MENYOAL VISI AGROPOLITAN KOTA BANJAR

14 Maret 2012 at 5:57 pm (Catatan Kembara Tani) (, , , , )

Semenjak Kota Banjar masih “dalam kandungan”, visi agropolitan ini sudah sering diperbincangkan dan menjadi salah satu hal yang disepakati oleh hampir seluruh komponen “Forum Pendiri” pada waktu itu.  Jujur saja, meski pun pada saat itu wujud Agropolitan seperti apa juga … “duka teuing” … :D .  Namun yang pasti, semua berharap dan berkeyakinan masyarakat tani Kota Banjar nantinya akan jauh lebih sejahtera dengan visi agropolitan tersebut.

Tidak dapat dipungkiri, Kota Banjar kini jauh lebih “cantik” dengan segala ornament kota dan prestasi yang mengiringinya. Duet kepemimpinan “Kang Dokter dan Mas Dim” telah dapat membuktikan bahwa Kota Banjar memang layak menjadi sebuah Kota.  Masalahnya, apakah Visi Agropolitan Kota Banjar yang dulu disepakati itu turut terwujud ? atau, hanya sekedar menjadi VISI Kota Banjar dengan realisasi yang juga masih “duka teuing” ? Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Perubahan Iklim dan Pewarisan Kemiskinan di Desa Hutan

30 April 2011 at 4:21 pm (Catatan Kembara Tani, Perubahan Iklim) (, , , , , , )

Perubahan Iklim dan Kemiskinan

Rachmat Witoelar, Ketua Harian DNPI (Dewan Nasional Perubahan Iklim), menegaskan bahwa dampak negatif perubahan iklim semakin nyata dan terbukti telah menerpa di Indonesia.  Bukti dan dampak negatif tersebut telah disampaikan melalui the Indonesia Country Report on Climate Variability and Climate Change yang disusun oleh para ahli dari berbagai sektor dan institusi terkait, yang berisi ulasan analitis mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia.

Bukti-bukti tersebut sesuai dengan hasil kajian secara global yang dilakukan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).  Menurutnya, dampak-dampak tersebut memiliki tantangan terhadap pembangunan dalam aspek lingkungan sosial dan ekonomi secara berkelanjutan, serta terhadap pencapaian tujuan pembangungan Indonesia.

Sementara itu, Håkan Björkman, Country Director UNDP Indonesia, mengatakan bahwa perubahan iklim mengacam usaha penanggulangan kemiskinan di Indonesia dan pencapaian Target Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals – MDGs). Perubahan pola curah hujan akan mengurangi ketersediaan air untuk irigasi dan sumber air bersih. Kemarau panjang dan banjir akan menyebabkan gagal panen yang sangat berpengaruh terhadap sumber penghidupan petani. Perubahan iklim akan paling mempengaruhi orang miskin dan kelompok rentan lainnya yang bekerja pada bidang-bidang pertanian, wilayah pesisir, sekitar hutan, serta wilayah perkotaan. Baca entri selengkapnya »

Permalink 2 Komentar

Durenan, Desa Hutan yang Tergadaikan

28 Agustus 2008 at 12:37 am (Cerita Hati) (, , , , , , , , )

Sukamto, TPM KPH Saradan, dalam forum Training of Trainer bagi TPM PHBM se Unit II Jawa Timur, berceritera tentang kondisi sebuah desa hutan yang membuat saya terhenyak.  Tampak jelas kepedulian dan keyakinan terpancar dalam ekspresi dan intonasi kata yang dituturkannya. Tidak sabar, saya pun ingin memastikan dan meyaksikan sendiri kebenaran ceritanya.  Bukan tidak percaya atas informasinya, tetapi lebih kepada keingintahuan atas kondisi yang digambarkannya, yakni sebuah desa hutan yang kaya sekaligus miskin pada saat bersamaan.

Sebenarnya, gambaran seperti itu merupakan gambaran nyata desa hutan pada umumnya.  Komunitas Desa hutan adalah komunitas yang kaya dengan sumberdaya alam yang berlimpah. Namun pada saat bersamaan juga komunitas yang sebagian besar termasuk kelompok miskin, karena ketidakmampuannya mengkonversi kekayaan tersebut menjadi sumber pendapatan yang layak.

Desa Durenan, Kec. Gemarang Kab. Madiun, berbeda dengan gambaran tersebut.  Komunitas desa (hutan) Durenan, miskin karena sumberdaya alam miliknya, berupa pohon buah-buahan, digadaikan pada para pemilik modal yang meminjamkan sejumlah uang kepada mereka.  Sistim gadai yang disepakati, mengharuskan mereka menyerahkan seluruh hasil panen pohon buah-buahannya kepada pemilik modal, selama pinjaman mereka belum dapat dilunasi.

Lingkaran ketidakberdayaan pun muncul tak berakhir. Masyarakat Durenan kehilangan sumber pendapatan dari pohon buah-buahan milik mereka, sehingga mereka tidak mampu mengembalikan pinjamannya,  Dan, karena tidak mampu mengembalikan pinjamannya itu, maka mereka harus tetap kehilangan sumber pendapatan dari pohon buah-buahan miliknya. Akibatnya, bertahun-tahun mereka terjebak dalam lingkaran ketidakberdayaan sebagai akibat sistim gadai yang mereka sepakati. Baca entri selengkapnya »

Permalink 3 Komentar

“Bicara dengan Data, Bertindak dengan Rencana”

28 Agustus 2008 at 12:26 am (Cerita Hati) (, , , , , )

Kekuatan Data dan Informasi

Ungkapan “siapa yang menguasai data dan informasi, maka dia akan menguasai dunia”, tentu pernah kita dengar.  Begitu pula dengan ungkapan “buku adalah jendela dunia”, sering pula kita dengar.  Sebenarnya, apa sih yang dimiliki buku sehingga diumpamakan sebagai jendela dunia? Artinya, seperti sebuah jendela, dengan buku itu kita dapat melihat tempat dan mengetahui apa pun di dunia tanpa harus datang mengunjunginya.

Jawabannya, karena buku memiliki banyak Data dan Informasi.  Lantas, kekuatan seperti apakah yang dimiliki Data dan Informasi, sampai-sampai diumpamakan bahwa yang menguasainya akan dapat menguasai dunia ?  Untuk menjawabnya,  saya akan mengajak anda untuk bertanya pada diri sendiri dengan serangkaian pertanyaan-pertanyaan.

Setelah anda mengikuti dan menyelesaikan langkah ketiga, anda mengetahui bahwa desa hutan memiliki potensi yang sangat besar, tapi mengapa selama ini mereka selalu berada dalam kondisi ketidakberdayaan ?  Mengapa potensi itu tidak dapat merubah kehidupan warganya ? Mengapa mereka mengalami “kesulitan hidup” ditengah “kelimpahan bahan untuk hidup” ?  Mengapa mereka miskin ditengah kekayaan alam ?  Jika pun mereka harus mati dalam keadaan miskin, mengapa pula mereka seperti ayam mati kelaparan di lumbung padi ? Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.