Danau Masa Lalu


Seringkali saya memperhatikan tingkah polah anak saya yang baru belajar berlarian.  Pada usianya yang masuk tahun kedua, sekarang anak saya sudah menjadi kembara kecil, merangkak dan berlarian kemana-mana, memegang apa saja yang ingin dipegangnya, jari telunjuk mungilnya menunjuk lurus ke arah apa saja yang ingin diambilnya, termasuk kegiatan rutinnya membuka etalase dan mengacak-ngacak pajangan benang, pita, retsliting dan apa pun yang ada didalamnya.  Jika dilarang, dia akan berteriak marah, mata sipitnya melotot lucu.  Jika ibunya memaksanya berhenti, sudah dipastikan dia akan berteriak protes lalu menyerang dengan menggigit tangan atau paha ibunya.  Jika sudah begitu, biasanya dia akan meminta pertolongan saya, merentangkan keduatangannya dan mengadukan perbuatan ibunya sambil terus ngomel sambil nangis.  Barangkali, dia sudah bisa merasakan bahwa saya lebih cenderung membiarkannya berbuat apa saja.

Tatkala sedang memperhatikan ulahnya itu, seringkali saya teringat perkataan ibu dan bapak saya almarhum, tentang masa kecil saya yang bandel, serba mau tahu, tukang bongkar mainan, dan tidak mau diganggu.  Sepertinya, kelakuan saya waktu kecil dulu mirip-mirip dengan kelakuan anak saya sekarang.

Terkadang, rasa takut membuat saya sering berdo’a, memohon agar kiranya anak saya jangan memiliki jalan hidup seperti saya dulu.  Mengapa? Karena saya tahu persis apa yang saya lakukan, saya tahu persis jejak apa yang saya tinggalkan dalam perjalanan hidup saya dulu.

Jika jejak kebaikan, tentulah saya berharap anak saya pun dapat meninggalkan jejak yang setidaknya sama atau bahkan jejak yang jauh lebih baik lagi.  Tapi, banyak hal yang tidak baik yang pernah saya lakukan. Jejak yang sama sekali tidak ingin ditemukan apalagi diikuti anak saya.  Percaya atau tidak, seringkali mata saya berkaca-kaca jika rasa takut itu muncul, takut jika anak saya mengikuti jejak tidak baik yang saya tinggalkan.

Saya bersyukur memiliki rasa takut itu.  Saya jadi bersiap diri lebih dini untuk mengantisipasi segala kemungkinan, merancang lingkungan tumbuh dan berkembang bagi anak saya yang memungkinkannya dapat meninggalkan berjuta jejak kebaikan bagi dirinya, lingkungannya, agamanya serta bagi bangsa dan negaranya.  Rasa takut itu membuat saya belajar dan mengambil hikmah dari jejak yang telah saya ditinggalkan.

Sekarang, setiap hari saya selalu menyebut anak saya, Muhammad Aulia Rahman Krisnadi sebagai anak shaleh, membanggakannya sebagai calon penghafal Al-Qur’an yang akan menuntut ilmu di Madinah.

Masa lalu bagi saya ibarat sebuah danau dengan air yang bening dan segar. Jika udara tak lagi nyaman dan gerah menyelimuti tubuh, maka berenang dalam kebeningan airnya, seringkali dapat mengusir gerah itu dan kesegarannya menentramkan hati.

“Berenanglah di danau masa lalu, tapi jangan pernah tenggelam didalamnya.”

Kembara Tani.

Tulis sebuah Komentar