Juli 20, 2009 pada 2:37 am (Catatan Kembara Tani)
Apa yang tampak, seringkali bukanlah apa yang terjadi sesungguhnya.
Alangkah lebih bijak seandainya kita semua yang mencintai negeri ini untuk menahan diri, sekaligus menjaga diri untuk tidak turut larut dalam hal-hal yang sudah jelas-jelas kita benci.
Mari kita gunakan waktu kita untuk membantu sesama dengan karya nyata, bukan dengan menebar informasi tidak pasti dan saling tuding yang berujung fitnah.
Tinggalkan sebuah Komentar
Juli 9, 2009 pada 5:32 pm (Catatan Kembara Tani)
Kemenangan itu beban amanah …,
kekalahan itu diselamatkan karena Tuhan tidak menghendaki hamba-Nya terjerumus ke jurang yang menyengsarakan…,
menerima kehendak-Nya (bagaimana pun jalannya) adalah suatu keharusan yang tak bisa ditentang.
Bersatulah dan jangan berseteru saudaraku, mari Bangkit dan Berlari demi Negeri kita ini.
& Komentar
Juni 12, 2009 pada 2:59 pm (Catatan Kembara Tani)
Desa hutan, mmm … adakah dalam peta penguasa dan politisi negeri ini ?
Ironis memang, semua bicara kemiskinan, tapi tak ada satu pun yang menyebut desa hutan, padahal 20 juta masyarakatnya jelas-jelas miskin. Tidak heran jika mereka lebih memilih ke hutan daripada ke TPS.
Jangan putus asa saudaraku, Bergerak ! terus gerakan jarimu ‘tuk merenda kesejahteraan di batas hutan.
Bangsa dan NKRI ini masih milik kita.
Tinggalkan sebuah Komentar
Mei 7, 2009 pada 4:11 am (Catatan Kembara Tani)
Yaa Rabbi,
Siapa pun yang kelak Engkau jadikan pemimpin bagi negeri karunia-Mu ini,
janganlah Engkau jadikan dia seperti layang-layang, semakin tinggi melayang ….
semakin jauh pula dari bumi tempat hamba-Mu berpijak.
Jadikanlah dia seperti sebatang pohon, semakin tinggi menjulang …
semakin kuat akar mencengkram, semakin kokoh batang menopang, dan …
tajuk pun semakin rindang pula melindungi hamba-Mu,
yang terpanggang terik kemiskinan.
Amin yaa Rabbul ‘alamin.
1 Komentar
April 26, 2009 pada 6:54 am (Catatan Kembara Tani)
( Catatan Kembaratani di Batas Ibu Kota )
Rajawali Agung, ucap lelaki simpatik berperawakan tinggi dengan kumis tipisnya ini, sambil menyalamiku. Dua pemuda yang tengah berbincang dengannya, turut pula menyalamiku. “Langsung ke lapangan yuk” ujarnya ketika menyalami sobat lamaku, Guntur Setiadi, yang disambutnya dengan anggukan pasti.
Sepanjang perjalanan menuju Dusun Cisaat, Desa Kertahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, keheranan dan pertanyaan semakin menumpuk dan terus bertambah. Betapa tidak, benakku menggambarkan Bekasi adalah wilayah yang padat dengan jejeran pabrik, gedung dan segala hiruk-pikuk ciri khas kawasan industri. Komunitas masyarakatnya pun tentu saja dipenuhi oleh para pekerja industri, kaum buruh dan para pengusaha lengkap dengan gaya hidup khas komunitas industri. Itu dalam benakku, karena jujur saja, Bekasi hampir tidak pernah mendapatkan perhatianku. Pasalnya, ku pikir memang tidak ada hubungannya dengan minat aktivitasku sebagai Kembaratani.
Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar