( Catatan Kembaratani di Batas Ibu Kota )
Rajawali Agung, ucap lelaki simpatik berperawakan tinggi dengan kumis tipisnya ini, sambil menyalamiku. Dua pemuda yang tengah berbincang dengannya, turut pula menyalamiku. “Langsung ke lapangan yuk” ujarnya ketika menyalami sobat lamaku, Guntur Setiadi, yang disambutnya dengan anggukan pasti.
Sepanjang perjalanan menuju Dusun Cisaat, Desa Kertahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, keheranan dan pertanyaan semakin menumpuk dan terus bertambah. Betapa tidak, benakku menggambarkan Bekasi adalah wilayah yang padat dengan jejeran pabrik, gedung dan segala hiruk-pikuk ciri khas kawasan industri. Komunitas masyarakatnya pun tentu saja dipenuhi oleh para pekerja industri, kaum buruh dan para pengusaha lengkap dengan gaya hidup khas komunitas industri. Itu dalam benakku, karena jujur saja, Bekasi hampir tidak pernah mendapatkan perhatianku. Pasalnya, ku pikir memang tidak ada hubungannya dengan minat aktivitasku sebagai Kembaratani.

