2. Kesejahteraan Berbatas Alam

Bagian Pertama, Merajut Benang Harapan

2. Kesejahteraan Berbatas Alam

Kondisi Fisiografis dan iklim DIY, menyebabkan lahan untuk pertanian yang diusahakan petani tidak merata di masing-masing kabupaten dan kotanya.  Bahkan, variasi usahatani ini terkesan memiliki perbedaan yang mencolok.  Gunung Kidul dengan Sleman misalnya.  Dua kabupaten yang berbatasan ini memiliki dominasi komoditas yang berbeda, khususnya untuk padi dan palawija.

Dengan kondisi lahan kering yang mencapai 45,29 % dari luas lahannya, produksi areal pertanian Gunung Kidul (2004), didominasi oleh komoditas Ubi kayu (699.290,45 ton), Jagung (146.532,14 ton), Padi Gogo (131.769,63 ton), Padi Sawah (51.033,11 ton), Kacang tanah (47.081,97 ton) dan Kedelai (25.460,84 ton).  Sementara itu, Sleman memiliki iklim dan kondisi tanah yang sangat baik untuk pertanian lahan basah.  Kesuburan tanahnya memungkinkan tanaman tumbuh dengan sempurna.  Dengan kondisi demikian produksi areal pertanian (2004), didominasi oleh komoditas Padi Sawah (252.518 ton), buah-buahan (121.603 ton), Sayuran (29.004,9 ton), Ubi kayu (28.200 ton) dan Jagung (22.564 ton).

Gunung Kidul dengan luas wilayah 148.536 hektar atau 45,68 % luas wilayah DIY dengan garis pantai sepanjang 70 km, hanya memiliki sawah seluas 5,20 % dari luas wilayahnya.  Sedangkan Sleman dengan luas wilayah 57.482 hektar atau 18 % luas wilayah DIY, memiliki areal pesawahan seluas 40,64 % dari luas wilayahnya.  Hampir separuh luas wilayah Gunung Kidul adalah lahan kering dan hampir separuh luas wilayah Sleman adalah areal pesawahan dengan irigasi yang cukup.

Sementara itu, Bantul dan Kulon Progo memiliki perpaduan dari perbedaan kedua wilayah kabupaten itu.

Padi Sawah versus Padi Ladang

Keragaman kondisi fisiografis dan iklim itu pun memberi dampak yang nyata pada tingkat kesejahteraan petani pengguna lahannya.  Berdasarkan Sensus Pertanian 2003 (ST’03), pada kurun waktu 1993-2003, jumlah keluarga tani yang menanam padi sawah mengalami kenaikan sebesar 57,35 %, dengan laju pertumbuhan sebesar 4,64 % per tahun.  Menurut Analisa Hasil Listing ST’03 (BPS DIY, 2004), kenaikan ini terjadi karena adanya sistem pembagian warisan lahan sawah dari orang tua petani kepada anak-anaknya.  Dan, lahan sawah warisan itu tetap ditanami padi atau tidak terjadi peralihan komoditas.

Berbeda dengan keluarga tani yang mengusahakan padi ladang yang mengalami penurunan sebesar 11,95 %, dengan rata-rata penurunan sebesar 1,26 % per tahun.  Penurunan ini disebabkan oleh keengganan petani untuk bertahan menanam padi ladang.  Pasalnya, keberhasilan usahatani padi ladang sangat tergantung pada curah hujan.  Padahal, dengan adanya pergeseran musim, petani tidak dapat lagi mengandalkan curah hujan untuk menjalankan usahataninya.  Pilihan satu-satunya adalah beralih komoditas.

Fenomena ini menunjukan bahwa kondisi alam sangat berpengaruh pada usaha tani yang pada gilirannya mempengaruhi pendapatan dan tingkat kesejahteraan petani.  Pilihan untuk beralih komoditas pada keluarga tani yang menanam Padi ladang, didasari oleh pertimbangan bahwa menanam padi ladang tidak dapat memberikan keuntungan yang diharapkan petani.  Ketergantungannya yang besar pada alam (lahan tadah hujan), membuat petani padi ladang memiliki resiko gagal panen yang cukup besar. Berbeda dengan keputusan untuk tetap mengusahakan padi sawah, karena usahatani ini dipandang relatif lebih memberikan keuntungan yang pasti.

Dari 240.306 keluarga tani yang menanam padi sawah (50,96 % dari jumlah keluarga tani di DIY), 180.020 diantaranya merupakan keluarga tani yang menanam padi sawah beririgasi, dengan letak sebaran 38,58 % di Sleman, 36,02 % di Bantul, 20,73 % di Kulonprogo dan sebagian kecil di Gunung Kidul (4,3 %) dan Kota Yogyakarta (0,48 %).  Sedangkan 60.286 sisanya adalah keluarga tani yang menanam padi sawah tidak berigasi, yang justru lebih dari separuhnya (56,11 %) berada di Gunung Kidul, 25,15 % berada di Bantul, 14,44 % berada di Kulonprogo dan sebagaian kecil atau 4,3 % berada di Sleman.

Sementara itu, dari 110.131 keluarga tani yang menanam padi ladang (23,35 % dari jumlah keluarga tani di DIY), hampir seluruhnya berada di Gunung Kidul (97,61 %).  Sebagian kecil berada di Sleman (1,71 %), di Bantul (0,66 %) dan di Kota Yogyakarta (0,02 %).  Kondisi ini menunjukan bahwa sebagian besar keluarga tani di Gunung Kidul, memiliki basis lahan usahatani berupa lahan kering.  Angka-angka tersebut memang menunjukan bahwa kondisi lahan di Gunung Kidul yang relatif kekurangan air, lebih cocok ditanami padi ladang. Atau, lebih tepatnya, tidak dapat ditanami padi sawah karena berbagai keterbatasannya, seperti misalnya tidak adanya air untuk mengairi sawahnya.

Pilihan untuk mengusahakan padi ladang, sebenarnya adalah sebuah fakta dari ketidakberdayaan petani menghadapi kondisi alam.  Pasalnya, apabila petani Gunung Kidul diberi kesempatan untuk memiliki sistem irigasi sebaik Sleman, tentu keputusan untuk beralih komoditas atau setidaknya pola tanam akan semakin banyak diambil petani.  Bahkan, mengingat luasnya areal pertanian di wilayah ini, kemungkinan besar variasi komoditas yang diusahakannya pun akan memiliki keragaman yang melebihi Sleman.

Kesejahteraan berbatas alam memang benar-benar sebuah fenomena yang telah lama berlangsung di DIY.  Keterbatasan itu membedakan tingkat kesejahteraan rata-rata keluarga tani di Gunung Kidul dengan keluarga tani di 4 wilayah lainnya.  Petani padi irigasi dapat menanam padi 3 kali dalam setahun atau dengan variasi pola tanam, setidaknya 2 kali dalam setahun.  Sementara petani padi ladang hanya dapat menanam satu kali saja dalam setahun.  Tentunya, hal ini sangat berpengaruh pada pendapatan keluarga tani yang merupakan akumulasi dari penjualan hasil panen usahataninya.

Perbedaan pendapatan dan tingkat kesejahteraan petani DIY sebagai akibat perbedaan kondisi alam dan lahan pertaniannya, juga terlihat dari beban biaya produksi usahataninya.  Bahkan, hal tersebut pun berlaku untuk keluarga tani yang sama-sama menanam padi sawah dan sama-sama beririgasi, tapi berbeda lokasi.  Petani padi sawah di Desa Genjahan Ponjong Gunung Kidul, harus memasukan biaya irigasi atau air untuk mengairi sawahnya kedalam komponen biaya produksi.  Pasalnya, air yang digunakan untuk mengairi sawahnya itu diambil dari sumur bor dan harus dibelinya dengan biaya Rp 23.000/jam.  Padahal, dalam satu musim tanam, Sukimin salah satu petani di wilayah itu, mengaku perlu mengairi sawah sebanyak 30 kali dengan rata-rata satu jam setiap kalinya.  Alhasil, untuk mengairi sawahnya Sukimin harus mengeluarkan biaya 30 x Rp 23.000 atau senilai Rp 690.000,- .  “Sawah saya cukup jauh dari sumber mata air Mas, jadi ya harus begitu” ujarnya pasrah.

Sebenarnya, di seberang jalan hamparan sawah garapan Sukimin dan teman-temannya itu, terdapat sebuah bendungan yang memang dibangun untuk mengairi areal persawahan di sekitarnya.  Sukimin menyebut bendungan itu adalah Bendungan Beton Umbulharjo.  Tapi menurutnya, bendungan itu hanya menguntungkan para petani di sekitar bendungan saja.    ”Di sana enak Mas, airnya gratis, Cuma bayar untuk pengurusnya saja.  Di sini saya harus beli karena air bendungan tidak bisa sampai kesini” paparnya.                                                 Dimatanya kulihat kilatan sesal.

Gemericik air di saluran pembagi yang mengalir persis didepanku, menggelitik telapak kaki, membasahi rambut, kepala, wajah, leher dan pungggung.  Kupuaskan sejuk dan segar di sini, karena di depan sana, kering dan kerontang, telah siap menghadangku.

Petani Beli Beras

Sebagian besar petani DIY menanam padi untuk dikonsumsi sendiri. Atau, dijual dalam bentuk beras untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan insidentil semisal gotong royong, hajatan atau bila ada kematian.  Seperti dituturkan Prawiro (86 tahun), petani Desa Dadapayu Semanu Gunung Kidul.  Menurutnya, menanam padi gogo hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya, dan bukan untuk dijual.  Selain karena memang hasilnya sedikit dan bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangannya sampai musim tanam padi berikutnya, menanam padi terhitung lebih murah dibandingkan dengan harus membeli beras. “Meskipun merugi, hitungannya lebih murah menanam padi ketimbang beli beras.  Hasil palawija baru dijual untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain” jelasnya.    Sebagian besar, lanjut Prawiro, malah untuk membeli sarana produksi yang dibutuhkan dalam penanaman padinya.  Sementara itu Parmin (49 tahun), petani Desa Girisekar Panggang Gunung Kidul, mengaku harus membeli beras untuk kebutuhan pangan keluarganya.  Pasalnya, hasil panen padi gogo yang ditanamnya tidak mencukupi kebutuhan sampai panen berikutnya.

Perihal petani tidak menjual gabahnya, dikatakan pula oleh Nurharyanto, Ekbang Desa Panggungharjo Sewon Bantul.  Menurutnya, hasil panen padi warga di desanya sebagian besar untuk konsumsi sendiri.  “Kurang lebih 75 % petani di sini tidak menjual gabahnya, tapi digiling untuk dimakan sendiri dan dedaknya untuk pakan ternak.  Dan, kebutuhan lainnya dipenuhi dari hasil atau upah buruh di Kota” jelasnya.    Dengan demikian, lanjut Nurharyanto, fluktuasi harga gabah yang sering jatuh saat panen raya, tidak banyak berpengaruh bagi petani di wilayahnya.  Pola tanam petani di desa Panggung Harjo, menerapkan pola Padi-Padi-Palawija, karena lahan pertanian memungkinkan untuk ditanami sepanjang tahun.

Mardiwiyono (53 tahun), petani Desa Purwoharjo, Samigaluh Kulon Progo, menyodorkan data-data yang diingatnya kepadaku untuk memperkuat pengakuan, bahwa dirinya harus membeli beras, untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya.  Pasalnya, lahan seluas 800 m2 yang digarapnya hanya menghasilkan gabah sebanyak 3 kwintal per musim per tahun.  Lahan garapan Mardiwiyono memang hanya ditanami padi satu tahun sekali, disaat musim hujan saja. 3 kwintal hasil panen gabah itu, digilingnya menjadi 1,5 kwintal beras.

“Ya harus beli, 1,5 kwintal beras kan tidak cukup untuk kebutuhan setahun.  Padahal itu sudah dicampur jagung dan telo” jelasnya.  Untuk mencukupi kebutuhan 4 orang anggota keluarganya, Mardiwiyono mengaku harus selalu membeli beras seharga Rp 2.700/kg.  Selain untuk dikonsumsi, beras hasil gilingan panen gabahnya itu digunakan pula untuk kebutuhan kegiatan gotong royong.  Maksudnya, bila di lingkungannya ada kegiatan hajatan, membangun rumah, atau ada yang meninggal, maka beras itu diberikan untuk sumbangan gotong royong.

Dalam perhitungan sederhana Mardiwiyono, lebih murah menggiling gabah jadi beras dibandingkan menjual gabah dan membeli beras.  Adapun hitungan yang diingatnya adalah :  Jika 3 kwintal gabah itu dijualnya dengan harga rata-rata Rp 1200/kg, maka dirinya hanya akan mendapatkan hasil 300 kg x Rp 1200 = Rp 360.000,-.   Dan, jika uang hasil pembelian gabah itu dibelikannya beras, maka dirinya hanya akan mendapatkan beras sebanyak Rp 360.000 / Rp 2700 = 133 kg.  Padahal, jika dirinya menggiling sendiri gabah hasil panennya dengan ongkos Rp 200/kg dan rendemen 50 % (seperti pengakuannya), Mardiwiyono akan memperoleh beras sebanyak 150 kg dengan bonus dedak halus untuk pakan ternaknya.

Untuk menghasilkan beras sebanyak 150 kg itu, Mardiwiyono harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 302.500 untuk membeli bibit, pupuk dan sekaligus ongkos gilingnya.  Padahal, bila ia harus membeli beras dengan harga beras yang biasa dibelinya, maka dirinya akan mengeluarkan biaya sebesar Rp 2.700 x 150 kg = Rp 405.000. Oleh karena itu pula, Mardiwiyono merasa telah melakukan penghematan sebesar Rp 102.500,- untuk anggaran pengadaan stock pangannya.  “Lebih untung kan? Tapi karena ndak cukup untuk setahun, ya harus beli juga” tandasnya.  Aku tercenung mendengarnya.

Ada gundah dan gejolak dalam dadaku mengikuti penuturannya itu.  Aku tak kuasa menyembunyikan rasa haru.  Bahkan, aku merasa malu pada diriku sendiri.  Apa yang disebutnya menghemat, sesungguhnya adalah nilai tenaganya sendiri yang tidak dimasukan dalam komponen biaya atau tidak dihargainya.  Benarkah Mardiwiyono untung? Kalau mau lebih jelimet lagi menghitung analisa usahataninya, silahkan masukan dan hitung pos-pos biaya sewa tanah, penyusutan dan pos biaya lain.  Apa Mardiwiyono untung? Telah menghemat seperti dikatakannya?

Menanam padi bagi orang-orang seperti Mardiwiyono, bukanlah sebuah usaha untuk memperoleh keuntungan materi.  Tapi, lebih dari sekedar mencari cara untuk bertahan hidup dengan biaya semurah mungkin.  Dalam konsep sederhananya, jika bisa mendapatkan beras sebanyak 150 kg dengan biaya sebesar Rp 302.500, mengapa pula harus mengeluarkan dana sebesar Rp 405.000,-?  Bahkan, dengan menanam dan menggiling sendiri, pikir Mardiwiyono, dirinya masih mendapat bonus dedak halus dan jerami kering untuk pakan ternaknya, serta kesibukan untuk mengisi akhir masa tuanya.  Meskipun, selisih sebesar Rp 102.500,- itu ditukarnya denga resiko bekerja tanpa mendapat bayaran selama 2 – 3 bulan.  Padahal, bagi sebagian orang, nilai yang ditukarnya itu, hanya sebanding dengan 20 kali parkir di pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota.

Mardiwiyono, petani sang produsen beras itu, ternyata juga adalah konsumen beras.  Dua posisi yang saling berhadapan dalam alur rantai tata niaga beras dimana pun, ternyata berada pada satu sosok..  Lantas, siapakah sesungguhnya yang selama ini di bela oleh para pihak yang menghendaki harga beras tetap mahal?  Penentangan yang dilakukan karena kekhawatiran apabila harga beras murah akan berdampak pada jatuhnya harga gabah, berkurangnya pendapatan petani dan menurunnya kesejahteraan petani.

Mardiwiyono yang kita bela selama ini, ternyata juga kesulitan karena pembelaan kita itu.  Bahkan, tidak pernah diuntungkan oleh pembelaan kita.  Pasalnya, pada saat harga gabah naik, Mardiwiyono tidak menikmatinya karena memang tidak pernah menjual gabahnya.  Namun pada saat harga beras naik, karena harga gabah naik, Mardiwiyono kesulitan karena harus mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk menyediakan stock pangannya.  Padahal seperti dikatakannya, pangannya itu sudah dicampur jagung dan telo.

Apakah hal tersebut berlaku pula pada juragan-juragan beras? para pemburu gabah yang menggiling sendiri gabahnya?  Tengkulak dan Kontraktor BULOG? Di Pasar Induk Cipinang, tidak sulit menemukan mereka.  Setidaknya, tidak sesulit mencari mereka yang merasa memiliki kekuatan besar untuk mengatur hajat hidup Mardiwiyono.

Memang tidak semua petani yang menanam padi, untuk dikonsumsi sendiri serta tidak menjual gabah hasil panennya.  Salah satunya adalah para petani di Desa Argomulyo Bantul.  Di desa kelahiran mantan Presiden Soeharto itu, para petaninya menerapkan pola tanam Padi-Padi-Padi atau menanam padi sepanjang tahun.  Hal ini diakui oleh Purwanto, Kabag. Pembangunan Desa Argomulyo, dengan pola tanam seperti itu, sebagian besar petani memiliki stok pangan yang surplus bagi kebutuhan keluarganya.  Sisa dari kebutuhannya itulah yang kemudian dijual dalam bentuk beras.

Bahkan, Purwanto mengaku kesulitan untuk merubah pola tanam petaninya.  “Sulit sekali merubah kebiasaan petani menanam padi sepanjang tahun dengan pola tanam Padi-Padi-Palawija atau hortikultura semacam sayuran misalnya.  Petani sayuran lebih kreatif dan maju serta mau menerapkan teknologi.  Harganya pun relatif lebih baik sehingga diharapkan pendapatan petani lebih meningkat” papar Purwanto.

Petani yang dapat menjual gabahnya karena memiliki kelebihan stock pangan bagi keluarganya, memang jauh lebih beruntung bila dibandingkan dengan petani-petani yang terpaksa harus membeli beras karena stock pangannya selalu kurang. Orang-orang seperti Mardiwiyono, yang harus membeli beras untuk memenuhi kebutuhan pangannya, tidaklah sedikit.  Mungkin ribuan, mungkin juga jutaan di negeri ini.  Di DIY sendiri, jika luas lahan yang digarap Mardiwiyono dijadikan ukuran (800 m2), maka terdapat sebanyak 85.595 keluarga tani yang menggunakan lahan kurang dari 1.000 m2 (22,65 %).  Dan, keluarga tani yang menggarap lahan dengan luas kurang dari 0,5 hektar terhitung sebanyak 377.905 keluarga tani (80,29 %).

Memang tidak seluruh angka-angka statistik BPS itu memiliki kondisi yang sama dengan Mardiwiyono. Tapi, setidaknya dapat dijadikan gambaran.  Atau, pancingan untuk meneliti dengan lebih seksama, kemudian merenungkannya. Sebenarnya, siapakah yang diuntungkan atau dirugikan jika harga beras mahal? Dan, siapa pula yang diuntungkan atau dirugikan jika harga beras murah?

& Komentar

  1. Darminto berkata,

    Juni 14, 2009 pada 2:59 pm

    Manusia bisa mengubah batas alam asal berusaha dan berdoa.
    Saya adalah warga purwoharjo.

    • kembaratani berkata,

      Juni 14, 2009 pada 8:17 pm

      Betul Mas Darminto, untuk itulah informasi ini saya sebarkan dengan harapan, kiranya akan ada kontribusi bagi sinergi multi pihak untuk sama-sama berusaha dan berdo’a “merubah” batas alam. Salam untuk Warga Purwoharjo, lama sekali saya tidak mampir kesana.


Tulis sebuah Komentar