Menghimpun Embun, Menadah Hujan …

dari Merpati kepada Garuda

Garuda, …

Tunas-tunas muda itu tengah siap mekar dan sebagian menjalar ke kota-kota.  Akar mereka tetap di sawah dan ladang, dimana batang pohon induknya tertanam, meski tak dapat lagi tegak menantang alam.

Hampir tak ada peneduh dari rimbunnya dedaunan.

Mencoba menghimpun embun dan menadah hujan penuh harapan.

Bukan untuk membuat telaga, tapi sekedar menghilangkan dahaga jiwa.

Garuda, …

Ibu Pertiwi masih saja sabar menanti Si Kelik kembali,

meski nyiur tak mampu lagi melambaikan daunnya,

dan semilir angin pun tak dapat lagi menyampaikan harapannya.

Ibu Pertiwi masih saja mengembangkan kedua tangannya,

meski tak ada lagi sosok tegap dan kekar berlari menghampiri,

dan dekapan pun tak berbalas kerinduan.

Entah sampai kapan …

Ada Petani di Malioboro

dari Merpati kepada Garuda,

Garuda …

Para Petani itu masih hilir mudik di pelataran Malioboro, di Jantung Kota Jogja.  Mereka tidak pernah menyerah pada alam, meski kesejahteraannya jelas-jelas berbataskan alam.  Apakah sinyalemen Eric R Wolf seperti dikutif Siswono dalam bukunya “Membangun Ketahanan Pangan” itu benar adanya? bahwa secara historis kehidupan petani selalu diilustrasikan sebagai “Manusia Kalah”, baik kalah karena ketergantungannya pada alam maupun kalah dalam proses terbentuknya lembaga serta sistem kekuasaan dan politik yang ada didalamnya.

Garuda,
Para Pejuang Pangan itu tetap saja tidak pernah mau menyerah, karena menyerah baginya adalah kelaparan dan kematian yang menggenaskan, yang justru tidak lebih baik dari sebuah “Kekalahan” itu sendiri.

Kinanti Hutan Jati

dari Merpati kepada Garuda

Garuda,…

Kinanti di tepi hutan jati mengalun lirih mengukir hati,

dendang kearifan membasuh luka lama dengan rasa,

menabur benih harapan, menanam pagar kesejahteraan

ditepian batas hutan.

Garuda,…

Kepakan sayapmu dan hinggaplah di batas hutan Jawa,

dimana rentang benang kusut masai tengah terurai,

dimana sejuta tangan lemah terkulai merenda perubahan,

agar luka tak semakin menganga,

agar kekhilafan tak lagi terulang dan berulang-ulang.

Garuda,…

Meski sedikit yang ku saksikan dari bukti ketulusan untuk berbagi,

Ternyata, bukan sekedar alat menggapai mimpi hutan lestari,

atau angan-angan menuai kesejahteraan di batas hutan,

tapi satu keyakinan yang mengiringi langkah anak negeri,

membangun kemandirian bangsa.

Sebuah pembaharuan tengah bergulir di sepanjang batas hutan,

Meretas jalan menuju desa maju, mandiri dan sejahtera.

Semoga.

Mutiara itu masih saja terpendam …

Garuda, …

Aku melihat sunyi menari-nari di hatinya.

Ada kerinduan yang dalam bergelayut di jiwanya.

Ada harapan untuk membasuh rindu itu,

dan mengusir sunyi yang merayapi tepi-tepi pematang.

Tapi, …..

pada siapa tangan dilambaikan,

nada didendangkan dan suara diserukan.

Sederet tanya yang hanya mampu mereka jawab

dengan paduan bunyi palu dan pahatan beradu dengan batu.

“Benarkah memahat asa tak harus di Jantung Kota ?”

Hening semakin lirih bersama angin yang menyingkap rumbia.

Garuda, …

Mutiara itu masih saja terpendam, terinjak, …..

dan bahkan terlangkahi saat mereka pergi meninggalkan desanya.

Bunyi palu dan pahat yang beradu dengan batu, …..

terdengar sayup ditelan kelengangan ladang.

Putihnya batu-batu itu tak menyilaukan mata mereka, ….

atau mungkin juga malah tak mereka lihat.

Sementara Elang di angkasa terus berputar-putar dan sesekali menyambar.

Tak ada kurungan untuk berlindung, …..

bahkan kini tak ada lagi dedaunan rimbun yang jadi pelindung.

Satu-satu hilang diterkam Elang, ….

tanpa daya dan bahkan hampir tanpa upaya.

Izinkan Aku Garuda ku …

Dari Merpati kepada Garuda

Garuda, …

Ada kerinduan di tengah kelengangan ladang,

Ada sunyi menari-nari ditepian pematang.

Kini, anak negeri semakin jarang kembali pulang,

yang ada, malah pergi memahat di negeri seberang.

Bilakah kau kepakan sayapmu di atas tanah yang retak?

Agar kemilau mutiara kembali tampak,

Agar suara penyerumu pun tak semakin serak,

Agar jantung bumi pertiwi kembali berdetak.

Jemput aku di batas angkasa,

dimana Elang melayang menyambar-nyambar.

Bawa aku ke tepi bumi,

dimana Elang menukik mencakar-cakar.

Izinkan aku membariskan taruna,

meski dengan sebatang ranting kering,

meski dengan seutas tali pancing.

Cukup aku berbalut merah dan putih.

Cukup aku berpelindung perisai di dadamu.

Izinkan aku memulai, Kebangkitan Anak Negeri !

« Entri lama