Agum Gumelar dan Jurus Katak Berenang
8 Desember 2011 at 11:07 am (Catatan Kembara Tani)
Pada suatu kesempatan dalam sebuah forum terbatas, Kang Agum Gumelar bercerita tentang detik-detik terakhir ‘kejatuhan’ Gus Dur. Tepatnya, saat Gus Dur ingin mengeluarkan Dekrit Presiden. Dari sekian banyak kalimat, ada satu kalimat yang membuat saya terhenyak dan lantas dicatat baik-baik dalam hati. Kalimat itu pun lantas menjadi pegangan saya selama ini.
Waktu itu Kang Agum mengatakan, “Prajurit yang baik selalu berupaya keras agar pimpinannya tidak salah mengambil langkah !”. Kalimat yang sepertinya biasa saja, namun jika direnungkan dan diresapi dengan hati, justru inilah pangkal dari ‘lestarinya’ sebuah sistem yang dipandang menyengsarakan rakyat banyak. Ketidak beranian seorang prajurit (baca: bawahan) untuk mengingatkan pimpinannya, oleh karena alasan apapun, merupakan penyakit yang biasa di banyak institusi. Barangkali, termasuk institusi negara sekali pun, termasuk tentunya BUMN.
Semakin sulit rasanya mencari orang-orang yang berprinsip seperti dikatakan Kang Agung itu. Pasalnya, ketika pimpinan dan orang-orang di sekelilingnya memiliki pandangan yang terbalik, maka jelas orang yang berprinsip “Prajurit yang baik selalu berupaya keras agar pimpinannya tidak salah mengambil langkah !”, akan tersingkirkan atau perlahan menyingkir dengan sendirinya.
Sepertinya, budaya ABS (Asal Bapak Senang) atau malah sengaja menciptakan kondisi ABS (Asal Bapak Salah), dengan mudah dapat dilihat dalam keseharian komunitas ‘pekerja’ di hampir setiap institusi. Alasannya bisa saja banyak, tapi semua mengarah kepada keengganan untuk lepas dari kenyamanan hidup yang tengah dinikmatinya.
Bisa jadi, memang pimpinan memiliki tipikal MEGALOMEN, merasa serba tahu, serba benar dan sakti sendiri (yo kalau sendirian emang bener sakti, wong sendirian ko … hehehehe). Bisa juga karena bawahannya memiliki tipikal PENJILAT dengan jurus andalan katak ‘ngojay’, ke depan menyingkirkan lalu ke belakang menendang (bayangin deh gimana katak berenang :D).
Semakin jarangnya orang yang memegang kuat prinsip seperti digambarkan Kang Agum tersebut, bisa jadi karena,
Pertama; Semakin banyaknya tipikal pimpinan yang masuk dalam gambaran Allah Swt sebagai orang yang : صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُوْنَ ”Tuli, lagi bisu, lagi buta; maka tidaklah mereka (dapat) kembali “(Surat Al Baqoroh ayat 18).
Tipikal pimpinan seperti ini memang tidak akan bisa lagi diingatkan dengan cara apapun. Pasalnya, Allah Swt telah menguncinya dalam keadaan seperti itu (kecuali mendapat hidayah dan mau bertobat dan berubah tentunya).
Kedua; Begitupun dengan bawahannya yang memilih kebahagiaan dunia daripada kebenaran yang nyata (rasa takut walau pun hanya sekedar mengingatkan dan menyampaikan kebenaran) dan tentu saja semakin menyesatkan pimpinannya, digambarkan Allah Swt sebagai : اولئک الذین اشترواالضلالة بالهدا فما ربحت تجارتهم وما کانوا مهتدین “Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka tak mendatangkan untung, dan mereka bukan orang-orang yang mendapat petunjuk” (Surat Al Baqoroh ayat 16).
Semoga kita semua terhindar dari memiliki pimpinan dan atau menjadi bawahan seperti gambaran Allah Swt tersebut. Amiiin.
Wallahu ‘alam bishowab.


