Salahkah jika harus Terpisah?

Seorang teman, pegawai Perum Perhutani, “mengadu” gara-gara tidak diijinkan Kanitnya untuk mengikuti pertemuan Serikat Pekerja yang baru lahir dengan jajaran Direksi.  Seperti biasa, saya hanya senyam-senyum mendengar gerutuannya.  Tidak disangka, puluhan sms pun masuk dengan nada yang hampir sama.  Beberapa mempertanyakan apa pendapat saya atas hadirnya 2 serikat karyawan di Perum Perhutani.

Saya pun menjwab dengan kalimat yang sama, seperti ini :

“Kawan, meskipun sama-sama zat cair, Air dan Minyak jelas-jelas akan lebih bermanfaat bila berada dalam dua wadah yang terpisah.  Tidak ada yang salah dengan keterpisahan.  Itu jalan untuk mengambil manfaat yang lebih besar.  Fastabikhul khoerot, Berlomba-lombalah dalam kebaikan”.

Dari sekian banyak yang balas, hanya satu yang membuat saya merenung.  Dia, menulis seperti ini :

“Kata-kata bijak hanya dapat dipahami oleh hati yang bijak pula.  Jika angkara memenuhi jiwa, maka hanya keserakahan yang memenuhi hatinya”.

Benarkah ?  Lantas, bagaimana halnya dengan amanah pengelolaan hutan Jawa yang ada ditangan kawan-kawan yang menyebut diri Rimbawan ini?  Janganlah sampai kawanku, rakyat mempertimbangkan lagi penyerahan amanah pengelolaan hutan negara ini, hanya karena keterpisahan yang tidak dapat dipahami dengan hati.

Salam Hutan Lestari.

Durenan, Desa Hutan yang Tergadaikan

Sukamto, TPM KPH Saradan, dalam forum Training of Trainer bagi TPM PHBM se Unit II Jawa Timur, berceritera tentang kondisi sebuah desa hutan yang membuat saya terhenyak.  Tampak jelas kepedulian dan keyakinan terpancar dalam ekspresi dan intonasi kata yang dituturkannya. Tidak sabar, saya pun ingin memastikan dan meyaksikan sendiri kebenaran ceritanya.  Bukan tidak percaya atas informasinya, tetapi lebih kepada keingintahuan atas kondisi yang digambarkannya, yakni sebuah desa hutan yang kaya sekaligus miskin pada saat bersamaan.

Sebenarnya, gambaran seperti itu merupakan gambaran nyata desa hutan pada umumnya.  Komunitas Desa hutan adalah komunitas yang kaya dengan sumberdaya alam yang berlimpah. Namun pada saat bersamaan juga komunitas yang sebagian besar termasuk kelompok miskin, karena ketidakmampuannya mengkonversi kekayaan tersebut menjadi sumber pendapatan yang layak.

Desa Durenan, Kec. Gemarang Kab. Madiun, berbeda dengan gambaran tersebut.  Komunitas desa (hutan) Durenan, miskin karena sumberdaya alam miliknya, berupa pohon buah-buahan, digadaikan pada para pemilik modal yang meminjamkan sejumlah uang kepada mereka.  Sistim gadai yang disepakati, mengharuskan mereka menyerahkan seluruh hasil panen pohon buah-buahannya kepada pemilik modal, selama pinjaman mereka belum dapat dilunasi.

Lingkaran ketidakberdayaan pun muncul tak berakhir. Masyarakat Durenan kehilangan sumber pendapatan dari pohon buah-buahan milik mereka, sehingga mereka tidak mampu mengembalikan pinjamannya,  Dan, karena tidak mampu mengembalikan pinjamannya itu, maka mereka harus tetap kehilangan sumber pendapatan dari pohon buah-buahan miliknya. Akibatnya, bertahun-tahun mereka terjebak dalam lingkaran ketidakberdayaan sebagai akibat sistim gadai yang mereka sepakati. Baca entri selengkapnya »

“Bicara dengan Data, Bertindak dengan Rencana”

Kekuatan Data dan Informasi

Ungkapan “siapa yang menguasai data dan informasi, maka dia akan menguasai dunia”, tentu pernah kita dengar.  Begitu pula dengan ungkapan “buku adalah jendela dunia”, sering pula kita dengar.  Sebenarnya, apa sih yang dimiliki buku sehingga diumpamakan sebagai jendela dunia? Artinya, seperti sebuah jendela, dengan buku itu kita dapat melihat tempat dan mengetahui apa pun di dunia tanpa harus datang mengunjunginya.

Jawabannya, karena buku memiliki banyak Data dan Informasi.  Lantas, kekuatan seperti apakah yang dimiliki Data dan Informasi, sampai-sampai diumpamakan bahwa yang menguasainya akan dapat menguasai dunia ?  Untuk menjawabnya,  saya akan mengajak anda untuk bertanya pada diri sendiri dengan serangkaian pertanyaan-pertanyaan.

Setelah anda mengikuti dan menyelesaikan langkah ketiga, anda mengetahui bahwa desa hutan memiliki potensi yang sangat besar, tapi mengapa selama ini mereka selalu berada dalam kondisi ketidakberdayaan ?  Mengapa potensi itu tidak dapat merubah kehidupan warganya ? Mengapa mereka mengalami “kesulitan hidup” ditengah “kelimpahan bahan untuk hidup” ?  Mengapa mereka miskin ditengah kekayaan alam ?  Jika pun mereka harus mati dalam keadaan miskin, mengapa pula mereka seperti ayam mati kelaparan di lumbung padi ? Baca entri selengkapnya »

Mengambil tanpa Mengurangi

Lingkungan adalah Hidup Kita

Saya sungguh sangat beruntung, lahir dan besar di lingkungan desa pantai pesisir selatan Jawa Barat, tepatnya Pantai Pangandran di Ciamis Selatan.  Sebuah desa teluk yang merupakan perpaduan nuansa kehidupan desa nelayan dan pertanian.  Eyang saya termasuk orang kaya, memiliki perahu, jaring, kebun kelapa dan hamparan sawah.  Ayah saya memiliki sebuah penginapan sederhana tepat di tepi pantai, beberapa meter disebelahnya terdapat hutan alam yang dikenal dengan nama Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Begitu banyak orang disekitar Eyang saya yang hidupnya sangat tergantung pada beliau.  Meskipun beliau itu kakek dan nenek dari ayah saya, tapi entah mengapa saya memanggil beliau berdua dengan sebutan Nene dan Aki (nenek dan kakek).

Saya besar dalam pengasuhan keduanya dan sekali lagi, saya sangat beruntung karena keduanya sangat memanjakan saya.

Masa kecil saya penuh berisi “permainan dan kenakalan” khas anak pantai di tepi hutan, interaksi dengan hutan dan laut lepas adalah keseharian saya.  Kucing-kucingan adalah permainan yang biasa dilakukan anak-anak, tapi kami melakukannya di atas pohon, melompat dari dahan ke dahan, saling kerjar dan menghindar, atau uji nyali bertatapan dan adu teriak dengan monyet di atas pohon.  Jika berhasil mengusir monyet, kami pun menepuk dada dan berteriak seperti Tarzan.  Kadang menelusuri gua dan sungai bening di dalam hutan, mandi di mata air atau air terjun yang langsung mengalir ke laut.

Jujur saja, sebenarnya saya dilarang masuk ke dalam hutan, karena Aki bilang di dalam hutan banyak sekali petilasan karuhun (nenek moyang) saya yang tidak boleh dirambah.  Mengambil sesuatu di hutan sangat dipantang, meskipun itu hanya sepotong ranting kering, jika nekad melakukannya dan ketahuan, Aki akan menjemur saya di halaman dan ditonton banyak orang. Baca entri selengkapnya »