2. Anak Petani tidak boleh jadi Petani

22 Agustus 2008 at 2:34 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (, , , , , , , , )

Bagian Kedua, Memahat Asa di Jantung Kota

2. Anak Petani tidak boleh jadi Petani

SMA I Karangmojo, berdiri megah di tepi jalan Karangmojo – Semin Gunung Kidul.  Salah satu Kawah Cadradimukanya anak-anak petani itu, tampak senyap tatkala NASHA melaju perlahan memasuki pintu gerbangnya.  Seorang Satpam memandangku keheranan, membaca tulisan “Bersatu untuk Petani Indonesia” dengan kombinasi warna putih dan merah yang terpampang jelas di atas bak NASHA.  Sambil mengisi buku tamu, kubiarkan dirinya memeriksa kelengkapan surat-suratku.  Selembar surat dukungan yang ditandatangani Ketua MPR RI, DR. Hidayat Nur Wahid, MA dan Sekretariat DPR RI, dibolak balik serta dibacanya berulang-ulang.  Suratku yang ditujukan kepada Insan Peduli Petani Indonesia pun disimaknya dengan seksama.  Barangkali dibenaknya terlintas pertanyaan, ada apa gerangan orang berpakaian khas petani, baju lengan panjang hitam dan celana komprang hitam, datang ke sekolah yang dijaganya.

Tidak lama menunggu di ruang tamu, dua orang wanita menemuiku.  Mereka, Dra. Emi Gunarti, bagian Humas dan Fadmiyati, SPd, bagian Kesiswaan, sejenak menemaniku berbincang tentang sekolah tempatnya mengajar, tentang anak-anak petani dan kehidupan orangtuanya dan tentu saja tentang maksud dan tujuan perjalananku dan mengapa singgah di sekolahnya ini.  Dua Kartini muda yang tampak anggun dengan kerudung di kepalanya itu, kemudian pamit meninggalkanku.  Beberapa saat setelah itu, suara lembut terdengar di speaker sekolah.  ” Semua ketua kelas diharap berkumpul di Joglo setelah pelajaran usai.  Sekali lagi, pada saat istirahat, semua ketua kelas harap berkumpul di Joglo” tutur suara lembut itu menyeru.

Pada saat bel istirahat berbunyi, Fadmiyati mengantarku ke Joglo melewati siswa siswi yang tengah bergerombol.  Beberapa diantaranya mengolok ibu guru yang cantik ini.  “Begitulah Mas, mungkin karena saya di kesiswaan mereka jadi pada dekat.  Malah, banyak yang sering curhat ” jelasnya.  Aku pun tersenyum seraya berujar, kalau saja aku pun punya guru kesiswaan sepertinya, tentulah senang berbincang dan curhat padanya.  Kulihat ibu guru muda itu tersipu.  Rona merah menjalari wajahnya. Baca entri selengkapnya »

Permalink 3 Komentar

1. Memanen Tak Harus Menanam

22 Agustus 2008 at 2:26 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (, , , , , )

Bagian Kedua, Memahat Asa di Jantung Kota

1. Memanen Tak Harus Menanam

Dari kejauhan kulihat seorang lelaki tua dan renta mengayun cangkul di lahan kering Desa Nglindur, Rongkop Gunung Kidul.  Terkadang lelaki itu jongkok mencabuti rumput liar dan jerami kering.  Tangannya mengais tanah, mengumpulkan akar dan sisa tanaman yang berserakan.  Tidak jauh darinya, seorang perempuan paruh baya menyeret keranjang bambu yang berisi butiran putih mengkilat.  Diambilnya butiran itu lalu ditebarkannya di tanah yang selesai di cangkul.  Seringkali tubuh renta itu berhenti mengayunkan cangkul untuk menyeka peluh di wajahnya atau menarik nafas panjang, dan terkadang sebelah tangannya memegang pinggang.  Sementara perempuan separuh baya yang kini berada di belakangnya, seringkali berhenti menaburkan butiran putih di keranjang, menunggu dengan sabar lelaki tua itu menyelesaikan pekerjaannya.  Sambil menunggu, terkadang ia berjongkok untuk memecah bongkahan tanah di kiri dan kanannya.

Aktivitas mereka memaksaku menghentikan NASHA yang melaju perlahan.  Kakiku melangkah memilah jalan setapak agar tak tergelincir di tebing curam.  Tanah yang mereka garap, memang berada di bawah jalur jalan aspal hitam yang kulalui.  Dari kejauhan ku ucapkan salam pada mereka, tapi petani tua itu tetap asyik dengan irama ayunan cangkulnya.  Perempuan separuh baya yang tengah memecah bongkahan tanah di belakangnya menoleh ke arahku, lalu berdiri seraya menjawab salamku.  Sebelah tangannya menepuk pundak petani tua di depannya, memberitahukan kedatanganku.

Sejenak mereka ku ajak beristirahat, duduk di pematang di samping tumpukan batang pohon ubi kayu.  “Bapak saya pendengarannya sudah kurang Mas, wong sudah tua, maklum saja ya?” ujar perempuan itu menjelaskan.

Ga apa-apa to Mba ” ujarku tersenyum.  Kusodorkan sebungkus rokok ke arah petani tua yang duduk di depanku.  “Rokok dulu Mbah …” tawarku padanya.  Sebatang rokok diambilnya dan tidak berapa lama, asap putih mengepul dari sela bibirnya yang keriput.

Kowe iki sopo?” suara serak petani tua itu membuka perbincanganku dengannya. Kujelaskan diriku dan maksud kedatanganku padanya.  Petani tua itu mengangguk-anggukan kepalanya, sepertinya memahami ucapanku.  Tapi, keheranannya tetap tak beranjak dari raut wajahnya.  “Woalah, bapake ra mudeng Mas” ujar anaknya seraya menyodorkan secangkir air putih ke arahku.  Sejurus kemudian, dia menterjemahkan ucapanku tadi.  “Iki lho pak, mase iki kembara tani sing nemoni petani-petani, nganggo montor iku lho” jelasnya seraya menunjuk ke arah NASHA yang ku parkir di pinggir jalan.

Kali ini, giliranku yang mengangguk-anggukan kepala sembari senyam-senyum seolah mengerti penjelasan panjang lebar anaknya itu.  Rofiq, warga Gunung Kidul yang mengikuti perjalananku, paham kalau aku tak memahami percakapan anak dan bapak itu.  Lalu berinisiatif menterjemahkannya untukku.  Seperti dikomando, sadar bahwa masing-masing seperti memiliki penterjemah pribadi, kami pun tertawa bersama. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

1. Semburat Warna Coklat

22 Agustus 2008 at 2:04 am (Ada Petani di Malioboro, Catatan Kembara Tani) (, , , , , )

Bagian Pertama, Merajut Benang Harapan

1. Semburat Warna Coklat

Udara panas dan kering menerpaku tatkala memasuki pintu gerbang Wonosari, Ibu Kota Kabupaten Gunung Kidul.  Semburat warna coklat lebih mendominasi lahan-lahan pertanian yang kulewati.  Sisa tanaman jagung dan ranting yang kering, jerami mati mencuat dari tanah yang retak, dan gunung berbatu hitam keabu-abuan, hampir selalu kutemui di sisi kiri dan kanan jalan.  Semburat warna coklat di akhir musim kemarau, menemani pengembaraanku di kabupaten yang memiliki luas hampir separuh luas propinsinya itu.

Setidaknya, itulah kesan yang kutangkap dalam rute perjalanan yang ku tempuh. Rute Pertama membelah wilayah, dari Jogja (brandname baru yang dipakai untuk menyebut Yogyakarta) menuju Wonosari melalui Pathuk dan berakhir di Desa Dadapayu Semanu.  Rute kedua melingkari wilayah, kembali ke arah Pathuk dan berbelok dari Desa Bunder ke arah Gedangsari, lalu berturut-turut singgah di Nglipar, Ngawen, Semin, Karangmojo, Ponjong, dan Rongkop.  Kemudian menyusuri pesisir selatan menuju Tepus, melalui Pantai Sundak, Krakal, Kukup dan Baron, menuju Saptosari dan berakhir di Panggang, kemudian masuk ke Bantul melalui Imogiri.

Kesan itu semakin kental terasa tatkala memasuki Pegunungan Sewu di Selatan.  Jalan berbelok tajam penuh dengan tanjakan terjal dan turunan menukik.  NASHA meluncur membelah jalan aspal hitam terbakar panas terik matahari.  Tanah yang retak telanjang menengadah mengharap hujan.  Semak kering di tepi-tepi tebing, membalut batu hitam keabuan.  Hijau berkelompok, tersebar dan tampak malu-malu ditengah dominasi semburat coklat, merah, hitam dan debu yang bertebaran. Pegunungan seluas 1.656,25 km2 dengan ketinggian 150 – 700 m dpl dan kemiringan antara 15 % sampai 40 % itu, menutup sepertiga luas wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).  Pegunungan Sewu tampak berbaring lesu dan kehausan dalam kelengangan udara panas akhir musim kemarau.

Semburat warna coklat, sempat tergantikan gradasi warna ijo royo-royo yang menyejukkan tatkala memasuki Ponjong.  Di wilayah kecamatan yang memiliki kombinasi tipe tanah grumosol hitam, litosol, kompleks litosol dan mediteran merah itu terhampar luas areal persawahan di sisi kiri dan kanan jalan.  Tanaman Jagung tampak tegak memagari petakan-petakan kecil tanaman padi.  Gemericik air di saluran pembagi, mengiringi tingkah beberapa petani yang hilir mudik mengawal aliran air ke sawahnya.  Kadang terdengar teriakan atau tepukan tangan, sebagai tanda peringatan agar jangan ada yang mengambil atau membelokan air yang menjadi jatahnya.  Angin semilir menggerakan ranting dan daun, mengalunkan musik alam yang mengundang kantuk. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.