2. Peluang untuk Kembali

Bagian Ketiga, Mutiara yang Terpendam

2. Peluang untuk Kembali

Apa yang diungkapkan Ratna dan Juwarno, perihal peluang batu putih sebagai penarik para pemuda tani untuk kembali ke desanya, benar-benar terjadi pada Hari Haryono, pemuda asal Desa Ngijo, Semin Gunung Kidul. Selama 3 tahun, Hari menghabiskan waktunya untuk memahat harapan di Jantung Kota, menjadi buruh serabutan di Kawasan Berikat Nusantara. Pernah pula menjadi security di pusat perbelanjaan Blok M, Jakarta.  Belakangan, Hari memilih untuk kembali ke desanya. Alasannya, walau pun di Jakarta pendapatan Hari lumayan besar, tapi biaya hidup yang tinggi menyebabkan sisa penghasilannya tetap menjadi kecil. “Kalau dihitung-hitung, penghasilan di sini malah lebih besar Mas.  Saya mendapat upah Rp 25.000 per hari dan dengan biaya hidup di sini, itu cukupan untuk saya dan istri” jelas manten baru ini mantap.

Hari dipercaya Sihanto, pemilik pabrik pembuat batu tempel Paras Jogja Putih, untuk menjalankan usahanya dan mengawasi pekerja-pekerja lainnya.  Pengalamannya dengan urusan batu putih ini terbilang sudah cukup lama.  Selama 3 tahun ia menggeluti industri pemotongan batu dan 2 tahun menjadi pengrajin batu ukir.  Saat ini, Hari mengkhususkan diri untuk memproduksi batu tempel polos sebagai penghias dinding dengan beragam ukuran, mulai dari ukuran 10 cm x 20 cm sampai 60 cm x 60 cm.  Pekerja di pabriknya berjumlah 7 orang dengan upah berkisar antara Rp 15.000 sampai Rp 25.000 per hari tergantung spesialisasinya.

Pengguna produknya sebagian besar adalah para suplyer bahan bangunan dan para developer yang mengerjakan proyek-proyek perumahan atau perkantoran.  Meski demikian, banyak pula pengguna langsung yang membeli produknya itu untuk membangun atau merenovasi rumahnya sendiri.  Selama ini, pasar produknya sebagaian besar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.  Hasil akhir produknya itu dilemparnya ke Jakarta, Surabaya, Bali dan Jogja sendiri.  “Pernah sih ekspor, tapi tidak dapat memenuhi.  Waktu itu ada permintaan sebanyak 400 m2 per minggu, tapi karena keterbatasan pekerja, saya tidak dapat memenuhi permintaan itu.  Baru 9 kontainer terus bubar” ujarnya menyesalkan.

Batu-batu yang siap pakai, dijualnya per meter persegi dengan harga bervariasi sesuai ukurannya. Untuk batu berukuran 10 x 20 cm, dilepas dengan harga Rp 25.000/m2.  Sedangkan batu berukuran 30 x 40, dihargainya Rp 45.000/m2.  Rata-rata omzet per hari mencapai 1 juta rupiah.  “Harga itu franco gudang pabrik Mas, kalau minta dikirim, ya ditambah ongkos kirim” ujarnya menjelaskan.  Menurut Hari, sebagian besar konsumen tidak membeli cash, tapi dengan pembayaran tempo selama 2 minggu, terkadang sampai 1 bulan.  Hari mengaku sering ikut pusing bila ada konsumen yang pembayarannya macet, khususnya yang dikirim ke proyek-proyek perumahan.

Bahan baku batu diambil Hari dari Desa Candirejo, Semin, dengan harga Rp 425.000 per truk.  Desa itu memang terkenal dengan penambangan batu Paras Jogja Putih yang cukup baik kualitasnya.  Dari penambangan batu di sekitar bukit Gloto, batu-batu itu dipotong berbentuk balok dengan ukuran tinggi 50 cm sampai 1 meter dengan panjang sekitar 1 meter. Lalu balok-balok batu itu diangkutnya dengan truk ke pabriknya untuk dipotong-potong tipis sesuai dengan ukurannya.  “Satu truk, biasanya jadi batu tempel sekitar 30 m2 dengan berbagai ukuran dan untuk mengolahnya perlu waktu sekitar 1 hari” papar Hari.  Pabriknya memiliki 1 set mesin pemotong batu yang terdiri dari 1 pemotong besar dan 4 pemotong berukuran kecil.  Untuk menggerakan mesin itu, satu hari diperlukan solar sebanyak 60 liter.  “Naiknya harga solar jadi beban buat pengrajin, soalnya biaya produksi jadi naik, tapi saya tidak bisa menaikan harga jual.  Tidak mungkin menaikan harga jual sebanding dengan kenaikan harga solar itu.  Mana ada yang mau beli?” keluhnya.  Menurut Hari, setidaknya di kawasan Semin ini terdapat 14 pengrajin batu tempel yang memiliki mesin pemotong sendiri.

Industri batu Paras Jogja Putih ini, diyakini Hari dapat berkembang dan menjadi peluang usaha untuk menambah pendapatan masyarakat tani di sekitarnya.  Hanya saja, menurut Hari, pemerintah terkesan kurang serius memanfaatkan peluang usaha masyarakat ini.  “Dukungan pemerintah belum jelas Mas, malah sepertinya tidak diatur dan dibiarkan jalan sendiri” adunya, seraya menyebutkan bahwa sepengetahuannya selama ini belum ada bimbingan atau bantuan apa pun yang diterima para pengrajin.  Padahal, lanjut Hari, bila industri ini ditangani dengan serius, dapat menjadi lapangan pekerjaan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitar sini, khususnya para pemudanya.  “Kalau di sini ada pekerjaan, kenapa harus pada nyari ke kota kan Mas? Malah, saya yakin, temen-temen yang sudah kerja di kota pun akan balik ke sini, ya seperti saya ini” ujarnya tersenyum.

Hal yang sangat disesali Hari dan menjadi unek-uneknya selama ini adalah perihal ketersediaan bahan baku batu.  Pasalnya, seringkali Hari dan para pengrajin lainnya, kehabisan bahan baku batu dan harus berebut dengan para pembeli bahan baku batu yang datang dari luar daerah.  Para pengrajin batu dari Cirebon dan Tulung Agung, sering berburu bahan baku batu ini di lokasi yang sama.  Bahkan, seringkali para penambang batu malah mendahulukan para pembeli dari luar daerah.  Kondisi demikian memaksanya harus menyediakan stock bahan.  Ketika ditanya mengapa para penambang lebih mendahulukan pembeli dari luar? Hari menjawabnya dengan sebuah senyuman penuh arti.

Batu-batu bahan itu mengalir ke luar daerah dengan derasnya.  Di tempat tujuannya, bahan batu itu diolah oleh para pengrajin di sana dan menghasilkan produk yang sejenis dengan produk yang dihasilkannya. “Bukan masalah takut persaingan produk jadinya lho Mas, tapi kan kalau batu-batu itu diolah di sini kan dapat membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat sini.  Tapi kalau diangkut ke luar daerah, yang diuntungkan ya masyarakat di daerah itu sendiri” tandasnya.

Hari mengharapkan, ada peraturan daerah yang melarang batu-batu itu ke luar daerah dalam bentuk bahan baku.  Tapi, harus dalam bentuk setengah jadi atau produk jadi seperti batu tempel atau batu ukir yang biasa di produksi para pengrajin daerah.  Hari mengaku, pernah mengutarakan hal ini kepada kepala desanya dan tanggapannya hanya sekedar ucapan, itu usul yang bagus dan seperti biasanya akan ditampung dan disalurkan.

“Dampaknya akan sangat baik bagi perkembangan ekonomi masyarakat sekitar sini.  Teman-teman saya pun tidak usaha susah-susah cari kerja ke kota, saya tahu persis bagaimana susahnya kerja di kota dan jauh dari keluarga” ujarnya menerawang masa lalunya ketika bekerja di Jakarta.

Hening menyergapku, Hari tampak memberi instruksi pada pekerja-pekerja lainnya.  Aku terhanyut dalam pikiran yang tiba-tiba saja muncul karena kalimat di akhir ucapannya.  Selintas terbayang dalam anganku wajah Pak Gino dengan becaknya, Sumarlan di area parkir Abu Bakar Ali, Bandat yang tengah menyajikan semangkuk bakso dan jejeran roda bercat hijau lengkap dengan nomor rodanya, Bariyadi yang mungkin kini tengah menganyam rotan di Cirebon sana, dan sekian wajah petani dan pemuda tani yang hilir mudik di pelataran Malioboro.

Mereka meninggalkan sawah dan ladang di desanya karena pertanian tak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidupnya dan tak ada yang dapat mereka lakukan selain mencoba memahat asa di jantung-jantung kota itu.  Tapi, tatkala ada peluang bagi mereka untuk memahat harapan dalam batu-batu di pelataran desanya, mereka pun tak mampu berbuat apa-apa selain menyaksikan dengan pilu, Mutiara yang terpendam di buminya itu digali dan mengalir ke luar daerah.

Ternyata, masalah di sektor pertanian itu tidak dapat diselesaikan hanya oleh komunitas pertanian saja. Bahkan, seringkali jawaban dan solusinya justru berada di luar sektor pertanian itu sendiri. Sinergitas yang selaras dari seluruh elemen, baik pemerintah, legislatif dan dunia usaha, maupun elemen-elemen sosial kemasyarakatan lainnya, harus dibangun untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga tani dan masyarakat pedesaan.

Andai saja peraturan seperti yang diharapkan Hari ada, tentu akan memberikan warna lain bagi kesibukan di desanya.  Bunyi pahatan beradu dengan batu, ditingkahi bunyi palu pada ujung-ujung pegangannya, akan berpadu dengan deru mesin pemotong batu yang membelah dan membentuk batu-batu itu.  Deretan mobil-mobil di sepanjang jalan, di muka gallery-gallery terbuka atau di bengkel-bengkel ukir, akan lebih sering terlihat.  Truk-truk pengangkut aneka kerajinan batu Paras Jogja Putih yang tersimpan rapih dalam kotak kayu, akan hilir mudik keluar masuk desanya.

Multiple efek dari tumbuhnya industri kerajinan batu ini, akan berdampak pada semakin cepatnya denyut nadi perekonomian wilayah.  Dan, aku membayangkan, di sawah dan ladang-ladang kering yang mungkin saja nanti tak kering lagi, tampak tubuh-tubuh tegap dan kekar mengayun cangkul.  Para pemuda tani itu telah kembali, menyongsong bentangan tangan ibu pertiwi yang telah sekian lama menantinya.

Namun, siapa yang harus memulai?  Siapa yang harus lebih dahulu mengangkat mutiara yang terpendam itu dan menggosoknya menjadi bersih dan bening, sebersih dan sebening bola mata seorang anak yang menatap lekat mata ibunya.

Garuda, …

Mutiara itu masih saja terpendam, terinjak dan bahkan terlangkahi saat mereka pergi meninggalkan desanya.  Bunyi palu dan pahat yang beradu dengan batu, terdengar sayup ditelan kelengangan ladang.  Putihnya batu-batu itu tak menyilaukan mata mereka, atau mungkin juga malah tak mereka lihat.  Sementara Elang di angkasa terus berputar-putar dan sesekali menyambar.  Tak ada kurungan untuk berlindung, bahkan kini tak ada lagi dedaunan rimbun sebagai pelindung.  Satu-satu hilang diterkam Elang, tanpa daya dan bahkan hampir tanpa upaya.

Ada banyak mutiara yang tersebar dan tetap terpendam, terinjak dan bahkan terlangkahi saat mereka meninggalkan desanya.  Dari ujung Utara hingga pesisir Selatan, dan dari tepi Timur hingga batas Barat, sama terpendam, terinjak dan bahkan terlangkahi saat mereka kembali pulang ke desanya.  Senyumnya masih mengembang tatkala beradu tatap dan menyapa orang-orang baru, menyaksikan rumah-rumah baru, mobil-mobil baru dan peradaban baru.  Orang-orang baru yang baru saja mengambil mutiara yang baru disadarinya, berada di pelataran desanya yang juga tampak baru.

Haruskah mereka pun menunggu pemerintahan yang baru?

Kembara Tani

& Komentar

  1. Juli 7, 2009 pada 12:42 pm

    mohon info, dimana bisa beli mesin pemotong batu tsbt? saya tomy di bulungan kalimnatan timur

    • kembaratani berkata,

      Juli 9, 2009 pada 5:27 pm

      Mas Tomy, di internet banyak sumber yang menawarkan pemotong batu seperti di semin. Setahu saya, sebagian dari mereka mendapatkan bantuan dari pemda setempat. Insya Allah saya coba bantu cari infonya ya dan nanti saya kirim via email. Terima kasih mau mampir.


Tulis sebuah Komentar