Bunga Rumpun Liar di Tanah yang Terlantar


Suatu sore, NASHA ku parkir tepat di depan pintu gerbang Gedung Agung.  Gedung yang berfungsi sebagai Wisma Negara dan tempat menerima tamu-tamu agung yang berkunjung ke Jogja ini, terletak tepat di depan benteng Vredenburgh dan  merupakan tempat mangkal favoriteku.

Di bawah beringin, aku duduk di bangku taman.  Ada keasyikan tersendiri duduk di bangku ini, memperhatikan lalu lalang pejalan kaki, atau kendaraan yang melintas dari arah Malioboro.  Terkadang, aku suka senyam-senyum sendiri melihat ulah kocak anak-anak jalanan yang juga biasa mangkal di “atas”.  Istilah “atas” ini, aku ketahui dari sahabat-sahabatku anak-anak jalanan basecamp Alun-alun Utara, untuk sekedar menyebut lokasi yang memang letaknya lebih tinggi dari Alun-alun Utara.

Pada waktu-waktu tertentu, memang sengaja NASHA aku parkir di tempat itu.  Maksudku, agar pesan yang terpampang dalam papan di atas bak NASHA, terbaca oleh banyak orang.  Sedikit advokasi sih, tapi itu juga sangat berkaitan erat dengan misiku: “Mensosialisasikan Gerakan Membangun Sinergitas untuk Petani Indonesia yang kusingkat Gema SuPI.  Dan, siapa tahu terbawa pulang para wisatawan yang datang dan kebetulan membacanya.  Syukur-syukur, jadi bahan renungan serta memberikan inspirasi padanya.

Pada salah satu sisi papan itu tertulis : BERSATU UNTUK KESEJAHTERAAN PETANI INDONESIA, dengan kombinasi warna merah dan putih, serta latar belakang desain grafis areal persawahan dan beberapa komoditas pertanian.  Di bawah tulisan itu, tertulis : Saatnya membangun sinergitas yang selaras untuk menjadikan kesejahteraan petani sebagai jembatan emas bagi terciptanya bangsa Indonesia yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur, dengan warna huruf hitam dan latar berwarna kuning.

Sedang pada sisi lainnya, terdapat tulisan: Terima Kasih Bapak & Ibu Tani, Atas Pengabdian Tanpa Henti Untuk NEGERI AGRARIS INDONESIA.

Pada bagian atap yang menutup bak, terdapat fotoku dengan pakaian hitam-hitam mengenakan caping dan desain grafis komoditas pertanian, tepat di bawah fotoku itu tertulis Kembara Tani.  Pada bagian tengah atap terdapat tulisan: “Disscusion Tour Jawa Dwipa”, lalu dibawah tulisan ini tertulis juga: Perjalanan Keliling Pulau Jawa, serta tulisan: Merasakan apa yang Petani Katakan dan Mengatakan Apa yang Petani Rasakan.  Pada bagian bawahnya, tertulis organisasiku dan nomor kontaknya.

Aku sering membiarkan orang-orang yang melewati NASHA berhenti dan membaca tulisan-tulisan itu.  Biasanya, mereka tungak-tengok kiri kanan, melongok ke dalam bak NASHA yang berisi ransel dan tas bajuku, buku-buku serta perlengkapan perjalanan lainnya.  Kemudian mengitari NASHA, lalu jongkok memperhatikan mesin dan struktur rangka NASHA yang memang tampak kokoh dan gagah.  Kadang kala aku menghampiri mereka sekedar untuk berbincang ringan tentang topik petani dan sektor pertanian.  Tapi, seringkali juga malah merembet ke hal-hal berat, keluar dari bingkai petani dan sektor pertanian itu sendiri.

Menjelang Magrib, seorang perempuan muda kupergoki tengah membaca tulisan itu.  Kuperhatikan, bibir mungilnya bergerak mengikuti untaian kata-kata yang tertera di papan.  Berjalan lembut mengitari NASHA dan membaca tulisan di sisi lainnya.  Sejenak kulihat perempuan itu termenung, kemudian tungak-tengok kanan kiri, seolah mencari sesuatu, dan matanya beradu dengan tatapanku.  Dia tersenyum simpul diiringi tatapan tanya yang jelas tertuju kepadaku.  Aku pun membalas senyumnya seraya mengangguk.

“Iya Mba” ujarku segera, seraya bangkit menghampirinya, menyodorkan tanganku dan mengajak bersalaman.  Tangan putih dan lembut, menjabat tanganku.

“Lastri” ujar perempuan yang kuduga seorang mahasiswi itu singkat.

“Motornya, bagus yah” sambungnya menatapku, aku hanya nyengir mendengar pujiannya.  Pasalnya, aku yakin pujian itu hanya basa-basi saja.  Moso, perempuan bertubuh langsing dan berpenampilan anak gedongan itu, tertarik sama motor roda tigaku yang rame.  Padahal, tadi jelas-jelas kulihat bibirnya bergerak membaca tulisan di papan.  Iseng banget sih milih kalimat pembukanya, batinku.

“Sendirian Mba?” tanyaku tak kalah isengnya.  Pemilik bulu mata lentik itu mengangguk pelan tanpa menoleh kepadaku.  Mata itu tetap lekat ke tulisan di papan.

Tak kuduga sebelumnya, perbincanganku dengannya mengalir lancar selancar arus lalu lintas di Malioboro sore itu.  Beberapa komentarnya tentang tulisan yang dibacanya, cukup mengagetkanku.  Jangan-jangan, mahluk lucu yang satu ini, anak Faperta, batinku.  Semakin lama, semakin aku betah mendengar tuturannya.  Apalagi, ketika diketahuinya aku tengah menulis sebuah buku tentang pengembaraanku di Jogja, lengkap dengan rencana judul bukunya : Ada Petani di Malioboro, Lastri semakin semangat berkomentar dan mendominasi perbincangan kami.

“Sebenarnya, kalo Mas ndak keberatan sih, ada yang ingin saya sampaikan.  Siapa tahu dapat menambah lembar-lembar buku Mas nantinya.  Saya juga anak petani loh” ujarnya tersenyum.

Mbanya anak petani?” ujarku tidak percaya.

“Beneran, napa? ndak boleh petani punya anak cantik?” jawabnya mengerling nakal diikuti tawa renyah.  Sialan, pikirku.  Tapi, bener juga sih, berbalut blues warna coklat dan kaus tangan panjang dengan warna senada, Lastri tampak cantik dan sexy.

Kami pun sepakat untuk bertemu kembali.  Lastri berjanji akan mengontakku dan menentukan kapan dan dimana akan bertemu.

“Memangnya Mba tahu nomor saya?” tanyaku yang dijawabnya dengan senyuman dan telunjuk yang mengarah ke atap bak NASHA.  Ups! Aku lupa bahwa di situ tertera nomor Handphone ku.

“Nomor hp Mba, berapa?” tanyaku setengah meminta.

“Saya aja yang telepon Mas, yah?” ujarnya seraya pamitan.  Curang, batinku, mengiringi kepergiannya. Suara Adzan dari Mesjid Gede Kauman terdengar sayup, sore pun semakin redup.

Lastri menepati Janjinya.  Dalam perjalanan dari Bantul menuju Sleman, dia mengontakku.

“Pagi Mas, ini Lastri, masih inget ndak?” sapanya.  Aku kaget.

“Hai, dimana nih?” balasku sok akrab.

“Saya di kampus, jadi ndak ketemuannya?”

“Boleh, tapi saya masih di Bantul nih, kapan?”

“Kalo ntar malem, jam tujuhan, gimana?”

“Boleh, dimana?”

“Nanti aku telepon lagi, eh Mas, jangan telepon ke nomor ini yah?”

Loh, emang kenapa?”

Coz, ini nomor wartel” suara tawa penuh kemenangan terdengar renyah di seberang sana seriiring dengan bunyi klik.  Sambungan telepon terputus.  Tinggal aku yang bengong memandangi Hpku.  Sialan jilid dua nih, batinku.

Didorong rasa penasaran, sejak jam 5 sore aku parkir NASHA di sebuah penitipan sepeda motor di sekitar terminal Giwangan.  Aku hanya berbekal tas hitam kecil berisi “alat perang”ku, sebuah notes, pena dan kamera saku, serta rokok dan jaket hitam kesayanganku.  Keluar dari penitipan sepeda motor, aku malah bingung mau menuju kemana.  Pasalnya, pertemuan yang sok rahasia-rahasiaan ini, entah mau digelar dimana nantinya.  Tak lama, kuputuskan untuk naik Bis Kota Jalur 4 dan menunggu informasi berikut di tempat pertama kalinya mahluk jail itu muncul.

Jam tujuh tepat, Hp ku berdering.  Nomor dengan kode wilayah 0274 muncul dilayarnya.  Pasti dia, batinku.  Panggilan itu ku tolak.  Selang beberapa saat, Hp ku berdering lagi.  Nomor yang sama dan kutolak lagi.  Biar tahu rasa, batinku penuh kemenangan.  Hp ku berdering lagi, kali ini ku angkat.  Kalah juga, akhirnya.

Ko dimatiin sih?” suara lembut terdengar ketus.

“Kirain tukang kredit” ujarku sekenanya. Tawa renyah yang ku kenal kembali terdengar di seberang sana.

Mas, tahu Inna Garuda ndak?”

“Tahu, kenapa?”

“Aku di Lobby, ke sini ya?”

Ko, di hotel sih?” tanyaku heran dan deg-degan.

“Eh Mas, jangan telepon nomor ini ya?” larangnya tanpa menghiraukan pertanyaanku.

“Kenapa? Wartel lagi?” sergahku.

“Salah! Coz, ini nomor hotel” suara tawa penuh kemenangan kembali terdengar renyah di seberang sana, seiring dengan bunyi klik.  Sambungan telepon terputus.  Tinggal aku yang masygul, bengong memandangi Hpku.  Sialan jilid tiga rupanya, batinku.

Penasaran, ku telpon juga nomor itu.

“Inna Garuda, selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” ujar suara di seberang sana.

“Maaf Mas, salah sambung” buru-buru aku menutup telepon.

Kakiku melangkah ke ujung Malioboro dan menghilang diantara lalu lalang orang-orang yang berjalan, di sela-sela motor yang berderet-deret parkir di pelataran Malioboro.

Di Lobby, ku lihat Lastri tengah asyik ngobrol dengan seorang laki-laki setengah baya.  Melihat kedatanganku, tangannya melambai ke arahku yang diikuti tatapan laki-laki di sampingnya.

“Malem” ujarku seraya menyodorkan tangan ke arah laki-laki itu.

“Malem, mau jemput Wulan ya?” ujarnya singkat. Jemput Wulan? batinku kaget.

Om, ini kakak, Wulan pergi dulu yah?” sambar perempuan disampingnya, mencoba menutup kekagetanku.  Paham situasi, aku tersenyum dan menganggukan kepala ke arah laki-laki itu yang dipanggilnya Om itu.

“Hati-hati ya” ujarnya melepas kepergian kami.

Di luar, hening menyergap kami.  Hanya suara sepatu hak tinggi dari langkah perempuan disampingku yang terdengar berisik dan menjengkelkan di telingaku.

“Kita kemana?” tanyanya memecah keheningan.

“Terserah Mba Lastri, atau Mba Wulan, atau siapa pun adanya Mba” ujarku tanpa menoleh ke arahnya.  Menangkap kejengkelanku, perempuan itu menarik tanganku dan berbisik di telingaku, “Ini bagian dari yang ingin saya ceritakan.”  Aku menoleh ke arah suara itu, hampir saja pipiku beradu dengan bibirnya.  Matanya ku tatap lekat-lekat.  Perempuan itu mengangguk pasti.  Aku menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri.  Bukan saja karena kekagetan yang beruntun, tapi juga karena tubuhnya sangat rapat dengan lenganku.

Makan malam di lesehan, tepat di depan Masjid Gedung DPRD DIY, berhasil mencairkan kebisuan yang sempat membalut kami.  Lastri, nama yang menurutnya nama aslinya, bertutur tentang desa kelahirannya, sebuah desa pegunungan di salah satu kecamatan di kabupaten di DIY.

“Aku pernah ke sana” ujarku yang membuatnya berhenti menggit burung dara goreng ditangannya.

“Masa sih? Ketemu sama siapa?” tanyanya tidak sabar. Lastri menunggu jawabanku. Burung dara goreng masih ditangannya.  Aku tertawa melihat posisi tangannya.

“Makan dulu, ntar terbang susah nangkepnya” ujarku.

Sadar posisi tangannya yang memegang burung dara goreng berada tepat di depan dadanya, ia tertawa lepas.  Beberapa pasang mata melirik ke arah kami.  Aku memberi isyarat agar dia menghentikan tawanya.

Bodo” tanggapnya ringan.

“Ketemu sama sapa Mas?” tanyanya masih penasaran.  Aku menyebut sebuah nama.

Swear?” susulnya tidak percaya.

“Iya lah, trus aku tahu darimana nama itu?” sergahku meyakinkan.

My God! Itu Budeku” ujarnya menatap tajam ke arahku.  Giliran aku yang kaget.  Mata kami beradu tatap, lekat.

“Mata kamu indah ya?”

“Usaha deh” ujarnya tak acuh.  Matanya tetap lekat menatap mataku.

“Masa sih itu Budemu?”

“Beneran, cerita dong” pintanya.

Aku pun menceritakan apa yang kulihat dan kudengar dari perempuan yang diakuinya sebagai Budenya itu.  Apa yang sedang dilakukannya dengan kelompoknya,  perbincangan kami dan harapan-harapannya.  Lastri tampak serius menyimak penuturanku.  Sekilas kutangkap ada bening mengambang dimatanya yang memerah.  Bening itu lalu jatuh perlahan menyusuri pipinya.  Bibirnya bergetar dalam gigitan barisan putih gigi-giginya.  Kusodorkan tissue.  Hening kembali menyergap kami.

Kerinduan telah mencabik-cabik bagian halus perasaan dan naluri kewanitaannya.  Kubiarkan Lastri larut dengan perasaannya.  Sekelompok pengamen melantunkan lagu milik Slank, … ku tak bisa … jauh … jauh … darimu…

Pinten Mas?” tanyanya pada seorang laki-laki yang mengambil piring di meja kami.

“Biar aku yang bayar” cegahku.

Napa? Karena uangku haram?” hardiknya. Ada kilatan di bola matanya.

“Bukan, gak enak masa cewek yang bayar, emang aku berondong” sanggahku.

“Emansipasi” ujarnya singkat.  Kali ini tawa renyah itu kembali kudengar.  Selembar seratus ribuan diserahkannya pada laki-laki tadi.

“Emang ceritamu dah selesai?” tanyaku.

“Belum, baru permulaan, ntar aku lanjutin yah” jawabnya tersenyum penuh arti.

Kami pun melangkah keluar, tangannya menggandeng tanganku.  Taxi warna merah marun membawa kami membelah Malioboro.

Lastri bungsu dari 3 bersaudara.  Kedua kakaknya laki-laki dan sudah berkeluarga.  Keduanya berkerja di salah satu pabrik di kawasan Bekasi.  Menurutnya, kedua kakaknya itu, setidaknya dua kali dalam setahun pulang menjenguk orang tuanya.  Sedang dia sendiri, mahasiswi universitas negeri ternama di Jogja.

“Bapak saya petani, bapak menggarap tanah kas desa.  Sedang Ibu saya buruh di ladang.  Kadang membersihkan ladang, membantu menanam atau memanen ladang orang lain” tuturnya.  Matanya menerawang, mengingat masa-masa hidup dan tumbuh di desanya.  Kadang bertutur diikuti senyuman, bahkan tawa.  Kadang pula dengan suara sendu dan tetesan air mata.  Kini aku paham, mengapa apresiasinya tentang tulisanku dulu, cukup mengagetkanku.  Ternyata, bukan hanya kadar intelektualitasnya saja yang membuatnya mampu melontarkan komentar-komentar dan mengapresiasi tulisan-tulisan itu.

Tapi, justru karena Lastri adalah saksi hidup dan bahkan pelaku atas kesialan nasib petani selama ini.  Dia adalah tinta dalam kertas buram perjalanan hidup sebuah keluarga tani.

Masa kecil Lastri, diakuinya penuh dengan kisah susah.  Makan nasi campur jagung, atau gaplek yang diolah jadi tiwul.  Kesehariannya membantu bapak atau ibunya bekerja di ladang.  Seringkali keluarganya tidak dapat memenuhi kebutuhan minimal, semisal makanan dan air.  “Hasil tani bapak berapa sih Mas? Apalagi hasil panennya harus dibagi dua sama yang punya tanah.  Untuk minum, kami harus berjalan jauh mengambil air dan menampungnya.  Kalau kebetulan kakak kirim uang, kami bisa beli satu tangki.  Untuk menutupi kekurangan itu, kadang bapak nyambi jadi buruh panggul, bikin arang kayu atau ke kota jadi buruh bangunan” paparnya mengenang.

Meski dalam kondisi seperti itu, orang tua Lastri dapat menyekolahkan anak-anaknya.  Kedua kakaknya selesai sampai SMP dan Lastri sendiri hanya sampai SD.  “Saya ndak tega ngeliat bapak sama ibu.  Apalagi dulu kakak saya pada pergi ke Jakarta.  Di rumah cuma kami bertiga” ujar Lastri.  Menurutnya, walau kedua kakaknya sudah bekerja, tapi masih sering minta kiriman dari bapaknya.  Pasalnya, hasil kerjanya itu tidak cukup untuk hidupnya sendiri.  Namanya sama anak, lanjut Lastri, bapak sering khawatir anaknya kelaparan di tanah orang.

Beruntung Lastri punya saudara jauh yang sering membantu bapaknya.  Orang yang disebut saudara jauhnya itu, adalah tetangganya yang bekerja dan punya usaha di Surabaya. Dia biasa mengambil singkong atau gaplek dari desanya dan beberapa desa disekitarnya.  Di Surabaya, dia memiliki gudang sendiri dan usahanya terus berkembang.  “Orangnya memang ulet dan pekerja keras” ujar Lastri memuji.  Jika bapak ada keperluan yang mendesak dan nilainya gede, lanjutnya, bapak pasti ke Surabaya meminta bantuannya.

Entah sudah berapa banyak saudara jauhnya itu memberi bantuan uang kepada bapaknya, pinjam atau ikhlas memberi, Lastri sama sekali tidak tahu.

Lastri mengambil gelas berisi softdrink dan meminum isinya.  Sebatang rokok filter diselipkannya disela bibirnya yang merah.  Asap mengepul dan ditiupkannya perlahan ke arahku, asap pun berhamburan di mukaku.  Tanganku yang memegang pena sibuk menepis asap itu.

“Apaan sih?” ujarku protes.  Lastri tertawa lirih, lalu melanjutkan ceritanya.

Mengetahui Lastri tidak melanjutkan sekolah, saudara jauhnya itu meminta ijin orangtuanya agar diperbolehkan membawa Lastri ke Surabaya,  untuk membantu usahanya sambil melanjutkan sekolah disana.  Tidak diduga, orangtuanya mengijinkan Lastri pergi.

“Mungkin sudah percaya yah, lagian bapak juga kan suka kesana.  Aku sendiri seneng aja bisa sekolah lagi, apalagi di kota besar” tuturnya mengenang dan senyam-senyum sendiri.

Sejak saat itu, jadilah Lastri tumbuh dan besar dalam pengasuhan saudara jauhnya di Surabaya.  SMP dia selesaikan dengan prestasi siswi teladan, lalu melanjutkan ke SMEA.  Rutinitas Lastri, mengasuh keponakannya dan membantu melayani pembeli di toko, disamping pekerjaan-pekerjaan rumah seperti biasanya.  Beberapa kali bapaknya menengok Lastri di Surabaya.  “Setiap ke Surabaya, bapak kelihatan senang melihat saya tumbuh sehat dan cantik” ujarnya tertawa.  Aku mencibirkan bibirku.  Jarinya mencoba meraih bibirku.  Aku mengelak.  Ada seraut wajah ayu bermain-main di kelopak mataku.

“Beneran, aku tumbuh jadi anak gadis yang cantik dan periang” ujarnya serius.

“Iya, iya” ujarku gak peduli protesnya.

“Tapi, justru karena itu pula aku jadi seperti ini” ujarnya lirih.  Aku menatapnya.  Lastri menghindari tatapanku, lalu bangkit dan duduk di sofa panjang.

“Sini Mas” ajaknya, tangannya menepuk sofa disampingnya.  Aku bangkit mengikuti arah tepukan tangannya itu.  Tak kuduga, Lastri merebahkan kepalanya di pangkuanku.

Trus, aku nulisnya gimana?” protesku.

“Emang sengaja biar ndak ditulis” ujarnya tertawa.  Aku pasrah.  Tangannya meraih tanganku, lalu mempermainkan jari jemariku.  Aku membiarkannya asyik dengan jari jemariku.  Ada seraut wajah ayu bermain-main di kelopak mataku.

Kecantikan dan kemolekan tubuhnya, menurut Lastri, justru jadi biang malapetaka yang melemparnya ke kubangan bisnis kenikmatan saat ini.  Sama sekali Lastri tidak menduga, kalau kebaikan saudara jauhnya itu memiliki maksud lain yang tersembunyi.  Perhatian-perhatiannya dan kasih sayang yang dicurahkannya selama ini, ternyata bukan perhatian dan kasih sayang seorang saudara.  Tapi, perhatian dan kasih sayang seorang laki-laki kepada wanita yang mampu memicu birahinya.  Saudara jauhnya itu, ibarat kumbang yang rela sabar menunggunya tumbuh dan berkembang, untuk kemudian mengisap madunya.

“Suatu malam dia bilang bahwa sekarang sudah saatnya aku mengetahui yang sebenarnya.  Lalu dia menceritakan bahwa dulu, ketika sebelum aku dibawanya ke Surabaya, sudah ada perjanjian dengan bapak dan ibu untuk mengawiniku.  Tapi, saat itu bapak minta, nanti saja setelah aku besar dan sekolah.  Lalu, dia menyanggupi untuk mengurusku dan menyekolahkannya.  Tapi, aku tidak tahu kalau ujungnya adalah pernikahanku dengannya” tuturnya pilu.

Lastri mengaku bagai disambar petir mendengar penuturan saudara jauhnya, yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri itu.  Dan yang lebih menyakitkan, tutur Lastri, saudara jauhnya itu mengatakan bahwa dirinya harus bisa membalas budi orangtuanya yang telah berhutang budi padanya.  “Tapi kan aku gak bisa secepat itu menerima kenyataan yang membuatku stress itu.  Aku menangis semalaman, mengunci diri di kamar.  Mana mungkin aku menikah dengan orang yang sudah kuanggap kakak sendiri.  Mana sudah tua dan punya anak bini lagi” ujarnya ketus.

“Lalu, apa reaksinya setelah tahu dia kamu tolak ?” tanyaku.

“Aku tidak menolaknya, aku ndak berani tegas-tegas menolaknya.  Saat itu, aku hanya bilang mau ngomong dulu sama bapak, setelah luslus sekolah nanti.  Dan, dia setuju atas usulku.  Setelah pembicaraan itu, setiap melihatnya, rasanya aku pengen muntah saja Mas. Aku jadi tidak semangat lagi belajar, buat apa?” jelasnya.  Kemarahan membayang di rona wajahnya yang tirus.

Sebulan setelah lulus SMEA, Lastri dan saudara jauhnya itu pulang mengunjungi bapaknya.  Namun karena kemalaman, aku Lastri, dirinya tidak bisa langsung pulang ke rumah orangtuanya.

Kan ndak ada kendaraan ke sana kalau malam.  Sepertinya memang sudah direncanakan deh sama dia.  Mulanya aku ndak mau nginap di hotel, tapi dia maksa dan memang mau tidur dimana?  Aku pun ngotot minta dua kamar, tapi dia bilang sayang duitnya dan dia janji tidak akan berbuat aneh-aneh.  Dengan pe-de-nya dia bilang, kan nanti juga buat dia, sebel banget deh” jelas Lastri penuh kejengkelan.  Akhirnya, jadilah mereka menginap di sebuah hotel.

“Aku takut.  Itu pertama kalinya aku berada satu kamar dengan laki-laki.  Aku takut terjadi hal-hal yang ndak bisa kubayangkan” tuturnya.

Lastri menghentikan ceritanya, tangannya semakin sering mempermainkan jari jemariku.  Kadang memijit-mijitnya, menarik-nariknya, menggenggam kuat tanganku.  Tampak sekali ingin melepaskan kegundahannya.

“Takut terjadi hal-hal apa?” godaku.

“Laki-laki dan perempuan satu kamar di hotel, apa yang dilakukannya” ujarnya sewot.

“Kalau berdua,  main catur, kalau bertiga main halma, kalau berempat main ludo nah lebih dari empat, ya rapat gelap” ujarku mencoba mengurangi ketegangan.  Lastri tertawa lalu mencubit pahaku.  Seraut wajauh ayu kembali bermain-main di kelopak mataku.

Lastri mematikan rokoknya di asbak.  Tangannya kembali mempermainkan jari jemariku.  Diciumnya telapak tanganku, lalu diarahkannya kepipinya.

“Di sini Mas, di kamar ini, dia memperkosaku” ujarnya lirih.  Aku tersentak kaget.

Ada hangat mengalir di telapak tanganku.  Tubuhnya berguncang, air matanya deras mengalir.  Aku membelai rambutnya, menepuk-nepuk pipinya dan mencoba menenangkan perasaannya.  Di kamar ini? batinku, lalu kenapa dia memilih kamar ini pula untuk menceritakan semua itu padaku.

Gak usah diterusin ya” ujarku pelan.

Ndak, aku harus cerita.  Aku ndak mau menyimpannya lebih lama lagi” sergahnya.

Di sela isaknya, Lastri melanjutkan tragedi yang menimpanya.  Malam itu, Lastri tidak bisa tenang.  Dia hanya duduk di kursi menonton TV dan bermaksud tidur di sofa panjang yang kini direbahinya.  Saudara jauhnya tidak menunjukkan gelagat yang aneh.

Selesai mandi, saudara jauhnya itu keluar kamar untuk memesan makanan.  Disuruhnya Lastri mandi, tapi Lastri menolaknya dengan alasan dingin, padahal dia merasa takut.

Tidak berapa lama, saudaranya itu kembali dengan satu gelas es jeruk yang dipesan Lastri, secangkir kopi dan dua piring nasi goreng.  Sambil makan, saudara jauhnya itu banyak memuji-mujinya, bercerita tentang rencana-rencana pernikahannya kelak, bulan madunya, rumah yang akan dibelinya dan banyak lagi yang semakin membuat Lastri muak mendengarnya.  Selesai makan, Lastri hanya duduk mendengarkan obrolan saudara jauhnya itu sambil nonton TV.

“Tapi, tiba-tiba saja aku ngantuk banget, badan lemes banget dan yang aneh, jantungku berdebar sangat kencang.  Ada perasaan aneh yang meledak-ledak dalam diriku.  Tubuhku rasanya sensitif banget Mas, terutama di sekitar itu.  Nafsu birahiku meluap tak terkendali. Sekarang aku baru tahu, kalau saat itu minumanku diberi obat perangsang” paparnya.

Lastri mengaku tidak sadar saat saudaranya itu menuntunnya ke ranjang dan merebahkannya.  Lastri pun tidak bisa menolak apalagi meronta, ketika satu-satu pakaiannya dilepaskan dari tubuhnya.  Selain lemas, aku Lastri, saat itu ada dorongan diluar kendalinya, untuk membiarkan saudaranya itu berbuat semaunya.  Bahkan, Lastri sempat ikut menikmati belaian dan usapan tangannya di seluruh tubuhnya yang telanjang.  Lastri pun menggelinjang hebat, ketika mahkotanya direngut.  Hal yang terakhir diingat Lastri, saudara jauhnya itu mengejang kuat di atas tubuhnya dan memeluknya erat.

Lastri menghentikan ceritanya.  Sebatang rokok kembali disulutnya.  Gelas berisi sofdrink diraihnya dan isinya ia tandaskan.

“Aku tak sadarkan diri.  Entah berapa kali malam itu dia melakukannya.  Pagi hari, sekujur badanku sakit, lemas, tak bisa bangun.  Mengangkat tangan saja rasanya aku ndak bisa lagi.

Dia memaksaku makan dan minum, ia menyuapiku. Aku tidak tahu, kalau ternyata minuman itu juga diberinya lagi obat perangsang.  Pagi dan seharian itu, kembali dia mengulangnya.  Aku hanya bisa menangis dan memohon agar dia menghentikannya. Tapi dia sama sekali tidak mempedulikan rintihanku. Aku tidak bisa teriak, aku hanya pasrah merasakan hentakan-hentakan tubuhnya yang membuatku semakin sakit.  Entah berapa kali siang itu aku tak sadarkan diri” tutur Lastri pilu, seraya mengatakan, hal itu terus dilakukan saudara jauhnya itu hingga malam hari.

Pada keesokan harinya, lanjut Lastri, dia tersadar sudah berada di sebuah ruangan yang serba putih.  Lastri terbaring di ranjang sebuah rumah sakit Swasta di Yogyakarta, sendirian, tidak ada seorang pun yang menemaninya saat itu.  Jarum slang infus tertancap di tangannya.  Sekujur badannya sakit dan lemas tak terkira.

“Rupanya, waktu itu aku pingsan dan lemas sekali.  Hampir tak bernafas. Dan, dia ketakutan kalau aku mati, makanya dibawanya aku ke rumah sakit itu.  Kalau tidak salah, hampir sebulan aku dirawat.  Bapak dan Ibu selalu menungguiku.  Entah bagaimana caranya dia menjelaskan semuanya kepada orangtuaku.  Aku ingat, saat itu bapak dan ibu hanya menangis melihat keadaanku.  Tahu ndak Mas, aku tidak melihat dia selama aku dirawat.  Kata bapak, dia pulang sehari setelah aku masuk rumah sakit.  Bapak mengusirnya setelah mendengar penjelasan dokter perihal keadaanku” papar Lastri.

Kata bapak, lanjut Lastri, dia sujud-sujud di kaki bapak minta ampun, agar tidak dilaporkan ke polisi dan dia mau bertanggung jawab.  Tapi bapak malah mengusirnya.  Hanya karena mengingat kebaikannya saja bapak tidak mau melaporkannya ke polisi.

Sampai saat ini, aku belum pernah mendengar kabarnya lagi.  Terakhir, kakaku bilang dia cerai sama istrinya.  Entah siapa yang memberi tahu istrinya.

Menurut Lastri, bapaknya membayar semua biaya rumah sakit dari uang pinjaman.  Celakanya, bapaknya itu meminjam dari seorang rentenir dengan bunga yang cukup tinggi.

“Bapak berusaha sekuat tenaga membayar pinjaman itu.  Tapi, meski semua yang ada sudah dijual, tetap saja belum bisa melunasinya.  Aku tidak tega, melihat kondisi bapak seperti itu.  Aku bertekad melepaskan bapak dari beban hutang itu.  Kebetulan, ada teman sepermainanku dulu yang sudah bekerja dan dia mengajakku ikut ke Jogja, aku pun minta ijin bapak untuk ikut dia bekerja di Jogja ini. Dan, bapak mengijinkanku.  Sejak itu, jadilah aku tinggal di tempat kostnya di sekitar jalan Kaliurang” tuturnya seraya menyebutkan bahwa temannya itu bekerja di sebuah swalayan di Malioboro, sebagai seorang pramuniaga counter alat kecantikan.

Lastri bangkit, dan menyandarkan kepalanya ke bahuku.  Ada wangi memenuhi hidungku, ada seraut wajah ayu bermain-main di kelopak mataku.

Semula, lanjut Lastri, dia kaget melihat keadaan tempat kost temannya itu.  Pasalnya, selain sewa kost yang mahal per bulannya, fasilitasnya pun lengkap selayaknya fasilitas sebuah hotel.

“Sempat sih kepikiran, gajinya berapa ya? Padahal dia itu hanya pegawai biasa saja.  Tapi aku ndak pernah mau tau, ndak enak kan? meski kadang penasaran juga sih.  Kadang dia ndak pulang semalaman dan baru datang sore hari.  Aku takut bikin dia tersinggung terus marah, ntar kalau diusir, aku tinggal dimana? Mana selama itu dia menanggung biaya hidupku lagi” tuturnya.

Pada suatu kesempatan, lanjut Lastri, Hp temanku itu ketinggalan di kost dan menjelang sore Hp itu berdering.  Sebenarnya aku ndak mau angkat, tapi takutnya ada yang penting, jadi ya ku angkat juga.

“Aku kaget Mas, bener-bener kaget.  Suara pria di telepon itu langsung menyapa pake yayang-yayangan lagi.  Aku kasih tahu kalau temenku lagi kerja dan hpnya ketinggalan.  Eh, dia malah bilang, ok deh, kalau kamu bisa ndak sekarang? Aku kan ndak ngerti, bisa apa? Dia bilang, datang ke tempatnya, sebuah hotel. Jelas aja aku bilang ndak bisa. Eh, dia malah bilang, bayarannya aku tambah deh, short time aja.  Aku tahu kemana arahnya dan bener-bener marah saat itu, tapi juga bingung ndak tahu harus gimana.  Aku hanya bilang maaf Pa, gak bisa nanti tunggu teman saya saja pulang kerja” kenang Lastri.  Beruntung, orang itu mau mengerti dan menutup teleponnya.

Saat temannya pulang, Lastri mengaku bingung bagaimana menceritakan kejadian sore tadi.  Apalagi, temannya itu sempat menanyakan apa ada yang telpon ke Hpnya atau tidak.

“Aku kan jadi tahu pekerjaan dia Mas.  Kalau diceritakan, rasanya gimana gitu, tapi ndak diceritakan juga malah salah.  Soalnya, dia juga pasti tahu kalau tadi ada yang mengontaknya” tuturnya.

Tapi, Lastri kemudian memutuskan untuk menceritakan kejadian itu.  Lastri minta maaf telah mengangkat telepon dan mengetahui pekerjaannya.  Menurutnya, temannya itu hanya diam dan duduk bersandar ke dinding.

“Aku Cuma nunggu reaksinya.  Tapi akhirnya dia bilang gak usah dipikirin dan kemudian cerita.  Bahkan, dia ceritakan semuanya, mengapa dia melakukan itu, pertama kalinya melayani tamu, lewat siapa dan berapa dia dibayar.  Terakhir, dia bilang, sekarang kamu dah tahu aku ini apa, terserah kamu mau menilai apa dan kalau kamu mau pergi dari sini pun terserah” jelas Lastri.  Mendengar ucapannya, lanjut Lastri, aku cuma diam.  Pergi kemana? Pulang ke desa jelas ndak mungkin.        Sejak kejadian itu, Lastri mengaku sering memikirkan cerita temannya itu.

“Jujur saja, aku jadi sering berpikir dan menghitung-hitung uang, terus inget hutang bapak, keadaan orang tuaku di desa dan masa depanku sendiri.  Saat itu aku berpikir, mungkin ini jalan satu-satunya untuk melepaskan beban orang tuaku.  Dan, meraih masa depanku.  Aku tahu itu salah, tapi yang kumiliki saat itu hanya tubuh dan kecantikanku” tutur Lastri.

“Maksudmu?” tanyaku.

Lastri bangkit dan berjalan ke arah telepon di sudut ranjang.  Dua cangkir kopi dipesannya, lalu merebahkan diri di kasur dan memeluk guling.

“Aku mengikuti jejaknya” ujarnya lirih.  Sesaat hening.  Lastri semakin erat memeluk guling.

“Tadi, kamu bilang untuk meraih masa depanmu, maksudnya gimana?” tanyaku meluruskan arah pertanyaanku.

“Waktu itu, aku berencana, dengan uang yang aku peroleh nantinya, selain untuk membayar hutang bapak dan membantu orangtuaku, aku berniat melanjutkan sekolah.  Aku mau kuliah.  Jika selesai kuliah dan aku dapat pekerjaan, aku akan meninggalkan semuanya.  Menikah, berkeluarga dan hidup selayaknya.  Atau, kalau aku bisa menabung, mungkin juga aku punya usaha sendiri nantinya” jelas Lastri.

“Orang tua kamu gak tahu?”

“Ya ndak to Mas

Emang yakin bisa berhenti?”

“Ya bisa to Mas, faktanya, sekarang aku hanya mau dengan orang-orang tertentu saja, yang sudah aku kenal dekat dan baik-baik” belanya.

“Baik-baik?” aku mengernyitkan alis.

“Artinya, ndak macem-macem, ndak kaya dulu, siapa saja yang penting mau bayar gede aku layani. Sekarang aku punya teman dekat yang membiayai kebutuhanku, meski sebulan sekali atau kadang dua bulan baru kemari, tapi rutin setiap bulan dia mengirimiku uang.  Sudah hampir lima bulan, aku hanya melakukannya dengan dia saja. Aku ndak terima tamu lain selain dia. Orang yang tadi ketemu sama Mas itu, dia tinggal di Kalimantan Timur, pengusaha disana.  Tadi dia ke Semarang jemput istrinya, besok baru balik ke Kalimantan” jelasnya.

“Berapa dia kirim?” iseng aku penasaran.

“Mau tau aja sih?” ujarnya seraya menyebutkan angka yang membuatku kaget.

“Sekarang kamu semester berapa?”

“Tinggal nunggu wisuda.  Tapi, aku disarankan melanjutkan ke pasca” jawabnya.

“Oh ya? Artinya gak berhenti dong?” tanyaku.

“Ya berhenti, kan aku dah bilang, sekarang aku cuma sama satu orang saja.  Cukup ko buat biayai semua.  Kuliahku nanti, hidupku, bapak sama ibu di desa.  Oh, ya, sekarang aku punya tanah yang digarap bapak dan 4 ekor sapi.  Aku pengen punya toko pertanian Mas, kata bapak untungnya gede, modalnya berapa ya?” tanya Lastri tanpa mengharap jawaban.

Lastri kemudian bercerita tentang mimpi-mimpinya, punya suami yang baik, anak-anak yang lucu dan tanah pertanian yang ditanami sayur-sayuran.  Lastri terus bercerita dengan suara yang semakin lirih sampai hening kembali menyelimutiku. Aku termangu, pikiranku melayang ke daerah dimana kutemui orang yang diakuinya sebagai budenya, perbincangan kami dan harapan-harapan budenya itu. Tanah yang gersang dengan tingkat kehidupan masyarakatnya yang hampir serba kekurangan. Perlahan tanganku bergerak di atas kertas buram, menulis sebuah surat untuknya.  Untuk seorang anak petani yang tengah berjuang merubah kehidupan dan menggapai harapan-harapannya. Perlahan ku simpan selembar kertas itu di samping guling yang di peluknya.

Ada bening mengambang di mataku.

Untuk : Bunga rumpun liar di tanah yang terlantar.

Lastri, …

Terima kasih atas perbincangan ini.  Aku berjanji akan menuliskan ceritamu, meski aku tak tahu pasti apa sebenarnya yang kau harapkan dengan tulisanku nanti. Tapi, satu hal yang aku tahu pasti, ceritamu tidak hanya akan menambah jumlah lembar buku itu, seperti yang pernah kau ucapkan dulu, tapi juga akan membuatku semakin tertantang untuk melanjutkan pengembaraan ini.

Selamat berjuang sahabat, meski jalan yang kau tempuh penuh lumpur noda dan nista, setidaknya kau telah berbuat sesuatu untuk mengangkat kemiskinan yang membelit keluargamu, keluarga seorang petani Indonesia.

Aku berdo’a untukmu, Semoga di ujung sana kau temui juga jalan lurus yang terang, hingga mimpi-mimpimu dapat menjadi kenyataan.   Amin.

NB.

Jika kebetulan kau membeli dan membaca buku ini, tolong jangan pernah telpon ke no Hpku itu ya?.  Bukan karena aku tak mau lagi berbincang denganmu, tapi …, sekarang aku dah ganti nomor, hehehe…

Sahabatmu,

Kembara Tani.

Tulis sebuah Komentar