“Pak Trans”, demikian saya biasa memanggil sosok anak bangsa asli Yogyakarta bernama dan bergelar lengkap, Dr. Ir. H. R. Transtoto Handadhari SHA, MSc. Pertama kali mengenalnya, ketika bersama-sama menjadi kader Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dibawah kepemimpinan Pak Sis (DR. Ir. Siswono Yudohusodo). Saat itu, Pak Trans, Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XI Jawa-Madura, menjadi Wakil Ketua DPD HKTI Daerah Istimewa Yogyakarta (2002-2004), bersama-sama Prof. Suhadi, Ketua DPD HKTI DIY, “mengomandani” petani Jogjakarta. Selanjutnya, Pak Trans turut membantu Pak Sis dan Pak Prabowo Subiyanto dalam jajaran Dewan Pakar HKTI sampai saat ini. Sebelumnya, interaksi dengan Pak Trans lebih banyak dalam acara-acara resmi Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI, karena saya menjadi personal Komite Informasi dan Komunikasi DPN HKTI, dibawah kepemimpinan Letjen Prabowo Subianto.
Interaksi dan komunikasi dengan Pak Trans, Direktur Utama Perum Perhutani saat itu, menjadi lebih sering saat saya selaku Kembara Tani menfasilitasi pelaksanaan Kongres Pertama Lembaga Masyarakat Desa Hutan se-Jawa Madura di Jombang, Desember 2006 lalu. Bersama-sama Dr. Ir. Upik Rosalina Wasrin, DEA, Direktur Produksi Perum Perhutani saat itu, Pak Trans berupaya melakukan penguatan kelembagaan masyarakat desa hutan melalui implementasi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Belakangan, Pak Trans menggagas penyempurnaan PHBM menjadi PHBM Plus yang mengkaitkan implementasinya dengan peningkatan komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yakni peningkatan daya beli, status sosial, kesehatan dan pendidikan. Tatkala “prahara” melanda Perum Perhutani di akhir tahun 2007, komunikasi dengan Pak Trans terputus, sampai suatu waktu secara kebetulan kami bertemu di lift Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta.
Sungguh saya merasa kaget melihat penampilannya saat itu. Sosok yang biasa tampak “dandy” dan flamboyan dengan busana selalu rapih yang membalut kegagahannya, saat itu terasa sirna tak tersisa. Keletihan tampak jelas di matanya yang sayu dan rambutnya yang tak lagi tersisir rapih. Bahkan, satu kancing paling atas kemeja yang dikenakannya keluar dari lubangnya. Beberapa buku dan kertas dalam map yang dipegangnya, menyempurnakan kekusutan penampilan “mantan” orang nomor satu Perum Perhutani yang sering menjadi pusat pembicaraan orang itu. Meskipun senyum tetap berkembang di wajahnya, tetap saja, saya menangkap aura perubahan yang sedang membalut dirinya.
Dalam perjalanan pulang ke stasiun Gambir, seorang teman yang juga menyaksikan pertemuan (kembali) tadi, bertanya heran. Sepertinya dia melihat bening mengambang di mata saya.
” ‘Napa Kang? ‘ko .. ” tanyanya terpotong, dan saya pun paham maksudnya.
” ‘ndak, itu lho tadi. Saya ‘ko merasa ada yang tidak adil dengan Pak Trans “.
” Ya iya lah, wong dia diganjal dengan tidak proporsional gitu ‘ko ” tukasnya cepat.
” Diganjal? ‘ko bisa bilang diganjal? ” Daripada menjawab, sang teman malah tertawa ngakak.
Entah apa maksud teman saya itu, yang jelas, kesimpulan yang mungkin saja ngawur dan tawa ngakak-nya itu, membuat angan terus mengembara menembus dimensi ruang dan waktu yang pernah saya lalui, yang terkait dengan Pak Trans. Mengulang kembali dialog-dialog singkat dengannya, mendengar statemen dan uraian analisanya yang memang terkadang “vokal” dan “nakal”, tulisan-tulisannya, dan juga komentar banyak pihak yang sempat saya dengar tentang dirinya. Tentu saja, karena datang dari pihak yang suka dan juga pihak yang tidak suka, banyak bertabur pujian dan cacian, kekaguman dan cibiran, termasuk isyu lifestyle-nya yang kemudian mengental dalam atmosphere “prahara”, yang berujung pencopotan dirinya sebagai Direktur Utama BUMN yang mengelola 83 % luas hutan Jawa dan Madura itu.
“Saya akan bikinkan dia buku” singkat saya katakan pada sang teman di kereta Jakarta Solo.
“Buku apaan Kang?” tanyanya hambar tanpa serius menghendaki jawaban.
Buku yang menghimpun kepedulian dan pemahamannya tentang hutan dan kehutanan kita. Buku yang berisi pikiran seorang anak bangsa, tentang kecintaannya pada hutan milik bangsa dan negaranya. Kecintaan yang mungkin saja tidak akan sempat lagi diwujudkannya dalam bentuk kewenangan dan langkah kebijakan seorang pejabat. Kecintaan yang mungkin saja ingin dititipkannya bagi generasi anak cucu saya kelak. Agar mereka tidak mengulang kesalahan yang sama yang pernah dilakukan kakek buyutnya. Agar generasi mereka kelak, menjadi generasi yang mewariskan Mata Air, dan bukan menjadi generasi Pewaris Air Mata bagi Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang membesarkannya.
Buku yang, Alhamdulillah, telah sampai kepada pembaca yang budiman.
Semoga bermanfaat.