Ada Petani di Malioboro

Who is he ?”, seorang wisatawan mancanegara entah berkebangsaan apa, bertanya padaku. Sepertinya, turis yang berparas manis ini tak dapat menahan rasa penasarannya melihat ulahku, berbincang dengan seorang pria di depan benteng Vendeburgh. Pasalnya, hampir semua ucapan pria bercelana pendek dengan caping di kepalanya itu aku tulis. Kadang, aku taburi wajahnya dengan sinar blizt dari kamera saku dalam 2 – 3 posisi, baik sendiri atau bergerombol dengan kelompoknya.

He is a farmer and his gank” ujarku sekenanya. Jujur saja, aku memang bermaksud melucu dengan jawaban tadi. Tapi sungguh diluar dugaanku, turis manis yang mungkin saja orang Prancis ini, malah tersentak kaget.

What?! He is a farmer? What is he doing here?” ujarnya terkaget-kaget dan tidak percaya. Sejenak aku bingung memilih kalimat untuk membalas kekagetannya. Selain karena aku pun kaget melihat kekagetannya, aku sempat berpikir apa jawabanku tadi salah? Looking for money” ujarku singkat dan masih setengah bengong. Entah darimana kudapat kalimat itu, meluncur dengan bebas tanpa melalui saringan dikepalaku. Tapi setelah kupikir lagi, ya memang begitu kenyataannya. Mereka, para petani itu, sedang mencari uang untuk menutupi kebutuhan keluarganya.

Ada Petani Di Malioboro, bukan sebuah kalimat kiasan atau perumpamaan. Tapi benar-benar sebuah fakta, realita dan memang begitu kenyataannya. Di obyek wisata andalan Propinsi DIY itu, ada banyak sekali petani. Mereka bukan sedang piknik, study tour, apalagi study banding meniru para wakilnya yang terhormat. Dan, bukan pula sedang bercocok tanam atau sedang menjual hasil panennya. Para petani itu, berada di Malioboro dipaksa keadaan untuk meninggalkan sawah dan ladang di desanya. Mereka sedang berjuang untuk menambal kebutuhan hidup, karena sepetak lahan sempit yang digarapnya tak dapat mencukupinya.

Di Malioboro itu, mereka menjalani beragam aktivitas usaha di luar kebiasaannya sebagai petani. Berjualan bakso, mie ayam, es dawet, kelapa muda, penjaja rokok asongan, menunggu angkringan, mendorong gerobak berisi jagung dan kacang rebus yang menggunung. Ada pula yang turut menjajakan aneka kerajinan khas Malioboro di lapak-lapak kecil. Atau, memikul keramik Kasongan dan menawarkannya diantara deretan mobil mewah milik wisatawan di area parkir benteng Vendeburgh atau di Alun-alun Utara. Menjadi pengemudi Bis Kota pun ada yang melakoninya. Sebagian besar, mengayuh becak dan merayu wisatawan agar mau menggunakan jasanya. “Dua Ribu saja Om, keliling-keliling ke Kraton, belanja batik, dagadu, bakpia pathuk …, cuma dua ribu Om,…” rayunya sambil terus menjejeri tamunya.

Walaupun dengan beragam aktivitas seperti itu, tetap saja mereka itu adalah petani. Coba saja iseng-iseng tanya sendiri, atau bawa mereka ke obrolan ringan seputar pertanian. Jangan kaget kalau mereka sangat hapal dosis pupuk dan obat-obatan pembasmi hama, beragam jenis sarana produksi yang digunakannya, pola tanam, kapan musim tanam, produksi beragam komoditas pangan dan hortikultura, bahkan produktivitas lahan yang digarapnya. Dan, jangan kaget pula kalau obrolan itu diakhiri dengan keluhan tentang tidak seimbangnya biaya produksi dan nilai jual hasil panennya. Biasanya, keluhan itu akan diakhiri dengan kritikan kepada pemerintah, meski kebanyakan tampak salah alamat. Atau, kalau mau dan sedikit ada keberanian, minta mereka menunjukan KTP-nya dan lihat, di KTP lusuhnya itu pasti tertulis Pekerjaan : Tani, dan bukan dagang atau wiraswasta.

Pak Gino misalnya, abang becak yang biasa mangkal di depan benteng Vendeburgh. Warga asal Kali Bakem, Pundong Bantul ini, seorang petani penggarap yang sudah 25 tahun menambal hidupnya dengan mengayuh becak. Pasalnya, hasil menggarap ladang tadah hujan seluas 100 lobang milik orang tuanya, hanya mampu menyumbang sebesar Rp 400.000,- per musim. Nilai tersebut tentu jauh dari cukup untuk menutupi kebutuhannya menghidupi seorang istri dan ke-5 anaknya. Dengan mengayuh becak, meski sering harus pergi di sore hari dan tidur meringkuk didalam becaknya, setidaknya Gino bisa membawa pulang uang Rp 10.000,- saat menjelang pagi hari.

Tengok juga Sumarlan, teman seprofesi Gino ini biasa mangkal di area parkir Abu Bakar Ali. Warga asal Piyaman Wonosari Gunung Kidul ini, mengaku sudah 7 tahun meninggalkan desanya dan tinggal di rumah petak seputar stasiun Tugu bersama istri dan anaknya. Mereka pulang kembali ke desa bila musim hujan tiba. Pasalnya, lahan tadah hujan di desanya hanya bisa digarap bila hujan turun.

Lain lagi dengan Nurhuda, pedagang rokok asongan asal Tegalrejo Magelang ini seorang anak petani. Dia mengaku terpaksa berhenti sekolah karena bosen dan malu ditagih uang sekolah yang tidak bisa dibayar orang tuanya. Keluar dari SMP, dia ke Malioboro dibawa teman sekampungnya yang sudah terlebih dahulu jadi pedagang asongan. Sebenarnya, Nurhuda termasuk beruntung karena masih bisa berusaha dan mengirimkan hasil usaha untuk membantu orangtuanya di desa. Banyak sekali anak-anak seusianya yang juga hidup di Malioboro, bertahan hidup dengan cara mengamen atau mengandalkan belas kasihan orang.

Masih kurang? Pernah lihat gerobak bakso bercat hijau bertuliskan Handayani lengkap dengan nomor gerobaknya di sepanjang Malioboro? Sebagian besar dari mereka adalah para petani Gunung Kidul, meski ada pula beberapa dari Klaten dan Wonogiri.

Mas Bandat misalnya, petani asal Gelaran Bejiarjo, Karangmojo Gunung Kidul. Pemuda tani berperawakan kekar ini, mengaku sudah 3 tahun tidak pulang ke kampung halaman ibunya, karena merasa kerasan tinggal dan berusaha di Malioboro. Atau, jika anda kebetulan naik Bis Kota jalur 04 dan mendengar seorang pengemudi yang fasih bercerita tentang petani dan komoditas hortikultura seperti cabe merah, melon atau semangka, bisa jadi pengemudi itu adalah Hendiyana, petani asal Wates Kulonprogo. Lahan pertanian di kampungnya memang terkenal subur dan air melimpah. Tapi menurutnya, sempitnya lahan yang digarapnya tidak memenuhi skala usaha yang menguntungkan. Karena itu pula dia lebih memilih untuk menyerahkan lahannya kepada tetangganya dan digarap dengan sistim maro (membagi dua hasil panen).

Buku ini memang penuh dengan cerita tentang mereka dan mengapa mereka berada jauh dari sawah dan ladang garapannya. Awalnya, kebiasaanku menghabiskan malam di Malioboro, berbincang-bincang dengan para petani itu, telah melahirkan kegelisahan dan selaksa tanya dalam benakku. Mengapa mereka harus ada di sini? meninggalkan sawah dan ladang garapan di desanya. Meski mudah dijawab, tetap saja melahirkan pertanyaan susulan yang semakin membuatku gelisah. Apa benar yang bisa dilakukan hanyalah menyerah pada alam? Masih mungkinkah mereka menekuni profesinya kembali sebagai seorang petani sejati? Bagaimana pertanian akan berkembang bila yang tersisa hanya tubuh tua dan renta? Atau, memang tidak ada tempat lagikah bagi mereka untuk bisa hidup sejahtera di negeri agraris ini?

Semua itu membawaku melangkah ke tempat-tempat dimana mereka berasal. Menjadikanku seorang Kembara Tani yang mengalir bagai air ke tempat dimana kesejahteraan yang “lebih rendah” berada. Mencoba untuk turut merasakan apa yang mereka katakan dan belajar untuk mengatakan apa yang mereka rasakan.

Buku ini memang tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah solusi bagai masalah-masalah yang dihadapinya. Menyelesaikan masalah yang menghimpit petani dan membebaskannya dari ketidakberdayaan, memerlukan penangan holistik dan sinergitas yang selaras dari seluruh warga bangsa ini.

Sahabat-sahabatku itu, para petani yang kutulis dalam buku ini, tidak dimaksudkan sebagai bukti yang mewakili kondisi petani keseluruhannya. Apa yang aku lakukan, sama sekali jauh dari yang disebut survey atau penelitian. Aku hanya berjalan mengikuti naluriku untuk bertemu dengan mereka, berbincang dengan mereka, mendengar apa yang mereka katakan dan menuliskannya dalam buku ini.

Namun demikian, tidak bijak pula rasanya bila menganggap bahwa kondisi yang para petani itu rasakan, diabaikan sebagai sebuah kondisi kehidupan nyata warga bangsa. Apalagi, eksistensi dan kondisi yang mereka alami, tidak diakui keberadaannya, kebenaran kejadiannya, atau dipandang sebelah mata, hanya karena ketiadaan metode-metode dan alasan angka-angka. Sebab, jika pun tetap begitu, aku pun berhak mempertanyakan, siapa yang dapat menyimpulkan bahwa kondisi yang mereka alami hanya terjadi pada satu dua orang saja, pada sebagian kelompok kecil saja, hanya kebetulan dialami oleh orang yang kebetulan pula aku temui saja, dan oleh karenanya dapat diabaikan? Masihkah kita harus tetap berkutat pada debat-debat panjang perihal angka-angka makro dan mikro, sementara dibalik angka-angka itu adalah sosok manusia, sebuah keluarga, warga negara, saudara sebangsa yang juga berhak atas hidup dan kehidupannya yang layak di Negeri Agraris milik kita bersama.

Buku ini hanyalah sebuah medium bagiku, untuk menunjukan rasa kagum dan simpatiku pada perjuangan mereka yang tak kenal menyerah. Lebih jauh, barangkali saja buku ini pun dapat menumbuhkan kesadaran pada diri kita semua, bahwa sudah saatnya membangun sinergitas yang selaras untuk menjadikan kesejahteraan petani sebagai jembatan emas bagi bangsa Indonesia dalam mencapai cita-citanya. Siapa pun anda, pembaca yang budiman, dapat mengambil peran aktif dalam konteks membangun sinergitas yang selaras tadi, demi masa depan bangsa dan negara kita.

Pada saat hendak memulai menulis buku ini, aku sempat kebingungan akan memulai darimana, memilih angle yang tepat agar menghasilkan potret yang layak saji. Sebab, tidak mudah bagiku untuk meramu dan menyusun ulang catatan yang kutulis kala berbincang dengan petani di sawah dan ladang garapannya. Tapi untuk sekedar memilah-milah, maka buku ini kubagi menjadi tiga bagian, yakni:

Bagian pertama, Merajut Benang Harapan. Menggambarkan kondisi alam dan lahan pertanian di DIY, khususnya Gunung Kidul, serta berbagai keterbatasannya yang menciptakan tingkat kesejahteraan berbeda bagi para petani pengguna lahannya. Beragam upaya dilakukan untuk menyiasati keterbatasan itu, termasuk pergi meninggalkannya.

Semburat warna coklat dan gunung berbatu hitam keabuan berganti gradasi warna hijau memukau, terus silih berganti menemani pengembaraanku. Menyaksikan bagaimana keragaman fisiologis menciptakan tingkat kesejahteraan yang berbeda, menjadi berkah bagi sebagian dan musibah bagi sebagian lainnya. Di sebagian wilayah, petani menjual gabah atau beras yang digilingnya, akan tetapi di sebagian wilayah lainnya, petani justru membeli beras untuk kebutuhan pangannya. Dua posisi yang saling berhadapan dalam rantai tata niaga beras, ternyata berada pada satu sosok yang sama. Produsen beras itu adalah konsumen beras juga, yang pada suatu waktu menuntut harga beras mahal agar harga gabah tidak jatuh, akan tetapi di waktu yang lain justru berharap mendapatkan beras dengan harga yang murah agar mampu memenuhi kebutuhan pangannya.

Benang-benang harapan tentang terciptanya sebuah perubahan – yang lebih baik tentunya – bagi kesejahteraannya, terus dirajut di tengah hamparan sawah dan ladang yang semakin terasa lengang.

Bagian Kedua, Memahat Asa di Jantung Kota. Lebih banyak bercerita tentang mengapa mereka harus pergi, beragam alasan yang mendorongnya, serta berbagai harapan yang mengikuti langkahnya. Bekerja di kota-kota besar untuk dapat menambal kebutuhan hidup bagi sebagian keluarga yang ditinggalkannya adalah hasil pahatan yang diharapkannya.

Urbanisasi yang marak terjadi, menurunnya kemampuan sektor pertanian menyerap tenaga kerja, bergesernya pola usaha rumah tangga, dan ditinggalkannya sektor pertanian oleh sebagian keluarga tani, merupakan fenomena yang jelas-jelas tengah terjadi di DIY. Arah pembangunan ekonomi DIY yang cenderung berkembang ke arah sektor sekunder dan tersier, berdampak cukup besar terhadap beralihnya pola ekonomi Rumah Tangga di sektor pertanian ke Rumah Tangga di luar sektor pertanian. Keengganan generasi muda pertanian untuk terjun ke sektornya pertanian, lebih disebabkan oleh ketidakmampuan sektor pertanian memberikan jaminan hidup bagi mereka. Hal itu, tampak jelas dalam untaian kalimat-kalimat yang dipilih para ketua kelas siswa SMA I Karangmojo Gunung Kidul.

Bagian Ketiga, Mutiara yang Terpendam. Gambaran tentang beragam potensi alam yang belum serius digali dan dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan tambahan para petani. Berbagai kendala, tantangan dan peluang pengembangannya, dicoba untuk ditelusuri. Secara khusus, aku mengulas potensi batu paras Jogja putih.

Batu paras Jogja putih memantulkan cahaya harapan sebagai penahan langkah pemuda tani ke jantung kota. Bahkan, batu itu pun diyakini mampu menarik mereka yang sudah berada di kota, untuk kembali pulang membangun desanya. Potensi dan Peluang batu yang ditambang di bukit Gloto Candirejo, Semin Gunung Kidul ini, mampu menjadi denyut nadi ekonomi. Produk hasil tangan-tangan trampil pemahat Desa Ngijo, Semin Gunung Kidul, telah menyambangi negeri-negeri di seberang lautan.

Tidak ada keberhasilan yang dibangun sendiri. Begitu juga berhasilnya buku ini terbit dan sampai ke tangan anda, tidak terlepas dari banyaknya orang lain yang terlibat. Menghargai semua upaya sekecil apa pun dalam rangkaian sampainya buku ini ke tangan anda, termasuk anda sendiri yang telah memberikan korbanan untuk mendapatkannya, secara khusus aku membuat lembar ungkapan terima kasih.

Hanya sekedar ucapan terima kasih. Tapi, memang hanya itu yang dapat kusampaikan untuk mewakili ketulusan dari pengakuan atas bantuan anda semuanya.

Yogyakarta, Oktober 2005



1 Tanggapan

  1. cahyo sumunar berkata,

    Januari 13, 2009 pada 8:23 am

    aku punya pengalaman, dulu ibunya anak-anak punya warisan sedikit sawah dari mertua saya. karena tidak bisa mengerjakan sendiri untuk bercocok tanam padi, sawah pernah disewakan, pernah pula dikerjakan oleh orang lain dengan pola bagi hasil. dari kedua pola tersebut, pendapatan dari sawah waktu itu, tak lebih dari 1 juta rupiah. aku dan istri putuskan, sawah dijual, dan dibelikan sebuah rumah kecil ukuran 100 m di salah satu kampung di sekitar jokteng kulon. rumah dikontrakkan dan laku 3,5 juta per tahun. pengalaman buruk sebagai anak desa keturunan petani di desa, tetapi tak bisa meneruskan jadi petani. dari sisi pendapaan lebih tinggi, itulah pertimbangan ekonomis saya dan istri…..


Tulis sebuah Komentar