MIMPI OASE DI PADANG METROPOLITAN

( Catatan Kembaratani di Batas Ibu Kota )

Rajawali Agung, ucap lelaki simpatik berperawakan tinggi dengan kumis tipisnya ini, sambil menyalamiku.  Dua pemuda yang tengah berbincang dengannya, turut pula menyalamiku. “Langsung ke lapangan yuk” ujarnya ketika menyalami sobat lamaku, Guntur Setiadi, yang disambutnya dengan anggukan pasti.

Sepanjang perjalanan menuju Dusun Cisaat, Desa Kertahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, keheranan dan pertanyaan semakin menumpuk dan terus bertambah. Betapa tidak, benakku menggambarkan Bekasi adalah wilayah yang padat dengan jejeran pabrik, gedung dan segala hiruk-pikuk ciri khas kawasan industri.  Komunitas masyarakatnya pun tentu saja dipenuhi oleh para pekerja industri, kaum buruh dan para pengusaha lengkap dengan gaya hidup khas komunitas industri.  Itu dalam benakku, karena jujur saja, Bekasi hampir tidak pernah mendapatkan perhatianku.  Pasalnya, ku pikir memang tidak ada hubungannya dengan minat aktivitasku sebagai Kembaratani.

Tapi, dalam perjalanan kali ini, gambaran dalam benakku blas ! hilang musnah.  Gambaran itu berganti fakta di depan mata berupa, jalan aspal menipis bersambung gelombang jalan tanah berkubang lumpur.  Hamparan sawah, kencur, salak berselang semak, Pohon Melinjo tegak menjulang bersanding dengan gagahnya pepohonan lain, menciptakan gradasi hijau di sisi kiri kanan sepanjang jalan masuk Kertahayu.

Benarkah saat ini aku berada di sisi Ibu Kota Jakarta? Tapi mengapa hamparan yang kulihat, jelas-jelas gambaran keseharian perjalananku di batas-batas hutan Jawa atau di desa-desa pertanian tempatku menangguk ilmu dari para mahaguru tani?  Kecuali kumpulan tegakan pohonnya yang jelas-jelas lebih beragam.  Apa pula maksud Guntur, sang sobat, “memaksa” ku jauh-jauh dari Blora di batas Jawa Timur, untuk turut dalam “pengembaraan jiwa” nya kali ini? Pertanyaan-pertanyaan yang setiap kali kucoba jawab, malah semakin bertambah.

Sebuah Mimpi

Beberapa orang pemuda menyongsong kami, ketika berhenti di depan sebuah rumah sederhana.  Ramah dan penuh semangat mereka menyalamiku dan Guntur ketika Rajawali memperkenalkan kami kepada mereka.  Rajawali yang belakangan kuketahui salah satu pejabat di Pemkab.

Bekasi ini, tampak akrab bercanda dengan mereka sebelum akhirnya dia “membuka resmi” acara yang dia sebut silaturahmi generasi ini.  Istilah yang menurutku “lucu” namun memiliki makna perenungan.

Leo, salah satu dari kelompok pemuda itu, memperkenalkan teman-temannya, plus jabatan yang disandang mereka masing-masing.  Rupanya mereka bagian dari Karang Taruna Desa Kertahayu.  Tak lama berselang, Kepala Desa Kertahayu datang dan turut lebur dalam diskusi yang kupikir lebih mirip “curhat” ini.

“Saya punya mimpi yang kebetulan sama dengan teman-teman di sini, Pak Guntur” ujar Leo dengan nada dan mimik wajah yang serius.  Sontak, temen-temennya pun berubah serius, sejenak hening menyergap kami.

Kami, lanjut mantan Sekjen Himpunan Mahasiswa Bekasi ini, selalu membayangkan desa kami ini tidak menjadi seperti desa-desa lain yang sudah terlanjur seperti sekarang ini.  Kami ingin desa kami maju, fasiltas umum memadai, adik-adik kami mampu mencapai pendidikan seperti saya.  Saat ini, hanya saya yang pernah merasakan bangku kuliah.  Tapi, kami tidak ingin menggapai mimpi itu dengan menggadaikan permadani hijau milik kami.

“Pak Guntur melihat dan merasakan sendiri dalam perjalanan ke sini, sepertinya kami ini belum merdeka, padahal kami ini tetangga Ibu Kota” tandasnya bergetar.  Mataku menangkap senyum kecil di wajah Guntur.  Sepertinya dia teringat “kelakuannya” di masa seusia Leo.  Aktivis kampus dengan segala idealisme dengan kegagahan bahasa yang diekspresikannya.  Sementara Rajawali yang sempat dilirik Leo ketika menegaskan kata “belum merdeka”, hanya menaburi suasana dengan tawanya.

Intinya, lanjut Leo, kami ingin kemajuan desa kami ini sebagai buah dari agribisnis, bukan industri.  Faktanya, industri hanya membuat kami menjadi buruh kontrak yang gajinya ditetapkan UMR, dan sulit berubah menjadi pengusaha yang hasilnya tergantung dari kreativitas dan kerja keras mengembangkan usahanya.  Hening kembali menyelimuti kami.

Sejenak, aku terhenyak.  Rasa yang sama kutangkap pula dari sorot mata Guntur ketika sesaat kami saling tatap.   Bukankah kalimat ini (meski tidak persis sama), adalah kalimat kami 15 tahun lalu ketika sering “mencoba mengingatkan” pemerintah saat itu, agar tetap pada jalur kearifan dan jati diri sebagai bangsa agraris? Dan tidak serta merta meloncat menjadi industrialis?  Tentu saja, kecuali industri yang dimaksud adalah Agro-Industri, industri berbasiskan bahan baku hasil pertanian.  Ya Tuhan, mengapa pula kalimat yang sudah hampir 15 tahun lebih kami ucapkan, masih harus pula diucapkan oleh adik-adik kami saat ini?  Kesalahan kami kah? yang terlalu asyik dengan konsep-konsep idealis dan melupakan implementasinya.  Betapa besar dan luas negeri yang Kau berikan untuk bangsa ini, sehingga sulit sekali meski hanya untuk sekedar berbagi dan meratakan hasil kerja keras para pemimpin kami.

Multi Sinergi, Sebuah Solusi

Mimpi Leo dan para pemuda desa ini, mungkin saja mimpi banyak pula pemuda desa lainnya yang bertebaran di negeri ini.  Jujur saja, perasaanku sangat lega ketika Rajawali mengatakan bahwa dirinya dan jajaran Pemkab Bekasi, tengah membentuk sinergi untuk mewujudkan mimpi mempertahankan “karpet hijau di beranda rumah industri”.  Guntur pun menebalkan keyakinan mereka, bahwa bidang yang digelutinya saat ini, menjadi motivator bagi kewirausahaan pemuda, sangat selaras dengan mimpi mereka.  Bahkan, banyak contoh dan tawaran-tawaran disampaikannya.  Contoh tuntas sebuah rangkaian agro-industri, sejak tanam hingga komoditas hasil panen berada di tangan konsumen.

Semangat dan sorot mata penuh harap, mulai memenuhi ruangan silaturahmi generasi ini.  Perbincangan pun bergeser pada rencana tindak lanjut.  Bagiku, pertemuan ini lebih menunjukan sebuah sinergi multi pihak untuk menciptakan solusi bagi negeri ini.  Tanpa harus jari ini menuding siapa yang salah.  Tapi, berubah menjadi siapa yang melakukan apa untuk kebangkitan dan “kemerdekaan negeri” Kertahayu ini dari kemiskinan, keterbatasan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan yang berkeadilan.  Pasalnya, para pihak cukup mewakili sinergi multi pihak yang diperlukan.  Leo dan para pemuda desa mewakili masyarakat desanya sebagai implementator, Kepala Desa  mewakili pemerintahan desanya sebagair regulator, Rajawali mewakili pemkab Bekasi sebagai

pemegang otoritas otonomi daerah, dan Guntur sebagai komandan lintas LSM (yang bergabung dalam Yayasan Hijau Bangkit Indonesia), bertindak sebagai motivator dan fasilitator keinginan mereka untuk mewujudkan cita-cita dan harapan masyarakat Desa Kertahayu.

Sinergi mereka semua, sebuah kekuatan yang lebih dari cukup untuk mewujudkan “Mimpi Oase di Padang Metropolitan”.  Oase yang akan selalu mengalir membasahi desa-desa sekitarnya dan tidak akan pernah berhenti mengalir.  Oase yang akan menjadi solusi bagi negeri ini.  Jika pun tidak, setidaknya pastilah bagi masyarakat Desa Kertahayu.

Desa Agrowisata (mandiri) Setu

Akhirnya, diskusi mengerucut pada sebuah kesepakatan untuk menjadikan Desa Kertahayu ini sebagai Desa AGROWISATA SETU.  Bahkan, semua sepakat untuk meminta Bupati Bekasi untuk mengukuhkan “mimpi” ini, menjadi Desa Kertahayu sebagai contoh Desa Agrowisata Mandiri yang ada di Kabupaten Bekasi.  Menurut Rajawali, mereka yakin Bapak Bupati akan berkenan, karena sebelumnya telah dibuka komunikasi yang mengarah ke hal tersebut dan  Bapak Bupati sangat respon terhadap aspirasi kreatif masyarakat yang tersalur dengan baik dan benar seperti ini.

“Pada intinya, Bapak Bupati, Bapak Wakil Bupati dan Bapak Sekda, serta seluruh jajaran pemerintahan Pemkab Bekasi, selalu responsif terhadap ide-ide kreatif masyarakat untuk kemajuan Kabupaten Bekasi” ujarnya.

“Itulah Mas, kita bersama-sama harus menyusun dan menjelaskan sejelas-jelasnya kepada beliau tentang “mimpi” ini, agar benar-benar jelas sehingga pemerintah dan multi pihak  lainnya, dapat mengambil sikap apa yang dapat dilakukan untuk mewujudkan harapan kita bersama ini” timpal Guntur.

Saya akan bantu bibit pohon Albasia, lanjut Gutur yang kerap diminta membantu Menpora melalui Deputi Kewirausahaan Pemuda, teman-teman siapkan tenaga dan Pak Kades akan menyiapkan lahan desa.  Hasilnya untuk kita bersama, setidaknya itu untuk pendapatan tahunan.  Nanti kita susun juga komoditas apa yang diunggulkan yang sekiranya dapat menjadi sumber pendapatan harian, mingguan, bulanan dan per semester.  Termasuk kerajinan berbahan alam seperti kertas pelepah pisang yang saat ini terbuang misalnya.

“Hanya saja, usaha ini harus dilandasi kekuatan hukum yang mengikat.  Bukan masalah percaya atau tidak percaya, tetapi kita belajar menyiapkan mental menjadi seorang wirausahawan yang berkomitment dengan kerjasama, kebersamaan sosial dan usahanya.  Jangan setelah berhasil kemudian pada rebutan hasil, terus bubar jalan” tegasnya diiringi tawa semua.

Kepala Desa Kertahayu sepakat untuk menyiapkan lajhan disetiap RT untuk sentra komoditas sejenis.  Nantinya, setiap RW akan fokus pada satu jenis komoditas unggulan, sehingga akan ada beberapa komoditas unggulan yang akan dipasarkan di area “Pasar Wisata” (dadakan) setiap sabtu dan minggu.  Ini untuk menangkap peluang banyaknya orang-orang yang pada akhir minggu ini datang ke Kertahayu dengan sepeda santai dan menyambangi sumur mata air Setu yang tidak pernah kering.  Bahkan direncanakan, konsumen akan memetik sendiri komoditas yang diinginkannya.

“Mudah-mudahan, dengan informasi dari mulut ke mulut, Desa Agrowisata (mandiri) Setu ini, dapat benar-benar menjadi salah satu tujuan wisata lingkungan lokal yang berkembang dan membawa peningkatan kesejahteraan bagi masyarakatnya ” ujar Kades Kertarahayu menutup perbincangan.

Semoga kawan, Selamat berjuang adik-adikku, meski banyak dari kami yang tidak pernah bertemu denganmu, yakinlah, kami tidak pernah akan meninggalkan kalian.

” Ya Tuhan, ijinkanlah niat mereka, berilah kekuatan pada mereka, dan wujudkanlah mimpi mereka.  Engkau Maha Tahu, bukan lautan yang mereka minta, tapi hanyalah sebuah “oase di padang metropolitan “.

Bekasi, 26 April 2009

Tulis sebuah Komentar