Agum Gumelar dan Jurus Katak Berenang
8 Desember 2011 at 11:07 am (Catatan Kembara Tani)
Pada suatu kesempatan dalam sebuah forum terbatas, Kang Agum Gumelar bercerita tentang detik-detik terakhir ‘kejatuhan’ Gus Dur. Tepatnya, saat Gus Dur ingin mengeluarkan Dekrit Presiden. Dari sekian banyak kalimat, ada satu kalimat yang membuat saya terhenyak dan lantas dicatat baik-baik dalam hati. Kalimat itu pun lantas menjadi pegangan saya selama ini.
Waktu itu Kang Agum mengatakan, “Prajurit yang baik selalu berupaya keras agar pimpinannya tidak salah mengambil langkah !”. Kalimat yang sepertinya biasa saja, namun jika direnungkan dan diresapi dengan hati, justru inilah pangkal dari ‘lestarinya’ sebuah sistem yang dipandang menyengsarakan rakyat banyak. Ketidak beranian seorang prajurit (baca: bawahan) untuk mengingatkan pimpinannya, oleh karena alasan apapun, merupakan penyakit yang biasa di banyak institusi. Barangkali, termasuk institusi negara sekali pun, termasuk tentunya BUMN.
Baca entri selengkapnya »
Lampu Kuning bagi Paradigma Implementasi PHBM
8 Desember 2011 at 11:05 am (Catatan Kembara Tani)
Pada sekitar pertengahan tahun 2000 (kalo tidak salah), atas ijin Pak Sis (Siswono Yudhohusodo, saat itu Ketua Umum HKTI), saya menemui Pak Bambang Adji di kantor Perhutani. Maksudnya, mengkomunikasikan “curhat” teman-teman petani penggarap lahan hutan negara yang dikelola oleh Perhutani. Plus, desakan temen-temen penggiat Land reform yang memandang hutan sebagai objek yang juga harus di redistribusikan.
Saat itu, Pak Bambang Adji tengah semangat menggarap coorporate image Perhutani, menahan gempuran atmosphere reformasi yang (ada juga) menghendaki Perhutani dibubarkan. Saya berkesempatan mendengarkan dan menyimak strategi yang tengah beliau susun untuk itu. Salah satunya, implementasi PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat). Baca entri selengkapnya »
Inpres No 16 Tahun 2011 Tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran hutan dan Lahan
3 Desember 2011 at 8:26 am (Catatan Kembara Tani)
Dalam rangka Peningkatan Pengendalian Kebakaran hutan dan Lahan, Presiden SBY telah mengeluarkan Inpres No 16 Tahun 2011 Tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran hutan dan Lahan. Inpres yang dikeluarkan pada tanggal 30 November 2011 ini menginstruksikan kepada 9 menteri, jaksa Agung, Panglima TNI, Kapolri, Kepala BNPB, para gubernur dan bupati/walikota.
Lebih lengkapnya, silahkan untuk Download dokumen ini, semoga bermanfaat.
Salam.
NOTA OPINI PERHUTANI WATCH
15 September 2011 at 9:37 pm (NOTA OPINI) (Hutan Jawa, kembaratani, Perhutani, Perhutani Watch)
PRESS REALESE
NOTA OPINI PERHUTANI WATCH
UNIT KERJA KHUSUS LSM MEDIA PEDULI LINGKUNGAN
( M E P E L I N G )
______________________________________________
Pemerintah harus Lebih Serius Mencermati Hutan Negara
Dalam Pengelolaan BUMN Kehutanan Perum Perhutani
Didasari niat luhur dan tulus untuk turut serta membangun, menjaga dan melestarikan sumberdaya hutan, khususnya di P. Jawa dan Madura, maka kami sampaikan kepada masyarakat luas Nota Opini kami, tentang Perlunya Mencermati lebih serius Pengelolaan Hutan Negara oleh BUMN Kehutanan Perum Perhutani.
1. Lembaga Swadaya Masyarakat “Media Peduli Lingkungan”, selanjutnya disebut MEPELING, adalah lembaga idependen yang mendedikasikan aktivitasnya untuk berpartisipasi dalam pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan. Didirikan berdasarkan Akta Notaris Amir Hussein, SH. Nomor 29, Tahun 2002. Secara khusus, MEPELING mendirikan Unit Kerja bernama Perhutani Watch dengan maksud turut serta membangun, menjaga dan melestarikan sumberdaya hutan dalam pengelolaan BUMN Kehutanan Perum Perhutani.
2. Keberadaan hutan negara di P. Jawa memiliki peran dan fungsi strategis bagi kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia. Pasalnya, P. Jawa dihuni oleh lebih dari 60 % penduduk Indonesia, sementara luasnya hanya sekitar 6 % saja dari luas seluruh wilayah NKRI. Oleh karenanya, kondisi hutan Jawa sebagai sistem penyokong kehidupan masyarakat Jawa (suporting life system), harus menjadi tanggung jawab seluruh warga bangsa, khususnya masyarakat yang tinggal di Jawa. Secara sederhana dapat disebutkan bahwa baik burukya kondisi hutan Jawa, akan sangat berpengaruh terhadap baik buruknya kondisi kehidupan masyarakat yang tinggal di Jawa. Baca entri selengkapnya »
Optimalisasi Fungsi Intelijen Perhutani
10 Mei 2011 at 12:53 pm (Catatan Kembara Tani, NOTA OPINI) (Desa Hutan, Hutan, intelijen, kembaratani, Perhutani)
Demo “Nyasar”
Seorang teman bertanya tentang “deteksi dini potensi konflik”, kalimat yang saya tulis untuk menjawab komentar Mas Paidjo Herman di tautan saya tentang demo salah alamat di KPH Balapulang. Saya mencoba mencari kalimat yang sederhana, untuk menjelaskan apa dan bagaimana “deteksi dini potensi konflik” ini. Maksudnya, agar tidak perlu menyentuh kata “intelijen” yang saya sadari masih menggambarkan hal yang “khusus dan tabu” dibenak masyarakat. Tapi, isinya malah bias dan saya khawatir akan melenceng dari maksud saya, sehingga apa boleh buat sekalian berbagi opini saja tentang fungsi yang satu ini. Baca entri selengkapnya »
Perubahan Iklim dan Nasib Petani (3)
9 Mei 2011 at 11:16 am (Catatan Kembara Tani, Perubahan Iklim) (kembaratani, pemanasan global, Pertanian, perubahan iklim, Petani)
Kerentanan sektor pertanian terhadap bahaya kekeringan
Tingkat kerentanan lahan pertanian terhadap kekeringan cukup bervariasi antar-wilayah dan hal ini menunjukkan bahwa lahan sawah di beberapa wilayah di Sumatera dan Jawa rentan terhadap bahaya kekeringan (Tabel 3.1). Dari 5,14 juta ha lahan sawah yang dievaluasi, 74 ribu ha di antaranya sangat rentan dan sekitar satu juta ha rentan terhadap kekeringan (Wahyunto, 2005).
Dalam periode 1991-2006, luas tanaman padi yang dilanda kekeringan berkisar antara 28.580-867.930 ha per tahun dan puso 4.614-192.331 ha (Direktorat Perlindungan Tanaman, 2007). Kekeringan yang lebih luas terjadi pada tahun-tahun El Nino. Baca entri selengkapnya »
Perubahan Iklim dan Nasib Petani (2)
9 Mei 2011 at 11:07 am (Catatan Kembara Tani, Perubahan Iklim) (kembaratani, pemanasan global, Pertanian, perubahan iklim, Petani)
Sektor pertanian berperan penting dalam kehidupan dan perekonomian nasional, terutama sebagai penghasil utama bahan pangan, bahan baku industri dan bioenergi. Sektor pertanian juga mengasilkan jasa lingkungan dan berbagai fungsi lainnya seperti penyedia lapangan kerja bagi sekitar 40% angkatan kerja Indonesia, penyumbang pertumbuhan ekonomi, menjaga ketahanan pangan, memberikan kesegaran dan keindahan di pedesaan (rural amenity), dan menjaga tata air daerah aliran sungai (Yoshida, 2001; OECD, 2001; EOM dan KANG, 2001; Chen, 2001; Agus et al., 2006).
Multifungsi lahan sawah di DAS Citarum, Jawa Barat, diperkirakan bernilai 51% dari nilai gabah yang dihasilkan di DAS tersebut (Agus et al., 2003). Perubahan iklim dapat mempengaruhi sektor pertanian, baik sebagai penghasil barang yang dapat dipasarkan maupun sebagai penghasil berbagai jasa. (Bappenas, 2010)
Seanjutnya disebutkan, dalam lima tahun terakhir sektor pertanian berhasil meningkatkan produksi padi dari 54,1 juta ton GKG pada tahun 2004 menjadi 60,3 juta ton GKG pada 2008 atau meningkat rata-rata 2,8% per tahun, bahkan laju peningkatan produksi padi dalam tiga tahun terakhir (2006-2008) mencapai 5,2% per tahun. Kenaikan produksi ini menjadikan Indonesia kembali berswasembada beras pada tahun 2008.
Selain padi, produksi jagung dan kedelai juga mengalami peningkatan masing-masing sebesar 9,5% dan 3,14% per tahun (Ditjen Tanaman Pangan, 2009; Apryantono, et al. 2009). Namun tanaman pangan pada umumnya paling rentan terhadap hampir semua komponen perubahan iklim, sehingga upaya adaptasi sangat diperlukan. Baca entri selengkapnya »

