Garuda, …
Aku melihat sunyi menari-nari di hatinya.
Ada kerinduan yang dalam bergelayut di jiwanya.
Ada harapan untuk membasuh rindu itu,
dan mengusir sunyi yang merayapi tepi-tepi pematang.
Tapi, …..
pada siapa tangan dilambaikan,
nada didendangkan dan suara diserukan.
Sederet tanya yang hanya mampu mereka jawab
dengan paduan bunyi palu dan pahatan beradu dengan batu.
“Benarkah memahat asa tak harus di Jantung Kota ?”
Hening semakin lirih bersama angin yang menyingkap rumbia.
Garuda, …
Mutiara itu masih saja terpendam, terinjak, …..
dan bahkan terlangkahi saat mereka pergi meninggalkan desanya.
Bunyi palu dan pahat yang beradu dengan batu, …..
terdengar sayup ditelan kelengangan ladang.
Putihnya batu-batu itu tak menyilaukan mata mereka, ….
atau mungkin juga malah tak mereka lihat.
Sementara Elang di angkasa terus berputar-putar dan sesekali menyambar.
Tak ada kurungan untuk berlindung, …..
bahkan kini tak ada lagi dedaunan rimbun yang jadi pelindung.
Satu-satu hilang diterkam Elang, ….
tanpa daya dan bahkan hampir tanpa upaya.

