Termasuk, masyarakat tani di Indonesia.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah katulistiwa termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan pola curah hujan, kenaikan muka air laut, dan suhu udara, serta peningkatan kejadian iklim ekstrim berupa banjir dan kekeringan merupakan beberapa dampak serius perubahan iklim yang dihadapi Indonesia. Baca entri selengkapnya »
Perubahan Iklim dan Pewarisan Kemiskinan di Desa Hutan
30 April 2011 at 4:21 pm (Catatan Kembara Tani, Perubahan Iklim) (climate change, Desa Hutan, kembaratani, Kemiskinan, LMDH, pemanasan global, perubahan iklim)
Perubahan Iklim dan Kemiskinan
Rachmat Witoelar, Ketua Harian DNPI (Dewan Nasional Perubahan Iklim), menegaskan bahwa dampak negatif perubahan iklim semakin nyata dan terbukti telah menerpa di Indonesia. Bukti dan dampak negatif tersebut telah disampaikan melalui the Indonesia Country Report on Climate Variability and Climate Change yang disusun oleh para ahli dari berbagai sektor dan institusi terkait, yang berisi ulasan analitis mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia.
Bukti-bukti tersebut sesuai dengan hasil kajian secara global yang dilakukan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Menurutnya, dampak-dampak tersebut memiliki tantangan terhadap pembangunan dalam aspek lingkungan sosial dan ekonomi secara berkelanjutan, serta terhadap pencapaian tujuan pembangungan Indonesia.
Sementara itu, Håkan Björkman, Country Director UNDP Indonesia, mengatakan bahwa perubahan iklim mengacam usaha penanggulangan kemiskinan di Indonesia dan pencapaian Target Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals – MDGs). Perubahan pola curah hujan akan mengurangi ketersediaan air untuk irigasi dan sumber air bersih. Kemarau panjang dan banjir akan menyebabkan gagal panen yang sangat berpengaruh terhadap sumber penghidupan petani. Perubahan iklim akan paling mempengaruhi orang miskin dan kelompok rentan lainnya yang bekerja pada bidang-bidang pertanian, wilayah pesisir, sekitar hutan, serta wilayah perkotaan. Baca entri selengkapnya »
Bukan Al Gore, tapi Allah yang bilang Manusia Penyebab semua kerusakan ini.
25 Januari 2011 at 3:43 pm (Catatan Kembara Tani, Perubahan Iklim) (Al Gore, climate change, kembaratani, pemanasan global, perubahan iklim)
Catatan Kembaratani (2)
Masih ingat tentang “selimut” yang terus menumpuk, untuk menggambarkan pemanasan global di catatan pertama saya? Allah telah memberikan kita selimut yang cukup nyaman bagi seluruh mahluk-Nya di bumi ini. Tapi, kita memilih cara sendiri untuk membuat kita nyaman dengan beragam “selimut” atas nama kemajuan teknologi industri, kebutuhan pangan, papan, sandang, transportasi, dan kemudahan hidup lainnya yang selama ini kita anggap ‘kenyamanan’. Sepertinya, untuk membuat “selimut” kenyamanan ini, kita telah merasa lebih pandai dari Tuhan yang menciptakan diri kita sendiri. Baca entri selengkapnya »
Al Gore tengah ‘membaca’ ayat Al Qur’an
15 Januari 2011 at 3:52 pm (Catatan Kembara Tani, Perubahan Iklim) (Al Gore, climate change, Kembara Tani, pemanasan global, perubahan iklim)
“Kang, apa hasil latihan perubahan iklim dengan Al Gore? Crita dunk …” tanya seorang teman. Pertanyaam singkat dan sederhana, namun tidak mudah bagi saya untuk menjawabnya dengan singkat dan sederhana pula. Akan lebih mudah bagi saya untuk menyerahkan buku setebal hampir 450 halaman berjudul “Our Choice” yang ditulis Al Gore. Jika belum puas, masih bisa “melahap” “Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi”, buku setebal 350 halaman yang di tulis Pa Emil Salim. Atau, memperlihatkan 333 slide milik Al Gore dengan 27 video klip pendukungnya. Dan, membiarkannya “pusing” sendirian.
Bagi saya, kesimpulan dari Paparan Al Gore dan yang lainnya, telah menguatkan fakta kejadian dari satu ayat dalam Al Qur’an , “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS ar-Rum [30]: 41). Just it? Yup … bedanya, sekarang saya dapat menyebutkan lebih banyak contoh berdasarkan bukti dan fakta ilmiah. Penjelasan logika atas apa yang selama ini kita rasakan sedang menimpa kita


