Bunga Rumpun Liar di Tanah yang Terlantar


Suatu sore, NASHA ku parkir tepat di depan pintu gerbang Gedung Agung.  Gedung yang berfungsi sebagai Wisma Negara dan tempat menerima tamu-tamu agung yang berkunjung ke Jogja ini, terletak tepat di depan benteng Vredenburgh dan  merupakan tempat mangkal favoriteku.

Di bawah beringin, aku duduk di bangku taman.  Ada keasyikan tersendiri duduk di bangku ini, memperhatikan lalu lalang pejalan kaki, atau kendaraan yang melintas dari arah Malioboro.  Terkadang, aku suka senyam-senyum sendiri melihat ulah kocak anak-anak jalanan yang juga biasa mangkal di “atas”.  Istilah “atas” ini, aku ketahui dari sahabat-sahabatku anak-anak jalanan basecamp Alun-alun Utara, untuk sekedar menyebut lokasi yang memang letaknya lebih tinggi dari Alun-alun Utara.

Pada waktu-waktu tertentu, memang sengaja NASHA aku parkir di tempat itu.  Maksudku, agar pesan yang terpampang dalam papan di atas bak NASHA, terbaca oleh banyak orang.  Sedikit advokasi sih, tapi itu juga sangat berkaitan erat dengan misiku: “Mensosialisasikan Gerakan Membangun Sinergitas untuk Petani Indonesia yang kusingkat Gema SuPI.  Dan, siapa tahu terbawa pulang para wisatawan yang datang dan kebetulan membacanya.  Syukur-syukur, jadi bahan renungan serta memberikan inspirasi padanya.

Pada salah satu sisi papan itu tertulis : BERSATU UNTUK KESEJAHTERAAN PETANI INDONESIA, dengan kombinasi warna merah dan putih, serta latar belakang desain grafis areal persawahan dan beberapa komoditas pertanian.  Di bawah tulisan itu, tertulis : Saatnya membangun sinergitas yang selaras untuk menjadikan kesejahteraan petani sebagai jembatan emas bagi terciptanya bangsa Indonesia yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur, dengan warna huruf hitam dan latar berwarna kuning.

Sedang pada sisi lainnya, terdapat tulisan: Terima Kasih Bapak & Ibu Tani, Atas Pengabdian Tanpa Henti Untuk NEGERI AGRARIS INDONESIA.

Pada bagian atap yang menutup bak, terdapat fotoku dengan pakaian hitam-hitam mengenakan caping dan desain grafis komoditas pertanian, tepat di bawah fotoku itu tertulis Kembara Tani.  Pada bagian tengah atap terdapat tulisan: “Disscusion Tour Jawa Dwipa”, lalu dibawah tulisan ini tertulis juga: Perjalanan Keliling Pulau Jawa, serta tulisan: Merasakan apa yang Petani Katakan dan Mengatakan Apa yang Petani Rasakan.  Pada bagian bawahnya, tertulis organisasiku dan nomor kontaknya.

Aku sering membiarkan orang-orang yang melewati NASHA berhenti dan membaca tulisan-tulisan itu.  Biasanya, mereka tungak-tengok kiri kanan, melongok ke dalam bak NASHA yang berisi ransel dan tas bajuku, buku-buku serta perlengkapan perjalanan lainnya.  Kemudian mengitari NASHA, lalu jongkok memperhatikan mesin dan struktur rangka NASHA yang memang tampak kokoh dan gagah.  Kadang kala aku menghampiri mereka sekedar untuk berbincang ringan tentang topik petani dan sektor pertanian.  Tapi, seringkali juga malah merembet ke hal-hal berat, keluar dari bingkai petani dan sektor pertanian itu sendiri. Baca entri selengkapnya »

3. Menanti si Kelik Kembali

Bagian Kedua, Memahat Asa di Jantung Kota

3. Menanti si Kelik Kembali

Meskipun lebih dari separuh luas wilayah DIY digunakan untuk lahan pertanian, tapi kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hanya menduduki peringkat ketiga setelah sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa.  Kontribusi sektor pertanian pada tahun 2003 tercatat sebesar 3,12 Trilyun dari total nilai PDRB DIY sebesar 18,84 Trilyun atau sebesar 16,54 % nya.  Sementara sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa, masing-masing memberikan kontribusi yang lebih besar yakni, 19,31 % dan 17,47 % dari total PDRB DIY.

Bahkan, sektor perdagangan, hotel dan restoran yang pada tahun 1993 berada di bawah peringkat sektor pertanian, dalam waktu sepuluh tahun telah berhasil melejit meninggalkan sektor pertanian dan menduduki urutan pertama Struktur Ekonomi DIY.

Kondisi seperti itu tidak lepas dari upaya Pemprop. DIY yang mencoba mengukuhkan dan memperkuat image DIY sebagai Kota Pendidikan, Kota Budaya dan Kota Wisata.  Bahkan, brand image baru yang dicoba disandangnya, melesat melampaui batas negara, Jogja Never Ending Asia.  Upaya Jogja dalam menggambarkan dirinya sebagai Asia yang tak pernah berakhir, sangat mempengaruhi orientasi ekonomi yang cenderung berkembang ke sektor sekunder dan tersier.  Perkembangan industri yang makin meningkat, serta perkembangan sektor jasa-jasa serta pendidikan dan pariwisata, mendorong lebih tingginya pertumbuhan sektor-sektor ekonomi selain sektor pertanian.

Arah perkembangan ekonomi seperti itu, memiliki dampak yang cukup besar terhadap kemampuan penyerapan tenaga kerjanya.  Kemampuan sektor pertanian menyerap tenaga kerja, telah menurun sebesar 8,23 % dalam kurun waktu sepuluh tahun.  Dari 45,80 % pada tahun 1993 menjadi 37,57 % pada tahun 2003.  Sementara sektor lainnya, di luar sektor pertanian, justru menunjukan peningkatan kemampuan (kecuali sektor bangunan yang juga turun sebesar 0,24 %).  Bahkan, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, melambung lebih dari 4 kali lipatnya.  Dari semula 0,46 % di tahun 1993 menjadi 2,15 % pada tahun 2003.

Walau pun demikian, sektor pertanian masih tetap menjadi sektor utama dalam menyerap tenaga kerja saat ini.  Tapi yang memprihatinkan, faktor utama yang menjadi penyebabnya adalah relatif rendahnya keterampilan yang dibutuhkan sektor pertanian dibanding sektor lainnya.  Kecenderungan ini menyebabkan pekerja di sektor pertanian didominasi oleh pekerja tidak terampil dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah.

Namun di balik keprihatinan itu, secercah harapan masih terbentang luas.  Potensi lahan yang masih memungkinkan dikembangkannya sektor pertanian, menyediakan peluang penyerapan yang cukup besar.  Gunung Kidul dan Kulonprogo, memiliki wilayah pedesaan yang relatif luas serta kawasan perkotaan dengan konsentrasi pertanian.  Hanya saja, kedua kawasan itu cenderung makin lengang seiring beralihnya tenaga kerja ke sektor lainya di jantung-jantung kota. Baca entri selengkapnya »

1. Memanen Tak Harus Menanam

Bagian Kedua, Memahat Asa di Jantung Kota

1. Memanen Tak Harus Menanam

Dari kejauhan kulihat seorang lelaki tua dan renta mengayun cangkul di lahan kering Desa Nglindur, Rongkop Gunung Kidul.  Terkadang lelaki itu jongkok mencabuti rumput liar dan jerami kering.  Tangannya mengais tanah, mengumpulkan akar dan sisa tanaman yang berserakan.  Tidak jauh darinya, seorang perempuan paruh baya menyeret keranjang bambu yang berisi butiran putih mengkilat.  Diambilnya butiran itu lalu ditebarkannya di tanah yang selesai di cangkul.  Seringkali tubuh renta itu berhenti mengayunkan cangkul untuk menyeka peluh di wajahnya atau menarik nafas panjang, dan terkadang sebelah tangannya memegang pinggang.  Sementara perempuan separuh baya yang kini berada di belakangnya, seringkali berhenti menaburkan butiran putih di keranjang, menunggu dengan sabar lelaki tua itu menyelesaikan pekerjaannya.  Sambil menunggu, terkadang ia berjongkok untuk memecah bongkahan tanah di kiri dan kanannya.

Aktivitas mereka memaksaku menghentikan NASHA yang melaju perlahan.  Kakiku melangkah memilah jalan setapak agar tak tergelincir di tebing curam.  Tanah yang mereka garap, memang berada di bawah jalur jalan aspal hitam yang kulalui.  Dari kejauhan ku ucapkan salam pada mereka, tapi petani tua itu tetap asyik dengan irama ayunan cangkulnya.  Perempuan separuh baya yang tengah memecah bongkahan tanah di belakangnya menoleh ke arahku, lalu berdiri seraya menjawab salamku.  Sebelah tangannya menepuk pundak petani tua di depannya, memberitahukan kedatanganku.

Sejenak mereka ku ajak beristirahat, duduk di pematang di samping tumpukan batang pohon ubi kayu.  “Bapak saya pendengarannya sudah kurang Mas, wong sudah tua, maklum saja ya?” ujar perempuan itu menjelaskan.

Ga apa-apa to Mba ” ujarku tersenyum.  Kusodorkan sebungkus rokok ke arah petani tua yang duduk di depanku.  “Rokok dulu Mbah …” tawarku padanya.  Sebatang rokok diambilnya dan tidak berapa lama, asap putih mengepul dari sela bibirnya yang keriput.

Kowe iki sopo?” suara serak petani tua itu membuka perbincanganku dengannya. Kujelaskan diriku dan maksud kedatanganku padanya.  Petani tua itu mengangguk-anggukan kepalanya, sepertinya memahami ucapanku.  Tapi, keheranannya tetap tak beranjak dari raut wajahnya.  “Woalah, bapake ra mudeng Mas” ujar anaknya seraya menyodorkan secangkir air putih ke arahku.  Sejurus kemudian, dia menterjemahkan ucapanku tadi.  “Iki lho pak, mase iki kembara tani sing nemoni petani-petani, nganggo montor iku lho” jelasnya seraya menunjuk ke arah NASHA yang ku parkir di pinggir jalan.

Kali ini, giliranku yang mengangguk-anggukan kepala sembari senyam-senyum seolah mengerti penjelasan panjang lebar anaknya itu.  Rofiq, warga Gunung Kidul yang mengikuti perjalananku, paham kalau aku tak memahami percakapan anak dan bapak itu.  Lalu berinisiatif menterjemahkannya untukku.  Seperti dikomando, sadar bahwa masing-masing seperti memiliki penterjemah pribadi, kami pun tertawa bersama. Baca entri selengkapnya »

3. Pantang Menyerah

Bagian Pertama, Merajut Benang Harapan

3. Pantang Menyerah

Keterbatasan Sumberdaya Alam dan Lahan ini banyak dikeluhkan para petani dan tokoh masyarakat yang kutemui, khususnya yang berada di Gunung Kidul.  Diantaranya adalah Prawiro (86 tahun), tokoh masyarakat yang dituakan oleh para petani di Desa Dadapayu Semanu.  Menurut mantan Persatuan Pamong Desa Indonesia (PPDI) di era tahun 1960-an itu, hal yang paling menyulitkan adalah semakin sempitnya lahan usaha tani.  Sistem waris yang cenderung membagi-bagi tanah untuk anak-anak petani menjadi penyebabnya.  Setiap generasi pasti akan semakin kecil dan akhirnya dijual karena tidak layak usaha lagi.  “Sebenarnya, meskipun kondisi lahan yang kering seperti ini, apabila diiringi dengan luasan yang cukup dapat memenuhi kebutuhan petani.  Tapi kenyataannya tidak begitu” tandasnya.  Lahan pertanian, lanjut Prawiro, malah semakin menyempit, sehingga tidak layak dijadikan tumpuan harapan generasi muda pertanian.  “Akibatnya ya pada pergi ke kota, wong orang nambah terus tapi tanah tidak melebar ko” tuturnya.

Seperti mengamini salah satu warganya itu, Sutamta, Lurah Desa Dadapayu, mengaku kesulitan untuk mengembangkan pertanian di desanya.  Kondisi alam dan lahan kering tadah hujan menjadi faktor pembatas yang sulit untuk diatasi.  Padahal, lahan pertanian didesanya itu relatif lebih subur.  “Bila ada irigasi, komoditas hortikultura bisa berkembang dengan baik, karena lahan di sini subur.  Tapi, membuat irigasi sepertinya tidak mungkin karena biayanya cukup besar.  Swadaya masyarakat tidak memungkinkan untuk itu” paparnya.  Makanya, lanjut Sutamta, pada saat musim kemarau banyak warganya yang menganggur dan pergi ke kota untuk mencari tambahan penghasilan.  Bekerja sebagai buruh bangunan, adalah pilihan terbanyak yang dijalani warganya.

“Sebenarnya, di sini ada sumber air tapi letaknya berada di bawah areal pertanian.  Kami sedang berupaya menjadikan sumber air itu untuk pertanian, sehingga dapat membantu warga” tutur Sutamta tanpa mau menyerah.

Untuk mengurangi beban warganya, Sutamta berencana untuk mengembangkan industri yang dapat menyerap tenaga kerja.  Salah satunya membuat pabrik gaplek dan pabrik air minum kemasan yang memanfaatkan sumber air yang disebutkannya tadi.  Beberapa calon investor akan “dirayu”nya agar mau menanamkan modal di desanya.  Sutamta pun tengah berupaya agar jalur transportasi wisata ke arah Pantai Sadeng dan Pantai Wediombo dapat melalui desanya.  “Mudah-mudahan hal tersebut dapat mengangkat ekonomi warga desa” ujarnya penuh harap. Baca entri selengkapnya »

2. Kesejahteraan Berbatas Alam

Bagian Pertama, Merajut Benang Harapan

2. Kesejahteraan Berbatas Alam

Kondisi Fisiografis dan iklim DIY, menyebabkan lahan untuk pertanian yang diusahakan petani tidak merata di masing-masing kabupaten dan kotanya.  Bahkan, variasi usahatani ini terkesan memiliki perbedaan yang mencolok.  Gunung Kidul dengan Sleman misalnya.  Dua kabupaten yang berbatasan ini memiliki dominasi komoditas yang berbeda, khususnya untuk padi dan palawija.

Dengan kondisi lahan kering yang mencapai 45,29 % dari luas lahannya, produksi areal pertanian Gunung Kidul (2004), didominasi oleh komoditas Ubi kayu (699.290,45 ton), Jagung (146.532,14 ton), Padi Gogo (131.769,63 ton), Padi Sawah (51.033,11 ton), Kacang tanah (47.081,97 ton) dan Kedelai (25.460,84 ton).  Sementara itu, Sleman memiliki iklim dan kondisi tanah yang sangat baik untuk pertanian lahan basah.  Kesuburan tanahnya memungkinkan tanaman tumbuh dengan sempurna.  Dengan kondisi demikian produksi areal pertanian (2004), didominasi oleh komoditas Padi Sawah (252.518 ton), buah-buahan (121.603 ton), Sayuran (29.004,9 ton), Ubi kayu (28.200 ton) dan Jagung (22.564 ton).

Gunung Kidul dengan luas wilayah 148.536 hektar atau 45,68 % luas wilayah DIY dengan garis pantai sepanjang 70 km, hanya memiliki sawah seluas 5,20 % dari luas wilayahnya.  Sedangkan Sleman dengan luas wilayah 57.482 hektar atau 18 % luas wilayah DIY, memiliki areal pesawahan seluas 40,64 % dari luas wilayahnya.  Hampir separuh luas wilayah Gunung Kidul adalah lahan kering dan hampir separuh luas wilayah Sleman adalah areal pesawahan dengan irigasi yang cukup.

Sementara itu, Bantul dan Kulon Progo memiliki perpaduan dari perbedaan kedua wilayah kabupaten itu. Baca entri selengkapnya »

« Entri lama