Optimalisasi Fungsi Intelijen Perhutani
10 Mei 2011 at 12:53 pm (Catatan Kembara Tani, NOTA OPINI) (Desa Hutan, Hutan, intelijen, kembaratani, Perhutani)
Demo “Nyasar”
Seorang teman bertanya tentang “deteksi dini potensi konflik”, kalimat yang saya tulis untuk menjawab komentar Mas Paidjo Herman di tautan saya tentang demo salah alamat di KPH Balapulang. Saya mencoba mencari kalimat yang sederhana, untuk menjelaskan apa dan bagaimana “deteksi dini potensi konflik” ini. Maksudnya, agar tidak perlu menyentuh kata “intelijen” yang saya sadari masih menggambarkan hal yang “khusus dan tabu” dibenak masyarakat. Tapi, isinya malah bias dan saya khawatir akan melenceng dari maksud saya, sehingga apa boleh buat sekalian berbagi opini saja tentang fungsi yang satu ini.
Demo salah alamat yang saya maksudkan adalah demo atau protes yang dilakukan masyarakat kepada Perhutani, tapi dengan materi tuntutan diluar kewenangan Perhutani untuk memenuhinya. Contohnya banyak, salah satunya yang masih hangat ya di KPH Balapulang itu. Simak petikan berita suaramerdeka.com ini ;
Perhutani Balapulang sama sekali tidak menghalangi pemanfaatan lahan tersebut. Cuma kini dibutuhkan proses pengajuan izin dari Menteri Kehutanan,” kata Administratur KPH Balapulang Toni Suratno, Kamis (5/5).
Disebutkan, selama ini ada kesan pihaknya mempersulit penggunaan lahan di Ciregol untuk pelebaran jalan. Padahal, semua butuh proses yang panjang. Sehingga ketika masyarakat sekitar menggelar demo ke perhutani, pihaknya tidak bisa berbuat banyak, karena aturan yang berlaku seperti itu.
“Saya tidak berani menerjang aturan. Namun apabila ada izin saya akan bantu, biar pemakai jalan pun akan dapat segera menikmati kelancaran arus di lintas Tegal-Purwokerto,” pungkasnya.
Dan simak pula petikan berita yang satu ini (pikiran-rakyat.com) ;
Gedung DPRD serta loji pendopo sebelah barat Pemerintah Kabupaten Ciamis dilumuri tanah dari kawasan bencana banjir bandang di Desa Padamulya, Kecamatan Ciahurbeuti. Aksi melumuri tanah tersebut dilakukan oleh aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Ciamis yang merasa tidak puas dengan penanganan bencana alam serta penataan lingkungan di kawasan Gunung Sawal.
Dalam aksinya yang diikuti sekitar tiga puluh aktivis tersebut, mereka menuding pihak Perum Perhutani paling bertanggungjawab atas bencana alam banjir bandang yang terjadi hari Senin (28/3) di wilayah kaki Gunung Sawal tersebut. Selain menggotong tanah liat yang dikatakan berasal dari kawasan Desa Padamulya yang hancur akibat dilanda banjir bandang, massa aksi juga membentangkan spanduk yang bertuliskan ”Kain Kafan Untuk Perhutani”.
Menanggapi aksi tersebut Wakil Administratur Perhutani Ciamis Achmad Sujadi mengatakan bahwa lokasi longsor yang memicu banjir bandang di Desa Padamulya, tidak berada di wilayah Perhutani, melainkan dalam pengelolaan BKSDA. Titik longsor tersebut berada di antara petak nomor 53 Cikoneng dengan petak 54 Panjalu. ”Lokasi tersebut di luar kawasan Perhutani. Meskipun demikian kami siap memberikan bantuan penanaman hutan,” ujarnya.
Jika mau rajin nanya ke Mbah Google, pasti banyak contoh lain yang sering kali membuat saya geli dan prihatin. Mengapa semua itu bisa terjadi ?
Barangkali, sang teman juga mencoba “protes” atas sesumbar saya ditautan tersebut ; “hehehe … lagi2 demo salah alamat … rasanya cuma di Jatim deh yang gak ada demo nyasar … wakakaka … ^_^”. Jika benar, mohon maaf, bukan maksud saya seperti itu, … hehehe …
Bukan pula di Jatim tidak ada demo atau protes yang ditujukan ke Perhutani, tapi sebagian besar demo mereka dengan argumen yang memang tepat bila ditujukan ke Perhutani, alias bukan demo nyasar …
Fungsi Intelijen
Terkait dengan deteksi dini potensi konflik yang saya maksudkan, mau tidak mau harus dijelaskan dengan fungsi dasar intelijen. Namun, jangan beranggapan bahwa kata intelijen ini seperti film James Bond 007 atau Novel Nick Carter :p, apalagi Mission Imposible. Mari melihatnya dengan kaca mata intelijen sebagai ilmu.
Dalam buku ”Intelligence as a science” (intelijen sebagai ilmu) yang ditulis Mayjen (purn) Inf. RM Jono Hatmodjo (2003), intelijen adalah suatu ilmu atau pengetahuan untuk mengumpulkan atau menilai bahan keterangan yang berguna bagi kepentingan pemakai intelijen itu sendiri, yang dapat berupa perorangan (individu), komandan militer, atau seorang pembuat kebijakan (policy maker), yang dapat pula suatu instansi, kepala negara, atau kepala pemerintahan.
Jika memahami definisi intelijen tersebut, sesungguhnya nyawa dari intelijen itu sendiri adalah bahan keterangan yang tidak lain adalah data dan informasi. Jika anda mengetahui dan juga meyakini begitu besarnya kekuatan sebuah institusi intelijen (misalnya CIA dan FBI di Amerika, Mossad di Israel, KGB di Rusia dan tentunya BIN milik kita bersama J), maka sesungguhnya institusi intelijen tersebut tidak memiliki kekuatan apa pun jika tidak memiliki data dan informasi. Jadi, kekuatan sesungguhnya dari intelijen tersebut terletak pada data dan informasi yang mereka miliki, termasuk bagaimana cara mendapatkan dan mempertahankannya.
“ Intelligence is knowledge, demikian secara generik menurut kamus. Jargon militer mengartikan – intelligence is foreknowledge. – kemampuan “weruh sadurunge winarah”. Meski intelijen diharapkan weruh sadurunge winarah, tatkala garis pertahanan Bar Lev Israel di Gurun Sinai hancur berkeping-keping pada ofensif Oktober 1973 oleh serbuan yang mendadak dari Jendral Sazely dalam Perang Ramadhan, orang hampir-hampir tidak bisa percaya bahwa badan intelijen Mossad yang legendaris itu ternyata tidak memiliki kawruh akan adanya ofensif di hari raya Youm Kippur sesuai dengan reputasinya yang digembar-gemborkan selama ini.” Demikian Letjend (Purn) Z.A. Maulani menuliskan dalam “Dasar-Dasar Intelijen”.
Mantan Kepala BAKIN ini, banyak menceritakan bagaimana badan intelijen hebat sering pula kecolongan dalam menjalankan fungsinya. Menurutnya, badan-badan intelijen, yang paling canggih, paling berpengalaman, dan paling bergengsi seperti Mossad, CIA, MI-6, bahkan KGB sekalipun, ternyata bukanlah lembaga-lembaga dewa yang serba tahu dan serba bisa. Bahwa intelijen sebagai lembaga harus mampu menjalankan empat fungsi utamanya, yaitu ~ to anticipate (untuk mengantisipasi), to detect (untuk mendeteksi), to identify (untuk mengidentifikasi), and to forewarn (dan untuk peringatan dini) ~ secara mumpuni, memang itulah yang diharapkan.
Sebagai sebuah fungsi, intelijen berkaitan dengan penginderaan awal atau yang lebih dikenal dengan earlywarning system. Hal ini akan mengakibatkan intelijen memiliki tugas untuk mengumpulkan, menganalisa dan memberikan informasi yang diperlukan kepada pembuat kebijakan dalam penentuan kebijakan yang terbaik untuk mencapai tujuan.
Fungsi intelijen sejak zaman dahulu kala telah telah diakui menduduki peran yang menentukan. Sun Tzu (250 SM) telah menetapkan adagiumnya yang terkenal “Ketahui musuhmu, dengan mengetahuinya sudah separuh dari kemenangan”.
Optimalisasi di Perhutani
Sebagai sebuah institusi milik negara yang mengelola aset negara strategis (saya selalu menganggap BUMN ini termasuk strategis bagi pertahanan dan keamanan negara
), Perhutani tentu memiliki unit kerja yang menjalankan fungsi intelijen ini. Setidaknya, bagi pengamanan aset tegakan kawasan hutan di Jawa Madura. Meski pun, implementasi fungsi itu masih “dianggap dan ditujukan” untuk mencegah atau mengurangi kerugian perusahaan, dan bukan menjadi bagian integral fungsi intelijen negara secara umum.
Seringkali saya mendengar kemampuan dan keberhasilan kawan-kawan KamHut dalam mendeteksi rencana pencurian kayu di kawasannya, 2 – 3 hari sebelum kejadian. Informasi yang mereka dapat entah darimana itu, tentunya merupakan hasil kerja fungsi intelijen yang diterapkannya. Sangat wajar, mengingat pendidikan khusus yang didapatnya juga memang bertujuan untuk melakukan hal tersebut.
Kalau pun masih banyak yang lolos alias kecolongan, untuk kondisi Perhutani, saya kira tidak adil jika “membedahnya” hanya dengan pisau analisis implementasi fungsi intelijen. Sangat perlu pisau lain untuk membedah masalah ini dan saya kira tidak perlu dijelaskan panjang lebar pisau apakah itu … hehehe …
. Sehingga, optimalisasi yang saya maksud dalam catatan ini bukanlah tentang mengurangi peluang kecolongan tersebut.
Optimalisasi fungsi intelijen di Perhutani, saya kaitkan untuk memperkuat “deteksi dini potensi konflik”, sehingga tidak terjadi demo nyasar. Pasalnya, bagaimana pun demo nyasar ini terjadi karena kesenjangan atau bias informasi di masyarakat tentang kewenangan Perhutani selaku pemegang amanah pengelolaan hutan negara di Jawa dan Madura. Sangat sempit memang, karena memang saya bukan pengamat intelijen.
.
Struktur organisasi Perhutani sudah lebih dari cukup untuk membuat jaringan “pengumpul” informasi. Bahkan jika mau, tidak akan pernah ada kegiatan atau gejolak apapun di desa hutan yang bisa lepas dari pantauannya. Tidak akan pernah ada kejadian, puluhan lahannya ditanami ganja tanpa diketahui. Lantas, mengapa faktanya tidak seperti itu ?
Sepengamatan dan sepengetahuan saya, fungsi intelijen Perhutani lebih fokus pada pengumpulan bahan keterangan yang terkait dengan pencurian kayu (illegal logging), perambahan kawasan dan hal-hal lain yang terkait langsung dengan keamanan kawasan dan aset yang ada didalamnya. Fungsi tersebut “mengabaikan” bahan keterangan yang menyangkut kehidupan sosial politik masyarakat di sekitar kawasan hutan. Jika pun saya salah, setidaknya bahan keterangan itu sering kali tidak digunakan oleh user sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil tindakan.
Sekedar mengambil contoh, … saya tidak percaya jika fungsi intelijen di KPH Balapulang dan di KPH Ciamis, tidak mendeteksi rencana demo tersebut (jika beneran tidak, kebangetan deh ah … hehehe). Masalahnya, mungkin karena tidak mengarah ke penjarahan dan penebangan, maka informasi ini dianggap “tidak membahayakan”. Sehingga, besar kemungkinan bahan keterangan atau informasi ini “diabaikan” untuk ditindak-lanjuti user.
Seandainya saat itu terjadi penilaian lain atas bahan keterangan yang masuk, maka tentu demo itu tidak akan nyasar. Mengapa ? karena protap-nya, user akan memasukan informasi ke area konflik yang menjelaskan bahwa “isyu yang mereka usung itu berada diluar kewenangan Perhutani”. Bukan demo-nya gak jadi, tapi TIDAK AKAN NYASAR ke Perhutani. Dan, itulah yang sering dilakukan temen2 LSM dan Kader Motivator di Jatim, sepengetahuan maupun tidak sepengetahuan pejabat Perhutani. Sehingga, sekali lagi, bukan demonya gak jadi, tapi TIDAK NYASAR ke Perhutani.
Langkah seperti itu, seringkali malah berbuah simpati kepada Perhutani sendiri. Misalnya, membantu menyerahkan atau mengkonsep surat ke pejabat daerah maupun pusat. Atau, solusi lain yang menguntungkan kedua-belah pihak. Pernah terjadi, … oh sering … dimana ? hehehe … ada aja ! ^_^
Optimalisasi fungsi intelijen Perhutani dapat dilakukan dengan memperluas cakupan bahan keterangan yang dikumpulkan. Tidak saja tentang “potensi hilangnya tegakan”, akan tetapi juga informasi tentang denyut kehidupan masyarakat desa hutan. Apakah sulit ?
Untuk menjawab itu, mari simak pernyataan tokoh guru peperangan gerilya Che Guevara, bahwa “informasi akan mengalir ke arah ke mana simpati rakyat diberikan.“ Barangkali, yang sulit adalah meraih simpati masyarakat. ^_^
“ Sebagai sebuah fungsi, intelijen akan cenderung bersifat statis. Dalam hal ini, apapun jenis situasi dan kondisinya, intelijen akan tetap berfungsi sebagai instrumen penginderaan awal bagi para pembuat kebijakan dalam pembuatan sebuah keputusan”.
Selamat berkarya untuk bangsa … ^_^


